Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

Kritikan Ilmiah Terhadap Buku DRMAZA: Bidaah Hasanah Istilah Yang Disalah Fahami Bab 2 (Bahagian III)

Kesimpulan yang premature (cacat) dari Dr Mohd Asri Zainal Abidin dalam memahami konsep bid’ah yang dipaparkan para ulama Syafi’iyyah bahkan salah paham terhadap konsep istilah bid’ah yang diutarakan asy-Syathibi. Pada bahagian ini, anda akan melihat bukti itu..



Dr Maza mengatakan :
Ketika mensyarahkan hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ.

Daripada Abi Hurairah radhiallahu 'anh, daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, baginda bersabda: “Jangan kamu mengkhususkan malam Jumaat dengan solat yang berbeza dengan malam-malam yang lain. Jangan kamu mengkhususkan hari Jumaat dengan puasa yang berbeza dengan hari-hari yang lain kecuali ia dalam (bilangan hari) puasa yang seseorang kamu berpuasa.”[24]

al-Imam al-Nawawi rahimahullah berkata: [25]

Pada hadith ini larangan yang nyata bagi mengkhususkan malam Jumaat dengan sesuatu solat yang tiada pada malam-malam yang lain dan puasa pada siangnya seperti yang telah dinyatakan. Sepakat para ulama akan kemakruhannya. Para ulama berhujah dengan hadith ini mengenai kesalahan solat bid‘ah yang dinamakan Solat al-Raghaib[26]. Semoga Allah memusnahkan pemalsu dan pereka solat ini. Ini kerana sesungguhnya ia adalah bid‘ah yang munkar daripada jenis bid‘ah yang sesat dan jahil. Padanya kemunkaran yang nyata. Sesungguhnya sejumlah para ulama telah mengarang karangan yang berharga sebegitu banyak dalam memburukkannya dan menghukum sesat orang menunaikan solat tersebut dan perekanya. Para ulama telah menyebut dalil-dalil keburukannya, kebatilannya dan kesesatan pembuatnya.

Perhatikan bahawa al-Imam al-Nawawi rahimahullah tidak menamakan solat sunat yang tidak wujud dalam hadith sebagai Bid‘ah Hasanah. Bahkan beliau menghukum sebagai sesat. Ketika ditanya mengenai solat ini (Solat al-Raghaib), al-Imam al-Nawawi pernah berkata:

Bid‘ah yang buruk lagi sangat munkar… jangan terpengaruh dengan ramai yang melakukannya di banyak negeri. Juga jangan terpengaruh disebabkan ia disebut dalam Qut al-Qulub dan Ihya ‘Ulum al-Din.[27]



Kami jawab :


Wahai doctor, anda mengklaim imam Nawawi tidak mengakui adanya bid’ah hasanah dengan nash beliau tentang sholat Raghaib, maka ini suatu argumentasi dan hujjah yang sempit dan dangkal dalam melihat konsep bid’ah yang dipahami oleh imam Nawawi sendiri serta ulama syafi’’iyyah lainnya.

Ketahuilah wahai doctor..


Pertama : Memang sholat Raghaib jumhur ulama menghukuminya bid’ah mungkarah walaupun ada sebagian ulama yang membolehkannya. Namun bukan berarti imam Nawawi, imam Izzuddin bin Abdus salam yang menghukumi bid’ah atas sholat tersebut, meniadakan pemahaman beliau terhadap adanya bid’ah yang baik atau bid’ah hasanah. Pandangan bid’ah dalam sholat Raghaib yang beliau hukumi, karena memang beliau memandang sudah layak divonis bid’ah mungkarah disebabkan menyelisihi asal dalam syare’at.

Namun sekali lagi, beliau dan ulama syafi’iyya lainnya tetap meyakini adanya bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik yang tidak menyelisihi kaidah dalam agama.


Kedua : Perlu anda ketahui, hadits itu menunjukkan bahwa larangan mengkhususkan puasa di hari jum’at dan sholat di malam Jum’at. Menurut Ibnu Bas (ulama wahabi) yang dimaksudkan adalah tidak boleh melakukan puasa atau sholat dengan meyakini kekhususan di siang atau malam Jum’at. Yakni melakukan puasa atau sholat karena hari Jum’at dengan meyakini keutamaan hari jum’at. Maka seandainya seseorang melakukan puasa atau sholat bukan karena mengkhusukan hari Jum’at, maka itu diperbolehkan. Simak fatwa Ibnu Bas berikut ini :

إذا صادف يوم الجمعة يوم عرفة فصامه المسلم وحده فلا بأس بذلك ، لأن هذا الرجل صامه لأنه يوم عرفة لا لأنه يوم جمعة ، وكذلك لو كان عليه قضاء من رمضان ولا يتسنى له فراغ إلا يوم الجمعة فإنه لا حرج عليه أن يفرده ، وذلك لأنه يوم فراغه ، وكذلك لو صادف يوم الجمعة يوم عاشوراء فإنه لا حرج عليه أن يفرده لأنه صامه لأنه يوم عاشوراء ، لا لأنه يوم الجمعة ، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( لا تَخْتَصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ ، ولا لَيْلَتها بِقِيَامٍ ) . فنص على التخصيص ، أي على أن يفعل الإنسان ذلك لخصوص يوم الجمعة أو ليلتها .

“ Jika hari Jum’at bertepatan dengan hari ‘Arafah, lalu seorang muslim berpuasa di hari itu, maka hal itu tidaklah mengapa, karena orang ini berpuasa karena hari ‘Arafah bukan karena hari Jum’at. Demikian juga seandainya dia punya hutang puasa Ramadhan, dan ia tidak memiliki waktu yang sempat kecuali hari Jum’at, maka ini pun tidak ada masalah ia berpuasa di hari Jum’at saja. Karena itu hari di mana ia sempat. Demikian juga seandainya hari Jum’at bertepatan hari ‘Asyura, maka tidak mengapa ia berpuasa di hari Jum’at itu saja, karena ia berpuasa sebab hari Asyura-nya bukan hari Jum’atnya. Oleh sebab itu Nabi bersabda “Jangan kamu mengkhususkan hari Jum’at dengan puasa, dan jangan kamu mengkhususkan malam Jum’at dengan sholat “. Beliau menash dengan takhsish (pengkhususan) maksudnya seseorang melakukan hal itu karena kekhususan hari dan malam Jum’at “.[1]


Ketiga : Apa yang dilakukan sebagian kaum awam di malam Jum’at bulan Rajab, bukanlah meniatkan sholat Raghaib melainkan mereka berniat sholat tasbih atau sholat sunnah muthlaq. Dan ini tidak masuk dalam larangan hadits di atas dan juga tidak masuk dalam kebid’ahan sholat raghaib. Dan mayoritas kami mengetahui bahwa sholat raghaib memang dilarang oleh mayoritas ulama karena dianggap bid’ah yang buruk.


Keempat : Adanya vonis bid’ah pada sholat raghaib dari para ulama Syafi’iyyah atau ulama madzhab lainnya, bukan berarti bahwa pemahaman mereka terhadap bid’ah hasanah itu tidak ada. Ini suatu penyimpulan yang premature..


Di artikel sebelumnya telah saya buktikan bahwa imam Izzuddin bin Abdissalam dan imam Nawawi melegalkan bid’ah hasanah sesuai konsep yang mereka ta’rifkan. Dan dalam artikel ini saya akan membuktikan kembali jika anda masih belum puas..


Imam Nawawi mengatakan :

قال العلماء : ويستحب نقط المصحف وشكله فانه صيانة من اللحن فيه وتصحيفه وأما كراهة الشعبي و النخعي النقط فانما كرهاه في ذلك الزمان خوفا من التغيير فيه وقد أمن ذلك اليوم فلا منع ولا يمتنع من ذلك لكونه محدثا فانه من المحدثات الحسنة فلم يمنع منه كنظائره مثل تصنيف العلم وبناء المدارس والرباطات وغير ذلك والله أعلم

“ Berkata Ulama, “ Dan dianjurkan menaruh titik dan harakat pada huruf Mushaf, karena itu menjaga dari kekeliruan makna dan maksudnya. Adapun penghukuman makruh dari asy-Sya’bi dan an-Nakhoi terhadap menaruh titik, maka sesungguhnya mereka berdua menghukumi makruh pada masa itu saja karena ditakutkan dari perubahan. Dan sungguh sekarang ini sudah aman dari hal itu, maka tidak ada halangan untuk menaruh titik pada mushaf karena statusnya adalah perkara baru dari perkara-perkara baru yang baik (bid’ah hasanah), maka hal itu tidak boleh dilarang seperti semisalnya dari mengarang bidang ilmu, membangun madrasah dan ribath, wa Allahu A’lam. “[2]


Dengan jelas imam Nawawi menakui adanya bid’ah hasanah dalam nash beliau tersebut. Bahkan beliau mengatakan bawha bid’ah atau muhdats (perkara baru) yang baik tidak boleh dilarang.


Dalam kitab yang lain disebutkan :

خاتمة : اجتماع الناس بعد العصر للدعاء كما يفعله أهل عرفة ، قال الإمام أحمد : لا بأس به ؛ وكرهه الإمام مالك ، وفعله الحسن وسبقه ابن عباس . قال النووي : وهو بدعة حسنة

“ Berkumpulnya manusia setelah asar untuk berdoa sebagaimana yang dilakukan oleh penduduk ‘Arafah menurut Imam Ahmad tidaklah mengapa. Namun Imam Malik memakruhkan hal itu. Dan Hasan Basri dan Ibn Abbas melakukan hal itu. Sementara Imam Nawawi mengatakan bahwa perbuatan itu adalah bid’ah hasanah “.[3]


Masihkah anda menutup mata dari realita kebenaran ini wahai doctor ??


Dr Maza mengatakan :
Dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (المجموع شرح المهذب), al-Imam al-Nawawi rahimahullah menyetujui tokoh-tokoh mazhab al-Syafi’i yang membantah jamuan atau kenduri sempena kematian. Katanya:

“Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai kepadanya adalah tidak diriwayatkan daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedikit pun. Ia adalah bid‘ah yang tidak disukai.”

al-Imam al-Nawawi tidak menamakan amalan penyediaan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai padanya sebagai satu Bid‘ah Hasanah. Bahkan kitab-kitab mazhab al-Syafi’i begitu kuat menentang hal ini.

Kami Jawab :


Anda kurang teliti memahami teks imam Nawawi tersebut. Cuba perhatikan :
وأما إصلاح أهل الميت طعاماً، وجمع الناس عليه، فلم ينقل فيه شيء، وهو بدعة غير مستحبة
“Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai kepadanya adalah tidak diriwayatkan daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedikit pun. Ia adalah bid‘ah yang tidak disukai.”[4]


Pertama : Ini juga merupakan bukti bahwa imam Nawawi mengakui adanya pembagian bid’ah. Karena dalam teks itu beliau menyebutnya bid’ah ghoir mustahabbah yang artinya bid’ah yang tidak dianjurkan, maka mafhumnya ada bid’ah yang mustahabbah atau mandubah (bid’ah yang dianjurkan), ini sudah sesuai dengan konsep pembagian bidah yang telah beliau jelaskan sebelumnya.


Kedua : Apa yang dikatakan oleh imam Nawawi tidak dilakukan oleh kaum muslimin yang mengadakan kenduri atau tahlilan, karena dalam fakta tradisi yang selama ini dilakukan adalah ketika ada orang meninggal, maka para tetangga baik dekat maupun jauh dating berbondong-bondong membawa aneka macam kebutuhan, seperti beras, gula, kopi, ikan, sayuran, dan semacamnya bahkan keluarga si mati menyiapkan (menyediakan) suatu tempat besar semisal baskom di halaman rumahnya untuk menampung bantuan para tetangganya yang datang berupa uang.


Kemudian bantuan-bantuan tersebut digunakan oleh keluarga si mati untuk makanan atau hidangan orang yang berkumpul untuk ta’ziyah atau tahlilan. Maka dengan demikian praktek ini tidaklah masuk dalam fatwa imam Nawawi dan jelas tidaklah terlarang karena tidak bertentangan dengan hadits-hadits masalah ini.


Dr Maza mengatakan :
al-Imam al-Sayuti (السيوطي) telah menulis kitab khas berhubung dengan bid‘ah yang berjudul al-Amr bi al-Ittiba’ wa al-Nahy ‘an al-Ibtida’ (الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع) Di dalamnya beliau menyebut maksud Bid‘ah Hasanah, katanya:

Bid‘ah Hasanah disepakati keharusan membuatnya. Juga disunatkan demi mengharapkan pahala bagi sesiapa yang baik niatnya. Iaitu setiap pembuatan bid‘ah yang bertepatan dengan kaidah-kaidah syarak tanpa menyanggahinya sedikit pun. Perbuatannya tidak menyebabkan larangan syarak. Ini seperti membina mimbar, benteng pertahanan, sekolah, rumah (singgahan) musafir dan sebagainya yang terdiri dari jenis-jenis kebaikan yang tidak ada pada zaman awal Islam. Ini kerana ia bertepatan dengan apa yang dibawa oleh syariat yang memerintahkan membuat yang ma’ruf, tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.[31]

Seperti yang telah dinyatakan sebelum ini, apa yang disebut di atas tidak sepatutnya dinamakan bid‘ah sama sekali. Bahkan ia termasuk dalam perkara-perkara yang disuruh dalam agama. Namun persoalan yang lebih penting adalah, apakah al-Imam al-Sayuti rahimahullah akan menganggap sesetengah perbuatan yang dianggap Bid‘ah Hasanah pada hari ini sebagai satu Bid‘ah Hasanah? Untuk memastikan hal ini marilah kita lihat beberapa contoh:

Kami jawab :


Ini hanya persepsi sempit anda saja yang begitu sulit memahami perbdaan lafaz dalam ta’rif bid’ah oleh para ulama mayoritas dan ta’rif bid’ah dari asy-Syathibi dan para pendukungnya.


Pada artikel bahagian pertama dan kedua telah saya jelaskan dengan detail, gambling dan komprehensip tentang ta’rif bid’ah di kalangan ulama. Perbedaan ta’rif asy-Syathibi dan mayoritas ulama adalah hanyalah terjadi pada lafaz atau I stilah saja, adapun makna dan subtansinya sama dan tidak berbeda. Yang perlu anda ingat dan pahami dengan benar adalah bahwa imam asy-Syathibi setuju dan mengakui adanya perkara baru yang berlandaskan syare’at yang boleh di amalkan, entah itu berhukum sunnah, wajib, atau mubah semua ini adalah baik (hasanah).


Cuba anda renungkan ucapan asy-Syathibi berikut ini :

وصار من القائلين بالمصالح المرسلة، وسماها بدعاً في اللفظ، كما سمى عمر رضي الله عنه الجمع في قيام رمضان في المسجد بدعة

“ Dan ia (Ibnu Abdissalam) termasuk orang yang mengatakan dengan masalah mursalah dan ia menamakannya bid’ah secara bahasa, sebagaimana Umar radhiallahu ‘anhu menamakan kumpulan dalam sholat tarawih di bulan Ramadhan dengan bid’ah “[5]


Perhatikan dengan baik, beliau mengatakan bahwa apa yang disebut sebagai bid’ah yang terpuji (baik) oleh imam Izzuddin bin Abdus Salam adalah Maslahah Mursalah atau Bid’ah dalam segi lafaz (bahasa) . Ini menunjukkan bahwa beliau menerima perkara baru yang berlandaskan syare’at. Sebagaimana pemahaman kami selama ini, bezanya kami menyebutnya bid’ah hasanah sedangkan asy-Syathibi menyebutnya sebagai Maslahah Mursalah atau Bid’ah lughatan.


Dr Maza mengatakan :

Sebagaimana al-Imam al-Nawawi dan lain-lain tokoh, al-Imam al-Sayuti turut menolak solat sunat Raghaib. Beliau berkata:[32]

Ketahuilah olehmu, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya membesarkan hari tersebut dan malamnya (hari dan malam Jumaat pertama bulan Rejab) hanya perkara baru yang dibuat dalam Islam selepas 400 tahun. Diriwayatkan mengenainya hadith yang palsu dengan sepakat ulama yang mengandungi kelebihan berpuasa pada siangnya dan bersolat pada malamnya. Mereka menamakan solat Raghaib … Ketahuilah sesungguhnya solat yang bid‘ah ini menyanggahi kaedah-kaedah Islam dalam beberapa bentuk.

Perhatikan bahawa al-Imam al-Sayuti rahimahullah tidak menamakan solat ini sebagai Bid‘ah Hasanah sekalipun ia disebut dalam beberapa kitab seperti Ihya ‘Ulum al-Din. Jika setiap yang dianggap baik dilabelkan sebagai Bid‘ah Hasanah maka solat ini juga patut dianggap Bid‘ah Hasanah. Namun mengada-adakan perkara baru dalam cara ibadah bukanlah Bid‘ah Hasanah.

Kami jawab :


Jawaban kami atas ini sama dengan jawaban kami sebelumnya bahwa adanya vonis bid’ah pada sholat raghaib dari para ulama Syafi’iyyah atau ulama madzhab lainnya, bukan berarti bahwa pemahaman mereka terhadap bid’ah hasanah itu tidak ada. Ini suatu penyimpulan yang premature..


Dar Maza mengatakan :
Berkata al-Imam al-Sayuti rahimahullah ketika membantah amalan Nisfu Sya’ban :

Apa yang memuliakan bulan Sya’ban ialah amalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada kebanyakan harinya. Hadith-hadith Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan athar para sahabat yang diriwayatkan menunjukkan ia malam yang ada kelebihan, (namun) tiada padanya solat yang khusus.

Jelas bahawa solat sunat khusus bersempena Nisfu Sya’ban tidak dianggap oleh al-Imam al-Sayuti sebagai Bid‘ah Hasanah.


Kami jawab :


Jawaban kami atas ini sama dengan jawaban kami sebelumnya bahwa adanya vonis bid’ah pada sholat di malam Nishfu Sya’ban dari para ulama Syafi’iyyah atau ulama madzhab lainnya, bukan berarti bahwa pemahaman mereka terhadap bid’ah hasanah itu tidak ada. Ini suatu penyimpulan yang premature..


Wahai doctor, satu fakta dan realita yang saya akan ketengahkan ke wajah anda adalah bagaimana dengan fatwa Ibnu Taimiyyah yang mengatakan bahwa ada sebagian ulam salaf yang mengkhususkan sholat di malam Nishfu Sya’ban, bagaimana pendapat anda ?? perhatikan pengakuan Ibnu Taimiyyah berikut :


وليلة النصف من شعبان قد روي في فضلها من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي أنّها مفضلة، وإن من السلف من كان يخصها بالصلاة فيها ، وصوم شهر شعبان قد جاءت فيه أحاديث صحيحة

“ Dan malam Nisfhu Sya’ban maka sungguh telah diriwayatkan tentang keutamaannya dari hadits dan atsar marfu’ yang menjelaskan keutamaannya, dan sesungguhnya dari ulama salaf ada yang mengkhususkan malam itu dengan sholat, dan puasa bulan Sya’ban telah dating hadits-hadits sahihnya “.[6]


Dalam kitab Majmu’ beliau mengatakan :

إذا صلى الإنسان ليلة النصف وحده أو في جماعة خاصّة كما كان يفعل طوائف من السلف فهو حسن
“ Jika seseorang melakukan sholat di malam Nishfu Sya’ban sendirian atau berjama’ah khusus, sebagaimana dilakukan oleh sekelompok ulama salaf, maka itu adalah baik “. [7]


Ibnu Utsaimin juga mengatakan :

ومن هذا الباب ليلة النصف من شعبان روي في فضلها أحاديث ومن السلف من يخصها بالقيام ومن العلماء من السلف وغيرهم من أنكر فضلها وطعن في الأحاديث الواردة فيها، لكن الذي عليه كثير من أهل العلم أو أكثرهم على تفضيلها (مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين: 7| 156)

“ Dari bab ini, malam Nisfhu Sya’ban diriwayatkan tentang keutamaanya beberapa hadits dan di antara ulama salaf ada yang mengkhususkannya dengan sholat. Dan juga dari ulama salaf dan selain mereka ada yang mencurigai hadits-hadits yang dating di dalamnya, akan tetapi yang dipegang mayoritas ulama adalah adanya keutamaan Nisfhu Sya’ban “[8]


Wahai doctor, apakah Ibnu Tamiyyah dan Ibnu Utsaimin anda akan katakan bahwa mereka berdua mengakui atau menetapkan adanya bid’ah hasanah hanya karena anda melihat pandangannya dalam masalah ini ??


Salah satu bukti imam Suyuthi pecinta bid’ah hasanah adalah :

Dalam kitab Al-Hawi Lil Fatawi, Imam Suyuthi menukil kalam Ibn Hajar, bahwa maulid Nabi adalah bid’ah hasanah.

وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل أحمد بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه : أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها ، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة

“ Syekh Islam Ibn Hajar ditanya mengenai amalan maulid Nabi. Beliau menjawab : “ Pada dasarnya Maulid Nabi adalah bid’ah. Tidak ada riwayat mengenai mauled dari salaf sholih sejak kurun tiga hijriyah akan tetapi mauled memuat kebaikan dan keburukan. Barang siapa menjaga amalan baik saat mengamalkan mauled dan menjauhi hal sebaliknya, maka mauled adalah bid’ah hasanah “.[9]


Dr Maza mengatakan :
Berkata al-Imam al-Sayuti rahimahullah berkenaan melafazkan niat sebelum solat:[34]

… Daripada bid‘ah (yang saiyyah) itu adalah, was-was dalam niat solat. Itu bukan daripada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat baginda. Mereka tidak pernah melafaz sedikit pun niat solat melainkan hanya (terus) takbir. Allah telah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya bagi kamu pada Rasulullah itu contoh yang baik.” [al-Ahzab 33:21]

Walaupun sesetengah pihak ada yang berpendapat menyebut lafaz niat dalam solat sebagai Bid‘ah Hasanah, namun tokoh mazhab al-Syafi’i yang terkenal ini tidak menganggapnya sedemikian. Ini kerana ia adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mahupun para sahabat baginda.


Kami jawab :

 Pertama : Kitab al-Amr biil ittiba’ wa an-Nahyu ‘anil ibtida’, penisbatannya kepada imam Suyuthi masih diragukan sebagian ulama, karena banyak sekali pertentangan dengan kitab beliau yang masyhur dan ma’ruf yaitu al-Haawi lil Fataawi dan kitab-kitab beliau lainnya yang sudah masyhur. Contoh, dalam kitab al-Amr biil ittiba’ wa an-Nahyu ‘anil ibtida’, disebutkan bahwa mengangkat kedua tangan ketika berdoa itu bid’ah. Padahal di kitab-kitab beliau lainnya mengatakan itu sunnah bahkan beliau sendiri sampai mengarang sebuah kitab berjudul “ Fadhdhul Wi’aa fi Ahaditsi Raf’il Yadain Fiddua’. Dalam muqaddimah kitab ini beliau mengatakan :

وبعد : فقد بلغنى عن بعض انه قال ليس فى رفع اليدين فى الدعاء حديث صحيح فعجبت بذلك فان الاحاديث غير مشهورة بل متواترة كثيرة المسالك جمعتها في هذا الجزء لينتفع بعا من يقف عليها ولا يتكلم
في السنة النبوية بغير علم من لم تصل رتبته عليها

“ wa ba’du : sungguh telah sampai padaku dari sebagian orang yang mengatakan bahwa di dalam mengangkat kedua tangan dalam beroda itu tidak ada hadits sahihnya, aku heran padanya dengan pernyataannya itu, karena sesungguhnya hadits-hadits bukan masyhur bahkan hdits mutawatir yang sangat banyak pandangannya yang telah aku kumpulkan dalam bagian kitab ini agar menjadi manfaat bagi orang yang mempelajarinya dan tidak berkata tentang sunnah Nabi tanpa ilmu orang yang telah mencapai derajatnya untuk itu “.


Kedua : pemahman beliau tentang bid’ah hasanah tidaklah dilanggranya, hanya Dr Maza dan kaum wahabi saja yang tidak bisa menangkap konsep yang diutarakan imam Suyuthi tentang bid’ah hasanah. Di antara bukti beliau melegalisir bid’ah hasanah sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya yaitu melegalkan maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau sampai mengarang sebuah Risalah untuk membela Maulid Nabi shallahi ‘alaihi wa sallam yang beliau kasih judul “ Husnil Maqshid fii ‘Amalil Maulid “


Ketiga : Masalah melafazkan niat, ulama memang berbeda pendapat, ada yang menganjrukannya, ada yang memakruhkannya bahkan ada yang mewajibkannya. Imam Syafi’i termasuk yang melakukan lafaz dengan niat :

Ibnu al-Muqri berkata :

أخبرنا ابن خزيمة، حدثنا الربيع، قال: كان الشافعي إذا أراد أن يدخل في الصلاة، قال: "بسم الله، موجها لبيت الله، مؤديا لفرض الله، الله أكبر

“ Telah mengabarkan pada kami Ibnu Khuzaimah, telah menceritakan padak kami ar-Rabi’, ia berkata, “ Imam Syafi’i jika hendak memasuki sholat, maka beliau mengucapkan : “ Bsimillah, aku menghadap ke baitullah, melaksanakan kewajiban Allah, Allahu Akbar “.[10]


Apakah anda akan mengatakan imam Syaf’i telah melakukan bid’ah dholalah dan sesat wahai doctor ??


Dr Maza mengatakan :
Kesimpulan Perbincangan

Perbincangan kita di atas secara jelas menunjukkan telah berlaku salah faham di kalangan masyarakat, termasuk di kalangan para penceramah dan agamawan, terhadap istilah Bid‘ah Hasanah yang digunakan oleh para tokoh mazhab al-Syafi’i rahimahumullah. Apa yang dimaksudkan oleh para tokoh tersebut adalah jauh berbeza. Oleh itu adalah wajar untuk merujuk semula kepada apa yang ditulis oleh tokoh-tokoh ini.



Kami jawab :


Wahai doctor, andalah yang tanpa sadar telah salah memahami nash para ulama Syafi’iyyah tentang konsep bid’ah hasanah yang mereka jelaskan, bahkan anda telah salah memahami nash asy-Syathibi ketika menjelaskan bid’ah dalam segi bahasa sebagaiman telah kami buktikan secara detail, objkektif dan ilmiyyah. Maka tampaklah kecerobohan anda dalam memberikan kesimpulan yang premature ini..


Bersambung ke Bab 3 bahagian I …






[1] Majmu’ Fatawa Ibn Bas : 15/414
[2] At-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran : 107
[3] Hasyiah al-Bujairami ‘ala al-Khathib : 2/226
[4] al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, jld. 5, m.s. 320.
[5] al-I’tishom, m.s. 145-146
[6] Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim : 302
[7] Majmu’ al-Fatawa : 23/231
[8] Majmu Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin : 7/156
[9] Al-Hawi Lil Fatawi Juz 1 hlm 188
[10] Al-Mu’jam : 336

Kritikan Ilmiah Terhadap Buku DRMAZA: Bidaah Hasanah Istilah Yang Disalah Fahami Bab 2 (Bahagian II)

Pada bahagian ini, kami akan menjawab syubhat Dr Maza yang tidak memahami nash para ulama syafi’iyyah terhadap persoalan khilafiyyah yang bersifat juz’i atau particual. Sehingga ia salah paham dalam menangkap bid’ah hasanah yang dikait-kaitkannya dengan memaksakan pemahamannya sendiri.
 Dr Maza mengatakan :
Perbahasan Ucapan al-Imam ‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam rahimahullah (660H)[12]

Dalam kitabnya Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam
(قواعد الأحكام في مصالح الأنام) al-Imam ‘Izz Abd al-Salam rahimahullah membahagikan bid‘ah kepada lima kategori:[13]

1.      Bid‘ah Wajibah (bid‘ah wajib),

2.      Bid‘ah Muharramah (bid‘ah yang diharamkan),

3.      Bid‘ah Mandubah (bid‘ah yang disunatkan),

4.      Bid‘ah Makruhah (bid‘ah makruh) dan

5.      Bid‘ah Mubahah (bid‘ah yang diharuskan).

Beliau mungkin orang yang paling awal membuat pembahagian ini. Sebenarnya faktor utama yang menyebabkan beliau menyebut bid‘ah dalam pembahagian yang sedemikian merujuk kepada ta’rif bid‘ah yang disebutnya pada awal buku tersebut yang merangkumi bid‘ah dari segi syarak dan bahasa. Buktinya beliau menyebut ta’rif bid‘ah dengan berkata:

البدعة فعل ما لم يعهَدْ في عصر رسول الله
Bid‘ah adalah perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasulullah.

 Ta’rif beliau begitu luas merangkumi perkara ibadah, cara baru dalam syarak dan urusan keduniaan yang tidak membabitkan penambahan syarak. Sedangkan bid‘ah dari segi syarak hanya tertumpu dalam persoalan cara taqarrub (menghampirkan diri kepada Allah melalui ibadah) dan perubahan atau penambahan pada jalan syarak.

Kami jawab :
Wahai doctor, imam al-Izz bin Abdissalam adalah seorang yang diakui oleh para ulama semasa dan sesudahnya sebagai ulama yang menguasai segala disiplin ilmu, sebagaimana di katakan oleh imam Nawawi :

قال الشيخ الإمام المجمع على إمامته وجلالته وتمكنه في أنواع العلوم وبراعته أبو محمد عبد العزيز بن عبد السلام رحمه الله ورضي عنه

“ Telah berkata syaikh, al-Imam yang disepakati keimamannya dan keagungannya serta penguasaanya di dalam berbagai macam disiplin ilmu dan ketajaman pikirannya yaitu Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdussalam, semoga Allah merahmatinya dan meridhainya “[1]

Beliau sangat paham dan mengerti betul apa yang beliau jelaskan tentang pembagian bid’ahnya. Pembagian bid’ah menjadi lima bahagian yang beliau lakukan adalah merupakan penjelasan lebih detail (syarh tafshil) dari pembagian bid’ah yang dilakukan imam Syafi’i rahimahullah. Ketika imam Syafi’i menta’rif bid’ah, beliau mengatakan :

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ الأُمُورِ ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا , أَوْ سَنَةً , أَوْ أَثَرًا , أَوْ إِجْمَاعًا , فَهَذِهِ لَبِدْعَةُ الضَّلالَةِ . وَالثَّانِيةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لا خِلافَ فِيهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا , فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُومَةٍ , وَقَدْ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي قِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ : " نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
“Hal baru terbagi menjadi dua, pertama apa yang bertentangan dengan Al Quran, Sunah, atsar, dan ijma, maka inilah bid`ah dholalah. Yang kedua adalah hal baru dari kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari yang telah disebut, maka tidak ada khilaf bagi seorangpun mengenainya bahwa hal baru ini tidak tercela, sungguh Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu telah berkata tentang sholat tarawih, “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini ”.[2]


Pembagian bid’ah yang dilakukan imam Syafi’i menjadi bid’ah dhalalah (sesat) dan bid’ah ghoir madzmumah (tidak tercela) lebih diperinci dan diperjelas kembali oleh imam al-Izz bin Abdis salam, yakni bahwa bid’ah jika ditimbang dengan kaidah syare’at maka akan masuk pada hukum Islam yang lima yaitu bid’ah wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah.


Penjelasan imam Syafi’i dan imam al-Izz bin Abdissalam, merupakan bukti bahwa hadits bid’ah yang datang secara umum (‘amm) telah ada hadits-hadits sahih lainnya yang mentakhshishnya (membatasinya). Demikian juga hal ini dipahami oleh imam Nawawi, sehingga beliau memperjas kembali :


قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ" هذَا عَامٌ مَخْصُوْصٌ وَاْلمُرَادُ بِهِ غَاِلبُ اْلبِدَعِ".ا.هـ

“ Sabda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam: “ Kullu Bid’ah dhalalah ” ini adalah 'Amm Makhshush; (lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya). Dan yang dimaksud adalah sebagian besar bid’ah (itu sesat bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)”.[3]


Kemudian imam Nawawi membagi bid’ah secara terperinci menjadi lima sebagaimana imam al-Izz bin Abdis salam dan menyebutkan contoh-contohnya. Setelah itu beliau mengatakan :


 "فَإِذَا عُرِفَ مَا ذَكَرْتُهُ عُلِمَ أَنَّ اْلحَدِيْثَ مِنَ اْلعَامِّ الْمَخْصُوْصِ، وَكَذَا مَا أَشْبَهَهُ مِنَ اْلأَحَادِيْثِ اْلوَارِدَةِ، َويُؤَيِّدُ مَا قُلْنَاهُ قَوْلُ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فيِ التَرَاوِيْحِ: "نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ"


“ Jika telah dipahami apa yang telah aku tuturkan, maka dapat diketahui bahwa hadits ini termasuk hadits umum yang telah dikhususkan (jangkauannya terbatas). Demikian juga dengan beberapa hadits yang serupa dengan ini. Apa yang saya katakan ini didukung oleh perkataan Umar ibn al-Khaththab tentang shalat Tarawih, beliau berkata: “Ia (Shalat Tarawih dengan berjama’ah) adalah sebaik-baiknya bid’ah ”. [4]


Imam syafi’i dan imam Nawawi menggunakan takshshish dengan ucapan sayyidina Umar “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “, karena kedua imam besar ini paham bahwa apa yang dilakukan oleh sayyidina Umar adsalah bid’ah (perkara baru) yang belum pernah dilakukan oleh Nabi dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sehingga dari sini kedua imam ini beristidlal bahwa tidak semua perkara baru itu konotasinya selalu bid’ah dholalah, melainkan ada bid’ah yang tidak tercela yakni segala perkara baru yng tidak bertentangan dengan landasan syare’at.
 Dr Maza mengatakan :

Ta’rif yang begitu luas tersebut menyebabkan beliau membuat pembahagian ke atas maksud bid‘ah sepertimana di atas. Oleh itu kita dapati ketika menyentuh tentang Bid‘ah Wajibah (bid‘ah wajib) beliau berkata:

Bagi bid‘ah wajib itu beberapa contoh, salah satu daripadanya ialah menyibukkan diri dengan ilmu nahu yang dengannya difahami kalam Allah (firman Allah, iaitu al-Qur’an)  dan kalam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (sabda Rasulullah, iaitu hadis).

Berdasarkan penjelasan al-Imam al-Syatibi rahimahullah yang telah kita kaji sebelum ini, jelas bahawa ini tidak termasuk dalam bid‘ah dari segi syarak. Marilah kita ulangi apa yang disebut oleh al-Imam al-Syatibi :

Dengan ikatan ini maka terpisahlah (tidak dinamakan bid‘ah) segala yang jelas –walaupun bagi orang biasa – rekaan yang mempunyai kaitan dengan agama seperti ilmu nahu, saraf, mufradat bahasa, Usul al-Fiqh, Usul al-Din dan segala ilmu yang berkhidmat untuk syariat. Segala ilmu ini sekalipun tiada pada zaman yang awal tetapi asas-asasnya ada dalam syarak… Justeru itu tidak wajar sama sekali dinamakan ilmu nahu dan selainnya daripada ilmu lisan, ilmu usul atau apa yang menyerupainya yang terdiri daripada ilmu-ilmu yang berkhidmat untuk syariat sebagai bid‘ah. Sesiapa yang menamakannya bid‘ah, sama ada atas dasar majaz (bahasa) seperti ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anh yang menamakan “bid‘ah” solat orang ramai pada malam-malam Ramadhan atau atas dasar kejahilan dalam membezakan sunnah dan bid‘ah, maka pendapatnya tidak boleh dikira dan dipegang.


Kami jawab :


Wahai doctor, dalam artikel pertama dan kedua begitu jelas saya paparkan makna bid’ah dan pembagian yang dimaksudkan oleh mayoritas ulama. Dan ternyata persoalan hanya terjadi pada perbedaan dari sudut penamaan atau istilah saja, sedangkan subtansi maknanya sama, tidak berbeda. Jika pembagian bid’ah wajibah yang dijelaskan dan dicontohkan oleh imam al-Izz bin Abdis salam anda masukkan dalam kategori bid’ah secara bahasa sebgaimana keterangan asy-Syathibi, maka itu tidak ada masalah bagi kami. Karena pada intinya imam asy-Syathibi setuju dan mengakui adanya perkara baru yang berlandaskan syare’at yang boleh di amalkan, entah itu berhukum sunnah, wajib, atau mubah semua ini adalah baik (hasanah).


Couba anda renungkan kembali ta’rif dari asy-Syathibi yang anda naqalkan sebelumnya :

طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه
“ Jalan yang direka di dalam agama, yang menyerupai syariah, tujuan mengamalkannya untuk berlebihan dalam mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.”

Sekarang jika anda pahami ta’rif asy-Syathibi secara mafhumnya artinya lawan dari bid’ah yakni bukan bid’ah, maka menjadi :
طريقة في الدين مخترعة لا تضاهي الشرعية لم يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه
“ Jalan yang direka di dalam agama, yang tidak menyerupai syariah, tidak bertujuan mengamalkannya untuk berlebihan dalam mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.”
Dalam kesempatan lainnya asy-Syathibi mengatakan :
الطريقة المخترعة في الدين تضاهي الشرعية يقصد بها التقرب إلى الله ولم يقم على صحنها دليل شرعي صحيح أصلا ً أو وصفا
“ Jalan baru dalam agama yang menyerupai syare’at, tujuan mengamalkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan tidak ada dalil syare’atnya yang sahih secara asal atau sifat untuk mengabsahkannya “

Jika kita baca mafhumnya maka :
الطريقة المخترعة في الدين لا تضاهي الشرعية يقصد بها التقرب إلى الله و يقام على صحنها دليل شرعي صحيح أصلا ً أو وصفا
“ Jalan baru dalam agama yang tidak menyerupai syare’at, tujuan mengamalkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan ada dalil syare’atnya yang sahih secara asal atau sifat untuk mengabsahkannya “
Maka ini tidak disebut bid’ah. Demikianlah apa yang dikatakan oleh imam Syafi’i, Nawawi dan al-Izz bin Abdus salam, bahwa segala perkara baru yang memiliki landasan dalam syare’atnya, tidak disebut sebagai bid’ah dholalah melainkan bid’ah ghoir madzmumah. Ini tidak jauh berbeda dengan ta’rif asy-Syathibi akan tetapi hanya beda dalam lafaznya atau istilahnya saja.

Saya akan naqal kembali ucapan Ibnu Rajab al-Hanbali supaya anda paham dan tidak lupa :
وأمّا ما وقع في كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنّما ذلك في البدع اللغوية لا الشرعية، فمن ذلك قول عمر رضي الله عنه لمّا جمع النّاس في قيام رمضان على إمام واحد في المسجد، وخرج ورآهم يصلون كذلك، فقال: نعمت البدعة هذه

“ Dan adapun apa yang terjadi pada ucapan ulama salaf dari menganggap baik (hasanah) pada sebagian bid’ah, maka sesungguhnya itu hanyalah dalam bid’ah segi bahasa saja bukan segi syar’iyyah. Di antara contoh hal itu adalah ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu ketika mengumpulkan manusia untuk mendirikan sholat malam di bulan Ramadhan pada satu imam di dalam masjid, beliau keluar dan melihat mereka sholat seperti itu, maka beliau berkata “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “. [5]


Peringatan (tanbih) :

- Imam asy-Syathibi menolak pembagian bid’ah menjadi mahmudah dan madzmumah. Akan tetapi beliau malah membagi bid’ah madzmumah menjadi dua bagian yaitu bid’ah Muharramah dan bid’ah makruhah, sebagaimana ia katakan dalam al-I’tishamnya :

فإذا خرج عن هذا التقسيم ثلاثة أقسام : قسم الوجوب ، وقسم الندب ، وقسم الإباحة ، انحصر النظر فيما بقي وهو الذي ثبت من التقسيم ، غير أنه ورد النهي عنها على وجه واحد ، ونسبته إلى الضلالة واحدة ، في قوله : إياكم ومحدثات الأمور ، فإن كل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار وهذا عام في كل بدعة  فيقع السؤال : هل لها حكم واحد أم لا ؟ فنقول : ثبت في الأصول أن الأحكام الشرعية خمسة ، نخرج عنها الثلاثة ، فيبقى حكم الكراهية وحكم التحريم ، فاقتضى النظر انقسام البدع إلى القسمين ، فمنها بدعة محرمة ، ومنها بدعة مكروهة ، وذلك أنها داخلة تحت جنس المنهيات وهي لا
تعدو الكراهة والتحريم ، فالبدع كذلك ، هذا وجه

 “ Jika pembagian tiga ini telah keluar yakni bagian wajib, bagian mubah dan bagian mubah, maka terfokuslah pandangan pada sisanya yaitu yang tetap pembagiannya akan tetapi telah datang pelarangannya dengan cara “ Waspadalah, terhadap perkara-perkara baru, Karena setiap bid’ah itu adalah satu dan menisbatkannya pada kesesatan itu satu dalam hadits yang berbunyi “ Dholalah, dan setiap dholalah itu di neraka “, ini sudah umum di dalam bid’ah. Maka tinggal satu pertanyaan : “ Apakah dia (bid’ah) hanya memiliki satu hokum saja ? “, maka kami jawab, “ Telah menjadi tetap dalam ushul bahwa hokum-hukum syare’at itu ada lima, keluar darinya tiga bahagian, dan tinggal dua bahagian yaitu hokum mmakruh dan hokum haram, maka suatu keharusan (kewajiban) pandangan untuk membagi bid’ah tersebut menjadi dua bahagian yaitu bid’ah makruh dan bid’ah haram. Demikianlah bid’ah seperti itu. “[6]


Komentar kami :


Imam Syathibi menolak pembagian bid’ah menjadi bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah, akan tetapi ia membagi bid’ah (yang madzmumah) menjadi dua bagian bid’ah yaitu bid’ah makruhah dan bid’ah muharramah.


- Tahukah anda wahai doctor, bahwa hujjah anda membawakan pendapat asy-Syathibi, ternyata beliau pun menurut anda dan kaum wahabi adalah sesat karena telah melakukan bid’ah yang parah, bid’ah dalam aqidah yaitu mengikuti akidah Asy’ariyyah dan ahli kalam dalam masalah ayat shifat.


Nashir bin Hamd al-Fahd dalam karyanya al-i’laam bi al-Muwaaqaatwal al-‘ithisham halaman 6 mengatakan :

“ Sikap asy-Syathibi di dalam memperingatkan bid’ah amaliah (bid’ah ibadah) dan menjelaskan mafsadatnya serta menganjurkan keras untuk berpegang teguh dengan sunnah, adalah sikap yang sangat baik, akan tetapi di samping itu beliau malah terjerumus dalam bid’ah akidah asy’ariyyah dan ahli kalam dalam masalah shifat, qadar dan lainnya “.


Bukankah itu berarti anda mengambil hujjah dari pelaku bid’ah (imam asy-Syathibi, dan bukankah bagi kaum wahabi dilarang mengambil hujjah pelaku bid’ah ??
Dr Maza mengatakan :
Maksud al-Imam al-Syatibi, jika ada dalil yang menunjukkan sesuatu perkara itu adalah wajib atau sunat, maka tidak wajar ia dinamakan bid‘ah. Lebih tegas lagi, al-Imam al-Syatibi menganggap pembahagian itu sendiri adalah bid‘ah.

Kami jawab :


Wahai doctor, apa yang dijelaskan ulama kami semisal al-Izz bin Abdus salam, imam Nawawi, al-Hafifz Ibnu Hajar dan lainnya, adalah merupakan penjelasan detail dari pembagian bid’ah yang dilakukan imam Syafi’I dan para ulama besar lainnya.


Kita sepakat bahwa bid’ah dalam syare’at itu tercela dan wajib kita jauhi. Akan tetapi kami membagi perkara baru menjadi dua bagian sebagaimana pemahaman imam Syafi’i yaitu perkara baru yang tercela dan perkara baru yang terpuji. Kami menyebutnya ini dengan bid’ah dholalah dan bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah. Adapun imam Syathibi tidak mau menyebut perkara baru itu dengan bid’ah sebab jika perkara baru itu berlandaskan asal dalam syare’at, itu tidak bisa disebut bid’ah melainkan sunnah atau bisA juga maslahah mursalah. Perhatikan ucapan asy-Syathibi berikut yang membenarkan penamaan bid’ah secara bahasa :

وصار من القائلين بالمصالح المرسلة، وسماها بدعاً في اللفظ، كما سمى عمر رضي الله عنه الجمع في قيام رمضان في المسجد بدعة
“ Dan ia (Ibnu Abdissalam) termasuk orang yang mengatakan dengan masalah mursalah dan ia menamakannya bid’ah secara bahasa, sebagaimana Umar radhiallahu ‘anhu menamakan kumpulan dalam sholat tarawih di bulan Ramadhan dengan bid’ah “[7]


Bagi kami sama saja karena intinya imam Syathibi mengakui bahwa ada perkara baru yang boleh diterima dan diamalkan jika telah sesuai dengan asal dalam syare’at. Ini berarti, apa yang kami amalkan dan kami anggap sebagai bid’ah hasanah, maka dalam pandangan asy-Syathibi bukanlah bid’ah syar’iyyah melainkan bid’ah lughowiyyah atau sunnah. Ini yang perlu anda renungkan wahai doctor..


Dr Maza mengatakan :
al-Imam al-Nawawi dalam kitabnya Tahzib al-Asma` wa al-Lughat (تهذيب الأسماء واللغات) mengulangi dan menyetujui pembahagian yang dibuat oleh al-Imam al-‘Izz ‘Abd al-Salam rahimahullah. Untuk menguatkannya, beliau menambah dalam tulisannya itu apa yang dibahagikan oleh al-Imam al-Syafi’i rahimahullah seperti disebutkan sebelum ini.[19]
Jawapan kita terhadap perkara ini sama seperti yang telah disebutkan di atas. Jika diteliti karya-karya al-Imam al-Nawawi rahimahullah, beliau tidak pernah menganggap Bid‘ah Hasanah sebagaimana yang disangka oleh orang ramai masa kini. Di sini dinyatakan beberapa contoh:
Pertama:
Di dalam kitabnya al-Azkar, al-Imam al-Nawawi rahimahullah menyebut:[20]
Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-Salaf al-Salih radhiallahu 'anhum ialah diam ketika mengiringi jenazah. Jangan diangkat suara dengan bacaan, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, iaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. Itulah yang dituntut dalam keadaan tersebut. Inilah cara yang betul. Jangan kamu terpengaruh dengan banyaknya orang yang menyanggahinya.
Sesungguhnya Abu ‘Ali al-Fudail bin ‘Iyad rahimahullah pernah berkata: “Berpegang dengan jalan petunjuk, jangan engkau tewas disebabkan sedikit yang melaluinya. Jauhilah jalan yang sesat. Jangan engkau terpengaruh dengan banyaknya golongan yang rosak (yang melakukannya).”
…… Adapun apa yang dilakukan oleh golongan jahil di Damsyik, iaitu melanjutkan bacaan al-Quran dan bacaan yang lain ke atas jenazah dan bercakap perkara yang tiada kaitan, ini adalah haram dengan ijma’ ulama. Sesungguhnya aku telah jelaskan dalam bab Adab al-Qiraah tentang keburukannya, besar keharamannya dan kefasikannnya bagi sesiapa yang mampu mengingkarinya tetapi tidak mengingkarinya.

Kami jawab :


Wahai doctor, sekali lagi anda kurang teliti dan cermat memahami ucapan ulama syafi’iyyah ini. Perhatikan :
واعلم أن الصواب والمختار وما كان عليه السلف ـ رضي الله عنهم ـ السكوت في حال السير مع الجِنازة، فلا يُرْفع صوت بقراءة ولا ذكر ولا غير ذلك، والحكمة فيه ظاهرة، وهي أنه أسكن لخاطره وأجمع لفكره فيما تعلق بالجنازة، وهو مطلوب في هذا الحال، فهذا هو الحق ولا تغتر بكثرة من يخالفه
“ Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-Salaf al-Salih radhiallahu 'anhum ialah diam ketika mengiringi jenazah. Jangan diangkat suara dengan bacaan, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, iaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. Itulah yang dituntut dalam keadaan tersebut. Inilah cara yang betul. Jangan kamu terpengaruh dengan banyaknya orang yang menyanggahinya. “


Di mana ucapan beliau bid’ah dholalah wahai doctor ? jika itu bid’ah dholalah sudah pasti dengan tegas imam Nawawi akan menyebutnya secara jelas sebagai bid’ah dholalah.[8]


Seandainya beliau mengatakan itu bid’ah dholalah pun, tetap tidak meruntuhkan keyakinan beliau tentang adanya pembagian bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah.


Yang perlu anda ketahui adalah apakah jika imam Nawawi menghukumi satu masalah dengan bid’ah lantas anda akan member kesimpulan dan persepsi bahwa imam Nawawi anti bid’ah hasanah ? seandainya saya balik kasusnya, apakah jika syaikh wahabi yang bernama syaikh Ibnu Utsaimin, syaikh Jabrin dan Shalih al-Fauzan yang membolehkan penggunaan tasbih untuk berdzikir dan mengatakan itu bukan bid’ah lantas saya katakan bahwa mereka mengakui adanya bid’ah hasanah ?? Apakah jika Ibnu Bas menghukumi boleh terhadap bermajlis atau bekumpul di majlis ta’ziyah lalu minum kopi atau teh di majlis itu, lantas kami akan mengatakan bahwa Ibnu Bas melegalkan (mengakui) bid’ah hasanah ??


Jika anda menjawab : “ Tidak, mereka tidak mengakui bid’ah hasanah, mereka tetap meyakini semua bid’ah itu sesat “. Maka demikian pula imam Nawawi, saat menghukumi suatu perkara adalah bid’ah, maka sudah pasti beliau tidak melepas keyakinan awalnya yaitu meyakini adanya bid’ah hasanah sebagaimana penjelasan kami sebelum-sebelumnya. Renungkan hal ini wahai doctor…


Salah satu contoh keyakinan imam Nawawi adanya pembagian bid’ah menjadi bid’ah mazdmumah (tercela) dan bid’ah mahmudah (terpuji) adalah fatwa beliau ini dan ini juga merupakan bukti bahwa imam al-Izz bin Abdussalam tidak merubah pendiriannya tentang adanya pembagian bid’ah menjadi dua dan bahkan lima :

وأما هذه المصافحة المعتادة بعد صلاتي الصبح والعصر فقد ذكر الشيخ الإمام أبو محمد بن عبد السلام رحمه الله أنها من البدع المباحة ولا توصف بكراهة ولا استحباب وهذا الذي قاله حسن والمختار أن يقال إن صافح من كان معه قبل الصلاة فمباحة كما ذكرنا وان صافح من لم يكن معه قبل الصلاة عند اللقاء فسنة

“ Adapun bersalaman ini yang sudah menjadi tradisi setelah sholat subuh dan ashar, maka syaikh imam Abu Muhammad bin Abdus salam rahimahullah mengatakan itu adalah Bid’ah Mubahah, tidak disifati dengan makruh ataupun anjuran (sunnah). Dan ini apa yang dikatakan oleh beliau adalah bagus, dan pendapat terpilih adalah jika ia bersalaman dengan orang yang bersamanya sebelum sholat, maka hukumnya (bid’ah) mubah sebagaimana telah kami sebutkan, dan jika ia bersalaman dengan orang yang tidak bersamanya sebelum sholat ketika bertemu, maka hukumnya sunnah “.[9]


Dalam penjelasan imam Nawawi itu, disebutkan bahwa imam al Izz bin Abdus salam menghukumi Bid’ah Mubahah orang yang bersalaman setelah sholat subuh dan ashar. Bukti bahwa beliau mengakui adanya pembagian bid’ah. Kemudian setelah itu imam Nawawi menyetujui (sepakat) dengan pendapat imam al-Izz bin Abdus salam bahwa itu hukumnya bid’ah mubah dan beliau memerenci lagi bahwa kalau bersalam dengan orang yang tidak bersamanya sebelum sholat ketika bertemu, maka hukumnya sunnah.


Dr Maza mengatakan :
Dalam Syarh Sahih Muslim,[21] al-Imam al-Nawawi rahimahullah menyebut:[22]
Sesungguhnya yang menjadi sunnah bagi salam dalam solat ialah dengan berkata: السلام عليكم ورحمة الله sebelah kanan, السلام عليكم ورحمة الله sebelah kiri. Tidak disunatkan menambah وبركاته. Sekalipun ia ada disebut dalam hadith dhaif dan diisyaratkan oleh sebahagian ulama. Namun ia adalah satu bid‘ah kerana tidak ada hadith yang sahih (yang menganjurkannya). Bahkan yang sahih dalam hadith ini[23] dan selainnya ialah meninggalkan tambahan itu.
Tidakkah penambahan “waBarakatuh” merupakan satu penambahan yang pada zahirnya nampak baik? Jika Bid‘ah Hasanah ialah melabelkan semua yang nampak baik pada andaian manusia, tentu al-Imam al-Nawawi menamakan ini sebagai Bid‘ah Mustahabbah (yang disunatkan).
Kami jawab :


Sekali lagi kami tanyakan, di mana imam Nawawi mengatakan bid’ah dholalah dalam teksnya itu wahai doctor ? bukankah imam Nawawi telah mentaqyid (membatasi) hadits kullu bid’atin, bahwasanya kebanyakan bid’ah bukan seluruhnya?


Wahai doctor, bagaimana dengan fatwa Ibnu Utsaimin[10] yang yang mengatakan sah dan boleh mengucapkan salam dengan tambahan “ Wabarakaatuh “ dalam sholat ?? apakah anda akan mengatakan Ibnu Utsaimin mengakui adanya bid’ah hasanah ?? juga Ibnu Bas[11] yang memberikan kelapangan dalam hal ini ?? apakah anda akan mengatakan ia mengakui bid’ah hasanah ??





[1] Tahdzib al-Lughat, imam Nawawi :
[2] Al-Hawi lil Fatawaa : 1/176
[3] al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj : 6/154
[4] al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj : 6/155
[5] Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab : 2/128
[6] Al-‘Itisham : 2/36
[7] al-I’tishom, m.s. 145-146
[8] Mengenai hukum berdzikir dengan suara keras saat mengusung janazah, maka para ulama madzhab berbeda pendapat. Jumhur ulama menghukuminya makruh termasuk Ibnu Hajar al-Haitsami, al-Izz bin Abdissalam, an-Nawawi dan lainnya. Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani membolehkannya bahkan menganjurkannya, beliau menaqal ucapan gurunya sayyid Ali al-Khawwash : “ Jika diketahui bahwa para pegantar janazah tidak meninggalkan kelalaian dan sibuk dengan keadaan duniawi, maka sebaiknya kita perintahkan mereka mengucapkan “ Laailaaha illallah Muhammadur rasulullah “ karena yang demikian itu lebih utama daripada diam, dan tidak sebaiknya bagi seorang ahli fiqih mengingkari hal itu kecuali dengan nash atau ijma’. Karena kaum muslimin yang berdzikir itu, memiliki izin secara umum dari syare’at untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah Muhammadurrasulullah setiap waktu kapan saja mereka mau “. (al-Uhud al-Muhammadiyyah)
Sebagian ulama Syafi’iyyah membolehkannya : “ Mengeraskan suara walaupun dengan membaca Quran, dzikir atau sholawat, maka hukumnya makruh, ini jika kita melihat di awal-awal masa. Adapun masa sekarang maka hukumnya boleh karena itu sudah menjadi syi’arnya mayit, seandainya ditinggalkan akan membuat mayit susah “. (al-Iqna’ : 1/178)
Asy-Syaukani mengatakan : “ Tidak mengapa hal itu, karena itu termasuk dzikir yang sunnah di setiap keadaantanpa adanya pandang bulu, masa dan tempat. Adapun semata-mata suara keras, hal itu tidaklah menyebabkan makruh walaupun hukumnya khilaf al-Aula “. (al-Fath ar-Rabbani)
[9] Al-Majmu’, an-Nawawi : 3/488
[10] Lihat fatwanya dalam kitabnya Majmu Fatawa wa Rasail, syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin jilid 13 atau bisa dilihat di link ini : http://ar.islamway.net/fatwa/9137
[11] Lihat fatwanya di sini : http://www.binbaz.org.sa/mat/934

Kritikan Ilmiah Terhadap Buku DRMAZA: Bidaah Hasanah Istilah Yang Disalah Fahami Bab 2 (Bahagian I)

Ini kritikan ilmiyyah kami pada bab 2 (bahagian pertama) atas tulisan Dr Maza yang menulis tentang Bid’ahHasanah, istilah yang disalah pahami.





Dr Maza mengatakan :
Sebelum kita menyelidiki maksud Bid‘ah Hasanah yang disebutkan dalam beberapa teks para ulama, terlebih dahulu kita wajar mendengar peringatan Nabi  shallallahu 'alaihi wasallam berhubung dengan bid‘ah. Sabda baginda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.


Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin (mendapat petunjuk). Berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilah kamu perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah sesat.

Berdasarkan hadith ini, baginda menggunakan perkataan (كلّ) yang bermaksud semua. Berpandukan hadith ini dan kefahaman kita terhadap maksud bid‘ah seperti yang dinyatakan oleh al-Imam al-Syatibi, maka bid‘ah dari segi istilah syarak tidak sepatutnya dibahagikan kepada hasanah (baik) dan saiyyiah (buruk). Yang benar kesemuanya adalah saiyyah dan dhalalah (kesesatan).



Kami Jawab :


Ada dua jawaban ilmiyyah dan objektif  bagi kami atas masalah ini.


Pertama : Benar apa yang dimaksudkan oleh asy-Syathibi al-Maliki jika lafaz kullu dalam hadits tersebut nisbat kepada bid’ah syar’iyyah bukan bid’ah lughowiyyah sebagaimana telah kami jelaskan di artikel bahagian pertama. Maka maksudnya adalah setiap bid’ah secara syar’iyyah itu sesat tapi tidak bid’ah secara lughowiyyah.


Para ulama yang telah saya sebutkan pun, tidak membolehkan bid’ah dalam syare’at. Mereka membagi bid’ah menjadi dua atau menjadi lima hanyalah Dari segi bahasa saja yang disebut oleh asy-Syathibi dengan Maslahah Mursalah atau bid’ah lughatan. Hal ini pun telah dijelaskan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki sebagai berikut  :

ولذلك فإن تقسيم البدعة إلى حسنة وسيئة في مفهومنا ليس إلا للبدعة اللغوية التي هي مجرد الاختراع والإحداث ، ولا نشك جميعاً في أن البدعة بالمعنى الشرعي ليست إلا ضلالة وفتنة مذمومة مردودة مبغوضة ، ولو فهم أولئك المنكرون هذا المعنى لظهر لهم أن محل الاجتماع قريب وموطن النزاع بعيد . وزيادة في التقريب بين الأفهام أرى أن منكري التقسيم إنما ينكرون تقسيم البدعة الشرعية بدليل تقسيمهم البدعة إلى دينية ودنيوية ، واعتبارهم ذلك ضرورة . وأن القائلين بالتقسيم إلى حسنة وسيئة يرون أن هذا إنما هو بالنسبة للبدعة اللغوية لأنهم يقولون : إن الزيادة في الدين والشريعة ضلالة وسيئة كبيرة ، ولا شك في ذلك عندهم فالخلاف شكلي

" karena itu, sesungguhnya pembagian bid'ah pada bid'ah hasanah dan sayyi'ah dalam konsep kita tidak lain kecuali diarahkan untuk bid'ah lughawiyah yang hanya semata-mata kreasi baru (yang tidak bnertentangan dengan al-qur'an dan al-hadits). Kita semua tidak ragu bahwa bid'ah dalam arti syar'iy tidak ada kemungkinan lain kecuali sesat, fitnah, tercela dan tertolak.

Seandainya mereka yang ingkar memahami hal ini, maka akan tampak bagi mereka bahwa ruang dan kesempatan untuk bersatu menjadi dekat dan terbuka dan peluang untuk perselisihan menjadi jauh. Nambah komentar dalam rangka mendekatkan diantara pemahaman yang berkembang, saya berpandangan bahwa kelompok yang mengingkari pembagian bid'ah hanyalah hanyalah dalam konteks pembagian bid'ah syar'iyah dengan bukti mereka terpaksa membagi bid'ah menjadi diniyah dan dunyawiyah.

Kelompok yang membagi bid'ah menjadi hasanah dan sayyi'ah tidak lain diarahkan untuk bid'ah lughawiyah karena mereka berpandangan bahwa menambah agama dan syariat merupakan kesesatan dan kejelekan yang besar. Karena demikian tidak diragukan lagi bahwa perbedaan pendapat yang terjadi hanya pada permasalahan kulit, bukan substansi"[1]


Imam Malik rahimahullah pun sepakat dengan pemahaman ini, bahkan beliau mengakui adanya perkara baru yang baik sebagaimana akan kami jelaskan nanti.


Kedua : hadits di atas datang secara umum, namun banyak sekali hadits-hadits sahih lainnya yang datang sebagai mukhashshih (pembatas)  atas keumuman hadits kullu tersebut atau dalam istilah ushul fiqihnya disebut sebagai عام مخصوص yakni   dikhususkan pada sebagian hal saja yaitu bid`ah yang buruk saja ,sehingga makna dari hadits ini adalah “setiap bid’ah yang buruk itu sesat” .


Karena dalam bahasa arab, kata كُلّ  tidak selalu berarti seluruh, kadang memiliki arti kebanyakan atau sebagian. Pengartian seperti Ini adalah lughat fasih yang banyak terdapat dalam banyak ayat dan hadits diantaranya :


    Al Quran surat Al Kahfi : 79


أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

”Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusak bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang  merampas tiap-tiap bahtera “ Qs. Al Kahfi : 79


Dalam ayat ini meskipun digunakan kata كُل akan tetapi yang dimaksud adalah perahu yang bagus saja, oleh karena itulah Nabi Khidir membuat aib dalam perahu agar tidak dirampas oleh raja tersebut.


    Al Quran surat An Naml 23

إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ
“ Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu dan dia memiliki singasana yang besar”


Ayat ini menceritakan mengenai Ratu Balqis, dalam ayat ini meskipun terdapat kata كُل akan tetapi yang dimaksud adalah sebagian saja, buktinya Ratu Balqis tidak memiliki kerajaan Nabi Sulaiman.

    Hadits riwayat Imam Ahmad :


عَنِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ
Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)


Sekalipun hadits di atas menggunakan kata kullu, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu mata yang melihat kepada ajnabiyah.


Oleh sebab itulah Al-Imam Al-Nawawi menyatakan:

قَوْلُهُ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَا عَامٌّ مَخْصُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ.

“Sabda Nabi SAW, “semua bid’ah adalah sesat”, ini adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Maksud “semua bid’ah itu sesat”, adalah sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan seluruhnya).”[2]


Pembagian bid’ah ini dari segi ‘aam (umum) dan khash (khsusunya) menunjukkan begitu cerdasnya para imam Ahlus sunnah di dalam memahami bid’ah secara akurat, konprehensip dan penuh kebijakan. Inilah solusi yang dari semua kemusykilan yang dialami oleh kaum wahabi di dalam memahami bid’ah. Namun sayangnya mereka enggan menerima solusi ini dan sombong dengan pemahaman dan pendapat mereka sendiri.


Dr Maza mengatakan :
al-Imam Malik bin Anas rahimahullah (179H) berkata:[2]

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة، لأن الله يقول: (اليَومَ أكْمَلْتُ لَكُم دِينَكُمْ) فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا.

“ Sesiapa yang membuat bid‘ah dalam Islam dan menganggapnya baik maka dia telah mendakwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhianati risalah. Ini kerana Allah telah berfirman: “Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu”. Apa yang pada hari tersebut tidak menjadi agama, maka dia tidak menjadi agama pada hari ini. “


Kami jawab :


Yang dimaksudkan oleh imam Malik dalam ucapannya itu adalah bid’ah dalam segi syare’at bukan bid’ah dalam segi bahasa. Sebab beliau juga mengetahui adanya perkara baru (muhdats) dan menganggap baik (hasanah) :

روي محمد بن يحيى عن مالك في المدونة انه قال عن قموت الوتر : انه لحسن وهو محدث لم يكن في زمن ابي بكر وعمر وعثمان

“ Muhammad bin Yahya meriwayatkan dari Malik dalam al-Mudawwanah Sesungguhnya imam Malik mengatakan tentang qunut witir : “ Bahwasanya qunut witir itu baik dan itu adalah muhdats (perkara baru) yang tidak ada pada masa Abu Bakar, Umar dan Utsman “.[3]
Imam al-Qurthubi menegaskan :


كل بدعة صدرت من مخلوق فلا يخلو أن يكون لها أصل في الشرع أولا، فإن كان لها أصل كانت واقعة تحت عموم ما ندب الله إليه وخص رسوله عليه، فهي في حيز المدح وإن لم يكن مثاله موجودا كنوع من الجود والسخاء وفعل المعروف، فهذا فعله من الافعال المحمودة، وإن لم يكن الفاعل قد سبق إليه. ويعضد هذا قول عمر رضي الله عنه: نعمت البدعة هذه، لما كانت من أفعال الخير وداخلة في حيز المدح، وهي وإن كان النبي صلى الله عليه وسلم قد صلاها إلا أنه تركها ولم يحافظ عليها، ولا جمع الناس، عليها، فمحافظة عمر رضي الله عنه عليها، وجمع الناس لها، وندبهم إليها، بدعة لكنها بدعة محمودة ممدوحة. وإن كانت
في خلاف ما أمر لله به ورسوله فهي في حيز الذم والانكار، قال معناه الخطابي وغيره

“ Setiap bid’ah yang datang dari makhluk, maka tidak terlepas dari dua perkara yakni adakalanya memiliki asal dalam syare’at atau tidak ada asalnya. Jika memiliki asal dalam syare’at, maka masuk dalam keumuman apa yang Allah dan Rasul-Nya anjurkan, perkara ini masuk pujian (baik), walaupun belum ada contoh sebelumnya semisal merk (macam/jenis) dari sifat kedermawanan, kemurahan dan pebuatan ma’ruf, maka ini semua ini jika dilakukan adalah termasuk perbuatan terpuji, meskipun belum ada contoh orang yang melakukannya. Hal ini dikuatkan oleh ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “, karena termasuk perbuatan baik dan masuk dalam lingkup pujian. Walaupun sholat terawih ini pernah melakukannya, akan tetapi beliau meninggalkannya dan tidak merutinkannya, tidak pula mengumpulkan manusia untuk itu, maka perhatian Umar atas sholat terawih ini, usaha mengmpulkan orang banyak dan menganjurkannya adalah perkara bid’ah akan tetapi bid’ah mahmudah (terpuji). Dan jika perkara itu menyelisihi apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, maka masuk dalam lingkup celaan dan keingkaran. Demikianlah dikatakan secara makna oleh al-Khaththabi dan selainnya. “[4]


Dari penjelasan ini sudah sangat jelas meskipun beliau menukil dari al-Khaththabi dan selainnya. Namun ditegaskan lagi oleh komentar dan penyimpulan beliau sendiri berikut ini :


قلت: وهو معنى قوله صلى الله عليه وسلم في خطبته: (وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة) يريد ما لم يوافق كتابا أو سنة، أو عمل الصحابة رضي الله عنهم، وقد بين هذا بقوله: (من سن في الاسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ ومن سن في الاسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شئ) وهذا إشارة إلى ما
ابتدع من قبيح وحسن، وهو أصل هذا الباب، وبالله العصمة والتوفيق، لا رب غيره

“ Aku (al-Qurthubi) katakana : “ Itulah makna ucapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya : ( Dan seburu-buruknya perkara adalah perkara barunya dan setiap bid’ah itu sesat ) yang Nabi maksud adalah perkara baru yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunnah atau perbuatan sahabat radhiallahu ‘anhum. Ini sungguh telah Nabi jelaskan dalam sabdanya : “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”, ini adalah isyarat kepada bid’ah yang buruk dan bid’ah yang baik, inilah subtansi dalam bab ini. Dan dengan Allah lah kita mendapat ‘ishmah dan taufiq, tidak ada Rabb selain-Nya “. [5]


Dr Maza mengatakan :
 Perbahasan Bid‘ah Hasanah

Ada beberapa tokoh sarjana Islam, terutamanya tokoh-tokoh mazhab al-Syafi’i, yang telah menyebut dalam kitab-kitab mereka istilah Bid‘ah Hasanah atau yang hampir dengannya, seperti Bid‘ah Mahmudah (بدعة محمودة), bid‘ah wajib, bid‘ah sunat dan bid‘ah harus. Antara tokoh tersebut ialah al-Imam al-Syafi’i (204H), al-Imam al-‘Izz ‘Abd al-Salam (660H), al-Imam al-Nawawi (676H) dan al-Imam al-Sayuti (911H) rahimahumullah.

Akan tetapi apabila diteliti ucapan-ucapan mereka, kita dapati bid‘ah yang mereka maksudkan merujuk kepada Bid‘ah Hasanah dari sudut bahasa, bukan bid‘ah dari segi syarak. Marilah kita mengkaji lebih lanjut ucapan-ucapan mereka :


Kami jawab :


Wahai Dr Mohd Asri, sedikit saja anda mau merenungi perbedaan para ulama dalam mengistilahkan bid’ah, maka niscaya engkau akan mengetahui kebenaran yang begitu terang dalam pemahaman bid’ah yang dirumuskan mayoritas ulama Ahlus sunnah seperti imam Syafi’i, Nawawi, Qurthubi, Suyuthi, Ibnu Hajar dan selain mereka.


Ketahuilah wahai Dr Mohd Asri, memang benar apa yang disebut oleh mereka tentang pembagian bid’ah menjadi bid’ah sayyi’ah dan hasanah atau bid’ah mahmudah dan madzmumah, hanyalah masih dalam lingkup bahasa bukan syare’at sebagaimana telah kami jelaskan dalam artikel kritikan kami yang pertama dengan begitu gamblang dan mudah dipahami.


Ibnu Rajab pun memahami hal ini sebagaimana penjelasan beliau berikut ini :

Ibnu Rajab al-Hanbali berikut ini :

وأمّا ما وقع في كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنّما ذلك في البدع اللغوية لا الشرعية، فمن ذلك قول عمر رضي الله عنه لمّا جمع النّاس في قيام رمضان على إمام واحد في المسجد، وخرج ورآهم يصلون كذلك، فقال: نعمت البدعة هذه

“ Dan adapun apa yang terjadi pada ucapan ulama salaf dari menganggap baik (hasanah) pada sebagian bid’ah, maka sesungguhnya itu hanyalah dalam bid’ah segi bahasa saja bukan segi syar’iyyah. Di antara contoh hal itu adalah ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu ketika mengumpulkan manusia untuk mendirikan sholat malam di bulan Ramadhan pada satu imam di dalam masjid, beliau keluar dan melihat mereka sholat seperti itu, maka beliau berkata “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “. [6]


Andai kaum wahabi mau berlaku isnhaf dengan mengikuti rumusan mayoritas ulama, maka niscaya mereka akan bersikap toleran dan bahkan mengakui dengan segala perkara baru yang baik yang dilakukan mayoritas umat Islam di belahan dunia ini dalam agama mereka. Karena memiliki dalil dan asal dalam syare’at.


Dr. Maza mengatakan :
Antara bukti al-Imam al-Syafi‘i tidak memaksudkan bid‘ah dalam ibadah sebagai Bid‘ah Mahmudah ialah bantahan beliau terhadap golongan yang berterusan dalam berzikir secara kuat selepas solat. Amalan ini dianggap Bid‘ah Hasanah oleh sesetengah pihak.

Ketika mengulas hadith  Ibn ‘Abbas radhiallahu 'anh:

إنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Sesungguhnya mengangkat suara dengan zikir setelah orang ramai selesai solat fardu berlaku pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam… al-Imam al-Syafi’i dalam kitab utamanya al-Umm berkata :

وأختار للامام والمأموم أن يذكرا الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكرَ إلا أن يكون إماما يُحِبُّ أن يتعلّم منه فيجهر حتى يُرى أنه قد تُعُلِّمَ منه ثم يُسِرّ.

“ Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir selepas selesai solat. Hendaklah mereka mensenyapkan zikir kecuali jika imam mahu dipelajari daripadanya (mengajar bacaan-bacaan zikir tersebut), maka ketika itu dikuatkan zikir. Sehinggalah apabila didapati telah dipelajari daripadanya, maka selepas itu hendaklah dia perlahankan. “


Adapun hadith Ibn ‘Abbas di atas, al-Imam al-Syafi’i menjelaskan seperti berikut:

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلّم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم تَهليلٌ ولا تكبير، وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصَفْتُ، ويذكر انصرافَه بلا ذكر، وذكرت أمُّ سلمةَ مُكْثَه ولم يذكر جهرا، وأحسبه لم يَمكُثْ إلاّ ليذكرَ ذكرا غير جهْرٍ. فإن قال قائل: ومثل ماذا؟ قلت: مثل أنه صلّى على المنبر يكون قيامُه وركوعُه عليه وتَقهْقَرَ حتى يسجدَ على الأرض، وأكثر عمره لم يصلّ عليه، ولكنه فيما أرى أحب أن يعلم من لم يكن يراه ممن بَعُد عنه كيف القيامُ والركوعُ والرفع. يُعلّمهم أن في ذلك كله سعة. وأستحبُّ أن يذكر الإمام الله شيئا في مجلسه قدر ما يَتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطولَ من ذلك فلا شيء عليه، وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له.

“Aku berpendapat baginda menguatkan suara (zikir) hanya untuk seketika untuk orang ramai mempelajarinya daripada baginda. Ini kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini[7] atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil [8] dan takbir. Kadang-kala riwayat menyebut baginda berzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadang-kala disebut baginda pergi tanpa zikir. Umm Salamah pula menyebut duduknya baginda[9] (selepas solat) tetapi tidak menyebut baginda berzikir secara kuat. Aku berpendapat baginda tidak duduk melainkan untuk berzikir secara tidak kuat.

Jika seseorang berkata: “Seperti apa?”[10]. Aku katakan, sepertimana baginda pernah bersolat di atas mimbar, yang mana baginda berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian baginda undur ke belakang untuk sujud di atas tanah. Kebanyakan umur baginda, baginda tidak solat di atasnya (mimbar). Akan tetapi aku berpendapat baginda mahu agar sesiapa yang jauh yang tidak melihat baginda dapat mengetahui bagaimana berdiri (dalam solat), rukuk dan bangun (dari rukuk). Baginda ingin mengajar mereka keluasan dalam itu semua.

Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sedikit dengan kadar yang seketika selepas kaum wanita pergi. Ini seperti apa yang Umm Salamah katakan. Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum pula boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia lewatkan sehingga imam pergi, atau bersama imam, itu lebih aku sukai untuknya.”

Nyata sekali al-Imam al-Syafi’i rahimahullah tidak menamakan ini sebagai Bid‘ah Hasanah, sebaliknya beliau berusaha agar kita semua kekal dengan bentuk asal yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya maksud Bid‘ah Mahmudah yang disebut oleh al-Imam al-Syafi’i merangkumi perkara baru dalam cara beribadah yang dianggap baik, sudah tentu beliau akan memasukkan zikir secara kuat selepas solat dalam kategori Bid‘ah Mahmudah. Dengan itu tentu beliau juga tidak akan berusaha menafikannya. Ternyata bukan itu yang dimaksudkan oleh beliau rahimahullah.


Kami jawab :


Menukil ucapan imam Syafi’i akan tetapi menggunting pemahaman yang dimaksud oleh imam Syafi’I ini disebut talbis. Ada dua kemungkinan dalam penyimpulan anda itu : Adakalanya anda tidak menguasai konsep madzhab imam Syafi’i atau anda  sengaja berbohong. Kemungkinan pertama sepertinya lebih tampak bagi anda wahai Doktor...


Pertanyaan untuk anda wahai doctor, di manakah dalam teks al-umm itu yang menyatakan imam Syafi’i menyimpulkan dzikir bil jahr (dengan suara keras) adalah bid’ah tercela dan sesat serta wajib dijauhkan ?? anda tidak akan menemukannya..simak baik-baik penjelasan berikut ini :

باب كلام الامام وجلوسه بعد السلام قال الشافعي قال عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلم من صلاته قام النساء حين يقضى تسليمه ومكث النبي صلى الله عليه وسلم في مكانه يسيرا لكى ينفذ النساء قبل أن يدركهن من انصرف من القوم

“ Bab ucapan imam dan duduknya setelah salam (dalam shalat berjamaah).

1) Al-Syafi’i berkata, dari Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengucapkan salam dari shalatnya, maka kaum wanita pergi ketika beliau selesai salam. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih diam di tempatnya sebentar, agar kaum wanita selesai, sebelum disusul oleh kaum yang pergi (beranjak dari shalat) “.

Komentar kami :


Adakah dalam Sub judul di atas tertulis : “ Bab bid’ahnya mengangkat suara selepas sholat “ ??

Lanjutannya :
قال الشافعي عن ابن عباس قال كنت: أعرف انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير

2) Al-Syafi’i berkata, dari Ibnu Abbas berkata, “Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan suara takbir.”

Komentar kami :


Imam Syafi’i mulai menampilkan dalil mengenai apa yang hendaknya dilakukan oleh imam yakni bertakbir dengan jahr (terdengar makmum).


Lanjutannya :

قال الشافعي عن عبد الله بن الزبير يقول كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلم من صلاته يقول بصوته الاعلى " لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شئ قدير ولا حول ولا قوة إلا بالله ولا نعبد إلا إياه له النعمة وله الفضل وله الثناء الحسن لا إله إلا الله مخلصين له الدين ولو كره الكافرون " (قال الشافعي) وهذا من المباح للامام وغير
المأموم

3) Al-Syafi’i berkata, dari Abdullah bin Zubair, berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila salam dari shalatnya, maka berkata dengan suaranya yang keras, laa ilaaha ilallallaah wahdahu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syay’in qadiir walaa haula wala quwwata illa billaah wala a’budu illa iyyaah lahun ni’matu walahul fahdlu walahu al-tsana’ul hasan laa ilaaha illallaah mukhlishiin lahuddiin walau karihal kaafiruun.” Al-Syafi’i berkata: “Mengeraskan bacaan ini termasuk mubah/boleh bagi imam, selain makmum.”


Komentar kami :


Imam Syafi’i membawakan dalil hadits di atas, untuk menunjukkan bahwa mubah bagi imam (selain makmum) berdzikir dengan suara keras. Jika hal ini merupakan jelas sebuah kesunnahan dari Nabi, kenapa imam Syafi’i tidak mengatakan ini sunnah bagi imam ?? dan tidak mengatakan bid’ah sesat bagi makmum ?? renungkanlah wahai doctor..

Lanjutannya :
قال وأى إمام ذكر الله بما وصفت جهرا أو سرا أو بغيره فحسن

4) Al-Syafi’i berkata, imam siapapun yang berdzikir kepada Allah dengan apa yang aku terangkan atau berbeda, denga suara keras atau pelan, maka itu adalah bagus.


Komentar kami :


Jika seandainya sunnah mengeraskan suara bagi imam atau memelankannya sebagaimana hadits yang dibawakan imam Syafi’i, kenapa beliau tidak mengatakan keduanya adalah sunnah ? ini menunjukkan tanggapan beliau bahwa hal ini masih dalam lingkup ijtihad yang siapapun ulama boleh berbeda pendapat tanpa adanya saling vonis bid’ah apalagi sesat. Berbeda dengan kaum wahabi yang hoby menghukumi bid’ah, sesat dalam masalah khilafiyyah furu’iyyah seperti anda ini wahabi doctor..


Lanjutannya :
وأختار للامام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماما يجب أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه ثم يسر

5) Aku memilih bagi imam dan makmum untuk berdzikir kepada Allah setelah berpaling dari shalat, dan menyamarkan dzikir. Kecuali apabila ia seorang imam yang ingin dipelajari dzikirnya, maka ia mengeraskan sampai melihat bahwa orang telah benar-benar belajar darinya, kemudian memelankan.


Komentar kami :


Dalam teks ini, imam Syafi’i menggunakan lafaz Akhtaaru (aku memilih) dalam ilmu fiqih ini adalah lafaz yang digunakan untuk menunjukkan apa yang dipilih seorang ahli fiqih di antara banyaknya pendapat-pendapat yang berbeda dalam istilah fiqih disebut dengan shighat tarjih. Dalam arti lain ada pendapat lain yang berbeda dengan pendapat imam Syafi’i tersebut, dan beliau lebih memilih pendapat yang diutarakannya itu. Artinya beliau masih memberi kebebasan kepada yang lainnya untuk berbeda pendapat dari beliau. Bukan menyalahkan apalgi membid’ahkan pendapat lainnya sebagaimana kesalahan pemahaman oleh Dr Maza di dalam memahami teks imam Syafi’i ini.


Lanjutannya :
(قال الشافعي) وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلم الناس منه ذلك

6) Al-Syafi’i berkata: “Aku mengira, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengeraskan suaranya sedikit, agar orang-orang belajar darinya hal itu.”


Komentar kami :


Perhatikan ucapan imam Syafi’i di atas, beliau menggunakan lafaz dzhan (sangkaan) “ Aku mengira “. Ini bukan lah suatu kepastian dari beliau. Artinya beliau menduga (belum pasti dan tidak yakin) bahwa Rasulullah mengeraskan suaranya sedikit (tidak terlalu keras) untuk diikuti oleh para sahabatnya.


Lanjutannya :

واستحب أن يذكر الامام الله شيئا في مجلسه قدر ما يتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطول من ذلك فلا شئ عليه

7) Aku menganjurkan agar imam berdzikir kepada Allah di majlisnya sekedarnya, kira-kira orang-orang perempuan yang pergi dapat maju sedikit sebagaimana dikatakan oleh Ummu Salamah, kemudian imam berdiri (pergi). Dan apabila ia pergi sebelum itu, atau duduk lebih lama lagi, maka tidak ada apa-apa baginya.

Lanjutannya :

وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له


8) Makmum boleh pergi apabila imam selesai shalat, sebelum berdirinya imam. Dan ia mengakhirkan hal itu sehingga ia pergi setelah perginya imam, atau bersamanya, lebih aku sukai.

Lanjutannya :

وأستحب للمصلى منفردا وللمأموم أن يطيل الذكر بعد الصلاة ويكثر الدعاء رجاء الاجابة بعد المكتوبة


9) Aku menganjurkan bagi orang yang shalat sendirian, dan bagi makmum agar berlama-lama dzikir setelah shalat dan banyak berdoa, karena mengharap terkabulnya doa setelah shalat maktubah (fardhu). [7]


Komentar kami :


Wahai doctor, di manakah ucapan imam Syafi’i dalam teks beliau itu yang menyatakan bahwa dzikir dengan suara keras setelah sholat adalah bid’ah dholalah ?? atau bukan bid’ah hasanah ??


Beliau sama sekali tidak menyinggung masalah bid’ah dalam bab fiqih ini, karena beliau paham bahwa ini masuk masalah ijtihadiyyah yang tidak boleh ditabdi’ (divonis bid’ah) bagi orang yang salah dalam berijtihad. Sebaiknya anda belajar lagi bab fiqih dan ushulnya wahai doctor…


Asy-Syathibi mengatakan :


إن جماعة من السلف الصالح جعلوا اختلاف الأمة في الفروع ضربًا من ضروب الرحمة، وإذا كان من جملة الرحمة، فلا يمكن أن يكون صاحبه خارجًا من قسم أهل الرحمة

“ Sesungguhnya sekelompok ulama salaf, menjadikan perbedaan umat dalam furu’ bahagian dari rahmat, jika hal itu termasuk rahmat, maka tidak mungkin orang yang berbeda pendapat keluar dari ahli rahmat “.[8]


Dan ternyata imam Syafi’I juga melakukan bid’ah hasanah, beliau menciptakan redaksi sholawat yang tidak diucapkan Nabi atau pun sahabat. Berikut redaksinya :

فصلَّى الله على نبيِّنا مُحَمَّدٍ كلَّما ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ، وغَفَل عن ذِكْرِهِ الغافِلُونَ . وصلَّى الله عليه في الأوَّلين والآخرين، أفضلَ وأكثرَ وأزكى ما صلَّى على أَحَدٍ من خَلْقِـهِ

Menurut keterangan beberapa ulama, imam Syafi’i selain menulisnya di kitab ar-Risalahnya, beliau juga mengamalkannya.


Imam Nawawi mengatakan :


وَقَدْ يُسْتَأْنَسُ لَهُ بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْتَعْمِلُ هَذِهِ الْعِبَارَةَ، وَلَعَلَّهُ أَوَّلُ مَنْ اسْتَعْمَلَهَا
“ Di ate;ah mendengar bahwa imam Syafi’i radhiallahu ‘anhu konon menggunakan teks tersebut, dan bahkan mungkin beliau orang pertama yang menggunakan shigat sholawat tersebut “.[9]






[1] Mafahim Yajibnu an Tushashshia, Sayyid Muhammad al-Maliki : 114
[2] Syarh Shahih Muslim, 6/154
[3] Al-Hawadits wa al-Bida’, ath-Thurthusyi : 48
[4] Tafisr al-Qurthubi : 2/84
[5] Tafisr al-Qurthubi : 2/84-85
[6] Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab : 2/128
[7]Al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, al-Umm, 1/150-151, dengan disederhanakan

[8] Al-I’tisham : 2/170
[9] Asna al-Mathalib : 1/108

Analisis Ringkas Tarikh Kelahiran Nabi SAW

 Para ulama sejarah memang berbeda pendapat mengenai tarikh kelahiran Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.


Ibnu Sa’ad mengatakan Nabi lahir tanggal 2 Rabi’ul Awwal[1], demikian juga pendapat al-Ya’qubi[2], Ibnul Jauzi[3] dan az-Zarqani[4].


Ada sebagian ulama yang berpendapat tanggal 8 Rabi’ul Awwal, seperti Ibnu Abdil Barr[5], Ibnu Sayyidinnas[6], Ibnu Hajar al-Haitsami[7] dan al-Qastalani mengklaim bahwa ini pendapat kebanyakan ulama hadits[8]


Sebagian ulama berpendapat tanggal 10 Rabi’ul Awwal, riwayat dari al-Waqidi yang disebutkan Ibnu al-wardi dalam tarikhnya[9], disebutkan juga oleh Ibnu Katsir[10] dari Ibnu Dihyah dan Ibnu ‘Asakir, disebutkan juga oleh Ibnu Sa’ad[11] dari jalan Muhammad bin Umar bin Waqid al-Aslami.


Ada ulama berpendapat tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan ini pendapat mayoritas ulama ahli sejarah seperti Ibnu Ishaq[12] juga Abi Hatim Ibnu Hibban, [13] demikian juga Ibnu Khaldun[14], juga Ibnu Sayyidinaas[15].


وقد روي من طريق سلمة بن الفضل عن ابن إسحاق , قال ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الإثنين عام الفيل لاثنتي عشرة ليلة مضت من شهرربيع الأول

“ Sungguh diriwayatkan dari jalan Salmah bin al-Fadhl dari Ibnu Ishaq, ia berkata “ Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan hari senin tahun gajah tanggal 12 Rabi’ul Awwal “[16]


وعن زبير بن بكار عن معروف بن خربوذ وغيره من أهل العلم قالوا : ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم
عام الفيل , وسميت قريش" آل الله " وعظمت في العرب ولد لاثنتي عشرة ليلة مضت من ربيع الأول

“ Dari Zubair bin Bakkar dari Ma’ruf bin Kharbudz dan selainnya dari ulama, mereka berkata : “ Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan tahun gajah, bangsa Qursaiy menamainya dengan Aalullah, dan diagungkkan oleh bangsa Arab, lahir tanggal 12 Rabi’ul Awwal “[17]


Syaikh Muhammad Abu Zahrah mengatakan :


إن الجمهرة العظمى من علماء الرواية أن مولده عليه الصلاة والسلام في ربيع الأول من عام الفيل في ليلة الثاني عشرمنه وذاك لأن الفيل وجيشه ساروا مكة في المحرم وولد النبي صلى الله عليه وسلم بعد مقدم الفيل بخمسين يوماً, وبذلك جمع الأكثرون على أنه ولد بعد مساورة جيش أبرهة بخمسين يوماً

“ Sesungguhnya mayoritas ulama dari ahli sejarah sepakat bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan di bulan Rabiul Awwal tahun gajah tanggal 12, karena gajah dan bala tentaranya mendatangi kota Makkah di bulan Muharram, sedangkan Nabi dilahirkan setelah kedatangan gajah 50 harinya, oleh sebab itu mayoritas ulama sepakat bahwa Nabi lahir setelah kedatangan pasukan Abrahah 50 hari “.[18]


Ada sebagian ulama lagi berpendapat tanggal 18 Rabi’ul Awwal, ini pendapat jumhur lagi masyhur sebagaimana dinukil Ibnu Katsir[19]


Jumhur ulama mengatakan Nabi lahir pada tanggal 20 April 571 Masehi. Jika kita hitung dengan cara mengconvert tanggal, bulan dan tahun Masehi menjadi tanggal, bulan dan tahun Hijriyyah menggunakan alat convert tanggal secara Online, maka didapati sebagai berikut :


   
 





Yaitu menjadi tanggal 8,9 dan 10 Rabi’ul Awwal, hari Senin tahun 571 Hijriyyah dengan minus 52 tahun padahal Nabi Hijrah pada umur 53 tahun. Alat covert ini pun tidak bisa dijadikan pegangan, karena hitungan belum tentu akurat dan serasi dengan perselisihan hari antara masehi dan qamariyyah.


Adapun ucapan Ibnu Utsaimin yang mengtakan bahwa “ Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata jatuh pada tanggal 9 Rabiul Awal, bukan 12 Rabiul Awal.”[20]


Maka ini pun tidak bisa dijadikan pegangan karena tidak besandar dengan satu pun riwayat baik sahih ataupun dhoif dan bisa jadi hitungannya pun salah. Karena tidak ada manusia yang ma’shum kecuali para Nabi.


Hal ini tidak menjadi masalah bagi umat Islam karena tanggal kelahiran Nabi bukanlah suatu hal yang wajib diketahui karena terjadinya banyak khilaf di antara ulama tentang hal ini. Namun tidak bisa disalahkan kaum muslimin yang mengikuti pendapat mayoritas ulama yang mengatakan lahir Nabi tanggal 12 Rabiul Awwal. Adakah meyakini hal ini menjadi dosa ?? hasya wa kallaa..


Sebagian ulama ahli hikmah mengatakan :


أن تقليد الأكثر أولى من تقليد الأكبر
“ Sesungguhnya mengikuti yang mayoritas itu lebih utama daripada mengikuti yang senior “.[21]


Bagi kami yang terpenting adalah mengikuti suri tauldan Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah-sunnahnya. Para ulama kami tidaklah melangkahkan kakinya satu langkahpun, berucap satu ucapan pun, bergerak sedikit pun bahkan diamnya, terlebih dahulu mereka menimbangnya dengan timbangan al-Quran dan Sunnah.


Bahkan semua itu dibarengi dengan timbangan Muroqobah, merasa diawasi oleh Allah Swt dan apakah di dalam berbuat, berucap atau diam terdapat ridha Allah atau tidak...inilah para ulama kami. Sebagaimana dikatakan oleh syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani :


“ Sayyiduth Thoifah Al-Imam Abul Qosim Al-Junaidy Rh berkata “  Kitab kita ini yaitu Al-Quran adalah Pemimpin seluruh kitab dan yang paling lengkap dan Syare’at kita adalah Syare’at yang paling jelas dan Thoriqah kita yaitu Thoriqah para ulama tasawwuf terikat dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Barangsiapa yang tidak membaca Al-Quran, tidak menghafal As-Sunnah dan tidak memahami keduanya, maka tidak patut untuk di ikuti “.[22]


“ Sayyidi syaikh Ali Al-Khowwash Rh berkata “ Sesungguhnya jalan para ulama sufi terhias dengan Al-Quran dan Al-Hadits bagaikan terhias dengan emas dan permata. Demikian itu karena mereka di setiap gerak-gerik dan diam mereka mempunyai niat yang baik sesuai dengan timbangan Syari’at. Dan tidak bisa mengetahuinya kecuali orang yang memperdalami ilmu-ilmu Syari’at “.[23]


Adapun mereka yang menuduh kami merayakan kelahiran Nabi hanya pada tangal 12 Rabiul Awwal saja setiap tahunnya, maka ini tuduhan dan fitnah yang tidak berdasarkan realitanya.


Sungguh tidak ada satu pun dari kami yang merayakan hari kelahiran Nabi hanya tanggal 12 Rabiul Awwal saja, tapi justru kami merayakan kelahiran Nabi di hampir setiap hari dalam setahun. Ada yang mengadakan tiap jum’at sekali dalam seminggu, ada yang merayakan tiap senin sekali dalam seminggu, ada yang merayakan tiap khamis dalam seminngu, ada yang merayakan maulid tiap ada acara ulang tahun, ada yang merayakan maulid saat acara resepsi pernikahan, ada yang merayakan maulid saat merayakan Aqiqah putar-purtinya, ada yang merayakan maulid saat kedatangan tamu atau orang shalih, ada yang merayakan maulid saat sedang mendapat rezeki, ada yang merayakan maulid saat acara pembagian shodaqah kepada anak-anak yatim dan lain sebagainya.


Tak ada waktu tertentu kami merayakan maulid Nabi melainkan disetiap waktu dan keadaan. Ini semua karena kami selalu mengingat kehidupan dan perjuangan Nabi kepada umatnya, sehingga kami bersyukur dengan mengajak duduk bersama membaca sholawat bersama, membaca sejarah Nabi bersama. Ini semua adalah sebuah kebaikan.


Sebuah hadits sahih yang menjadi salah satu keutamaan dan kegembiraan kami adalah :


عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُولَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإِسْلاَمِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَابه، قَالَ: «آ? مَا أَجْلَسَكُمْ إِلاَّ ذَاكَ». قَالُوا: وَالله! مَا أَجْلَسَنَا إِلاَّ ذَاكَ قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ المَلاَئِكَةَ

Dari Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam keluar mendatangi perkumpulan majlis sahabatnya lalu berkata, “ Hal apa gerangan yang membuat kalian berkumpul di majelis ini ? ”.  Para sahabat menjawab, “ Kami berkumpul disini tidak lain hanya untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada agama Islam dan atas karunia yang diberikan-Nya dengan sebabnya “.Nabi bertanya kembali : “Demi Allah, apakah tidak ada hal lain lagi yang membuat kalian berkumpul di majelis ini selain hal itu? ”  para shahabat menjawab, “ Demi Allah, tidak ada hal lain yang membuat kami berkumpul selain itu semua”. Nabi bersabda kepada mereka : “Sesungguhnya aku tidaklah bersumpah untuk suatu keburukan, akan tetapi sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan mengkhabarkan bahwa para malaikat sangat berbangga dengan kalian semua ”.[24]


Dari hadis ini dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain : dibolehkannya berkumpul untuk berzikir dan berdoa, dibolehkannya membuat majelis tertentu untuk memperingati karunia hidayah dan syukur terhadap nikmat, dibolehkannya berkumpul untuk bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa diutusnya Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam ucapan para sahabat “Kami berkumpul disini tidak lain hanya untuk memanjatkan doa kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada agama kita dan atas karunia yang diberikan-Nya. Bukankah Nabi Muhammad yang menjadi sebab kita mendapat hidayah Islam bahkan menjadi umat yang paling utama dari semua umat lainnya ??


Maka jika ada wahabi menanyakan kepada kami : “ Kenapa kamu merayakan mauled Nabi ? “ maka sama saja mereka bertanya : “ kenapa kamu bergembira dengan kelahiran Nabi ? kenapa kamu berysukur atas lahirnya Nabi ? kenapa kamu mensyukuri nikmat atas diutusnya Nabi Muhammad kepada umatnya ??


Layakkah kah pertanyaan ini bagi seorang muslim yang bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah ??



Ditulis oleh: Ustazah Shofiyyah An-Nuuriyyah





[1] Ath-Thabaqat al-Kubra : 1/101
[2] Tarikh al-Ya’qubi : 2/7
[3] Al-Muntadzam : 2/245
[4] Syarh al-Mawahib : 1/131
[5] Al-Isti’ab : 1/31
[6] Uyun al-Atsar : 1/81
[7] Syarh Matn al-Hamziyyah : 26
[8] Al-Mawahib Al-Laduniyyah : 1/562
[9] Tarikh al-Wardi :128
[10] Al-Bidayah : 2/260
[11] At-Thabaqat al-Kubra : 1/100
[12] As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam : 1/158
[13] Ats-tsiqaat : 1/14
[14] Tarikh Ibnu Khaldun : 2/394
[15] Uyun al-Atsar : 1/79
[16] Dalail an-Nubuwwah, al-Baihaqi : 1/74 juga disebutkan dalam Mustadrak al-Hakim : 2/603. Disebutkan juga dalam Tarikh al-Umam wa al-muluk, ath-Thabari : 2/125
[17] As-Sirah an-Nabawiyyah, adz-Dzahabi : 25
[18] Khatam an-Nabiyyin : 115
[19] Al-Bidayah : 2/260
[20] al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab Tauhid: 1/491. Dinukil dari Ma Sya’a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan
[21] Faidh al-Qadir : 4/246
[22] Tanbih al-Mughtarrin : 5
[23] Tanbih al-Mughtarrin : 6
[24] Ditakhrij imam Muslim. Disebutkan dalam Tahdzib al-Kamal, al-Mizzi : 3196

Kritikan Ilmiah Terhadap Buku DRMAZA: Bidaah Hasanah Istilah Yang Disalah Fahami Bab 1




بسم الله والصلاة والشلام على رسول الله سيدنا محمد بن عبد الله وعلى اله وصحبه ومن والاه ولا حول ولا
قوة الا با الله اما بعد :

Nabi shallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda :


أَلاَ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

" Ingatlah, berhati-hatilah kalian, jangan sampai membuat hal-hal baru. Karena perkara yang paling jelek adalah membuat hal baru . dan setiap perbuatan yang baru itu adalah bid'ah. Dan semua bid'ah itu sesat."


Mengkaji bid`ah sama artinya dengan mengkaji hadits tersebut, hadits yang sering dijadikan andalan kaum wahabi atau salafi untuk menuduh bid`ah dan melarang kepada mayoritas umat Islam dari melakukan segala bentuk hal baru yang tidak dilakukan di zaman Rasul. Yah ..tak heran karena jika dilihat sepintas hadits ini  menyatakan bahwa semua hal baru ( bid’ah ) adalah sesat.


Maka mereka  menganggap bahwa untuk menjadi seorang islam yang tha`at maka dia harus memiliki sifat alergi pada hal-hal baru. Dan pandangan seperti ini sayangnya bukan hanya dilontarkan oleh orang-orang yang membenci islam, bahkan  mereka yang mengaku sebagai pembela islam banyak yang melontarkan pendapat ini. Saking alerginya mereka dengan hal baru, setiap ada hal-hal yang mereka anggap tak pernah ada di zaman rasul,  tak segan-segan mereka nyatakan sebagai bid`ah. Maulid bid`ah, Tahlilan bid`ah, Shalawat Badr bid`ah, bid`ah, bid`ah dan bid`ah.. yang lebih mengherankan diantara mereka masih ada yang menyatakan bahwa tasbih, sajadah, sampai celana panjang sebagai bid`ah yang menyesatkan. Maka lengkaplah sudah titel jumud dan terbelakang disandang oleh umat islam.


Herannya ulama-ulama seperti ini merasa bangga dengan titel terbelakang ini merasa terhormat dengan keterasingannya dan pendapat-pendapatnya yang syadz (asing). Dan menyangka merekalah para ghuraba` (orang-orang asing) yang disebut Rasul dalam haditsnya :
 إن الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبيا . فطوبى للغرباء

“ Islam dimulai dalam keterasingan dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”

Akan tetapi lupa sabda Rasul :

إِنَّ أُمَّتِى لَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ. سنن ابن ماجه

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan, jika kalian melihat pertentangan maka ikutilah kelompok terbesar”


mereka merasa bahwa dirinya telah membela islam padahal karena sebabnya umat islam terpecah saling tuduh bid`ah satu sama lain dan mereka merasa telah menyeru kepada islam padahal sebenarnya mereka membuat orang lari dari islam.


Pandangan dan pemahaman bid’ah mereka yang menyempal dari pandangan dan pemahaman mayoritas ulama, menyebabkan terus terjerembab (terjerumus) pada pemahaman yang salah dan bahkan sesat menyesatkan. Sikap angkuh dan sombong mereka untuk menerima pemahaman bid’ah mayoritas ulama, mengakibatkan butanya mereka dari fakta dan realita kebenaran yang seharusnya mereka terima dengan lapang dada.


Menyebabkan mereka saling tuduh bid`ah karena perbedaan cara ibadah padahal yang mereka tuduh bid`ah sebenarnya adalah perbedaan madzhab, atau perbedaan ulama dalam masalah fiqhiyah. Seperti masalah terjemah khutbah, qunut, menggerakan jari dalam tahiyyat, bilangan tarawih dan lain-lain. Ada juga yang begitu tekun melakukan sesuatu yang dia anggap ibadah, tapi pada kenyataanya apa yang dia lakukan adalah bid`ah yang perlu dijauhi.


Dalam artikel yang ditulis Dr Mohd Asri Zainal Abidin tentang pemahaman bid’ah dan kritikannya terhadap pembagian bid’ah yang diklaimnya kesalah pamahaman yang sudah sejak lama dipahami mayoritas umat muslim ini, isinya tidak jauh berbeda dengan tulisan-tulisan kaum wahabi lainnya. Penuh pemahaman dan hujjah yang terlalu dipaksa-paksakan dan kurang cermat memahami ucapan-ucapan para ulama tentang definsi bid’ah. Sehingga kami akan mengkritik kembali tulisannya dan mengupas kesalahannya dalam berhujjah. Semoga kritikan ini menjadi renungan kembali bagi Dr Maza dan kaum wahabi lainnya, lebih-lebih mereka mau kembali kepada kebenaran yang nyata di depan mata mereka, dan semoga ini bermanfaat bagi saudara-saudara kami Ahlsus sunnah wal Jama’ah. Aamiin..


Dr Mohd Asri Zainal Abidin mengatakan :

(Sumber Capaian buku Dr.Asri: http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm)

Huraian al-Imam al-Syatibi Terhadap Ta’rif Bid‘ah

al-Imam al-Syatibi rahimahullah setelah memberikan ta’rif ini, tidak membiarkan kita tertanya-tanya maksudnya, sebaliknya beliau sendiri telah menghuraikan maksud ta’rif ini. Di sini dinyatakan beberapa poin penting huraian al-Imam al-Syatibi:

Pertama:

Dikaitkan jalan (طريقة) dengan agama kerana rekaan itu dilakukan dalam agama dan perekanya menyandarkan kepada agama. Sekiranya jalan rekaan hanya khusus dalam urusan dunia ia tidak dinamakan bid‘ah, seperti membuat barangan dan kota. Oleh kerana jalan rekaan dalam agama terbahagi kepada apa yang ada asalnya dalam syariat dan kepada apa yang tiada asalnya dalam syariat, maka dimaksudkan dengan ta’rif ini ialah bahagian rekaan yang tiada contoh terdahulu daripada al-Syari’ (Pembuat syariat iaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala).

Ini kerana ciri khas bid‘ah ialah ia terkeluar daripada apa yang digariskan oleh al-Syari’. Dengan ikatan ini maka terpisahlah (tidak dinamakan bid‘ah) segala yang jelas – sekalipun bagi orang biasa – rekaan yang mempunyai kaitan dengan agama seperti ilmu nahu, saraf, mufradat bahasa, Usul al-Fiqh, Usul al-Din dan segala ilmu yang berkhidmat untuk syariat. Segala ilmu ini sekalipun tiada pada zaman yang awal, tetapi asas-asasnya ada dalam syarak.

Justeru itu, tidak wajar sama sekali dinamakan ilmu nahu dan selainnya daripada ilmu lisan, ilmu usul atau apa yang menyerupainya yang terdiri daripada ilmu-ilmu yang berkhidmat untuk syariat sebagai bid‘ah.  Sesiapa yang menamakannya bid‘ah, sama ada atas dasar majaz (bahasa kiasan) seperti ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anh yang menamakan bid‘ah solat orang ramai pada malam-malam Ramadhan, atau atas dasar kejahilan dalam membezakan sunnah dan bid‘ah, maka pendapatnya tidak boleh dikira dan dipegang.

Kedua:

Maksud (تضاهي الشرعية) ialah menyerupai jalan syarak sedangkan ia bukanlah syarak pada hakikatnya. Bahkan ia menyanggahi syarak dari beberapa sudut:

Antaranya: Meletakkan batasan-batasan[10] seperti seseorang yang bernazar untuk berpuasa berdiri tanpa duduk, berpanas tanpa berteduh, membuat keputusan mengasing diri untuk beribadah, menghadkan makanan dan pakaian dari jenis tertentu tanpa sebab.

Antaranya: Beriltizam dengan cara (kaifiyyat كيفيات ) dan bentuk (haiat هيئات ) tertentu.[12] Ini seperti zikir dalam bentuk perhimpunan dengan satu suara, menjadikan perayaan hari lahir Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan seumpamanya.

Antaranya: Beriltizam dengan ibadah tertentu dalam waktu tertentu sedangkan tidak ada penentuan tersebut dalam syarak. Ini seperti beriltizam puasa pada hari Nisfu Sya’ban dan bersolat pada malamnya.

Kemudian bid‘ah-bid‘ah tersebut disamakan dengan perkara-perkara yang disyariatkan. Jika penyamaan itu adalah dengan perkara-perkara yang tidak disyariatkan maka ia bukan bid‘ah. Ia termasuk dalam perbuatan-perbuatan adat kebiasaan.

Ketiga:

Maksud (يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله): “Tujuan mengamalkannya untuk berlebihan dalam mengabdikan diri kepada Allah” ialah menggalakkan ibadah. Ini kerana Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu. [al-Zariyat 51:56]

Seakan-akan pembuat bid‘ah melihat inilah tujuannya. Dia tidak tahu bahawa apa yang Allah tetapkan dalam undang-undang dan peraturan-peraturan-Nya sudah memadai.

Seterusnya al-Imam al-Syatibi menjelaskan:

Telah jelas dengan ikatan ini (yang dijelaskan) bahawa bid‘ah tidak termasuk dalam adat. Apa sahaja jalan yang direka di dalam agama yang menyerupai perkara yang disyariatkan tetapi tidak bertujuan beribadah dengannya, maka ia terkeluar dari nama ini (bid‘ah).[16]

 Kesimpulan Ta’rif al-Imam al-Syatibi

Daripada apa yang dita’rifkan dan dihuraikan oleh al-Imam al-Syatibi rahimahullah, dapat dibuat beberapa kesimpulan:

Bid‘ah ialah jalan syarak yang baru di reka dan dianggap ibadah dengannya. Adapun membuat perkara baru dalam urusan dunia tidak boleh dinamakan bid‘ah.

Bid‘ah ialah sesuatu yang tidak ada asal dalam syariat. Adapun apa yang ada asalnya dalam syariat tidak dinamakan bid‘ah.

Ahli bid‘ah menganggap jalan, bentuk, cara bid‘ah mereka adalah satu cara ibadah yang dengannya mereka mendekatkan diri kepada Allah.

Bid‘ah kesemuanya buruk. Apa yang dinamakan Bid‘ah Hasanah yang membabitkan perkara-perkara duniawi bukanlah bid‘ah pada istilahnya.


Kami jawab :


Sementara (setakat) ini, pemahaman dan kesimpulan Dr Maza dari penjelasan asy-Syathibi tidak berbeda dengan pemahaman kami (Aswaja).


Ketahuilah wahai saudaraku, mereka para ulama Aswaja yang membagi bid’ah menjadi bid’ah sayyiah atau madzmumah dan bid’ah hasanah atau mahmudah, tidak ada lain adalah bid’ah dalam segi bahasa dalam pandangan asy-Syathibi.


Kita sepakat bahwa bid’ah syar’iyyah adalah perkara baru yang tidak ada  asal dalam syare’at. Inilah bid’ah syar’iyyah yang dimaksud ketika kita menyebutnya secara muthlaq.


Kesimpulan Imam asy-Syathibi mengatakan “ Apa yang ada asalnya dalam syariat tidak dinamakan bid‘ah “. Bagi kami (Aswaja) ini hanyalah perbedaan istilah saja, akan tetapi intinya sama yakni sama-sama meyakini perkara baru yang tidak ada asal dalam syare’atnya adalah bid’ah syar’iyyah dan itu terlarang.


Yang menjadi persoalan adalah asy-Syathibi tidak mau menyebut bid’ah pada perkara baru yang ada asal dalam syare’atnya, beliau menyebutnya bukan bid’ah akan tetapi itu bid’ah dari segi bahasa atau masuk kategori Mashalih Mursalah,  namun kami (Aswaja) mengatakan tidak ada masalah menyebutnya bid’ah hasanah. Yang perlu direnungi Dr Maza dan kaum wahabi lainnya adalah bahwa asy-Syathibi membolehkan perkara baru yang memiliki asal dalam syare’at, meskipun beliau tidak mau menyebutnya bid’ah, hal ini sama persis dan sepakat (selari) dengan pemahaman kaum Ahlus sunnah wal jama’ah (Aswaja), akan tetapi Aswaja membolehkan menyebutnya dengan bid’ah hasanah. Subtansi pemahamannya sama, namun beda penyebutan dan istilahnya. Ini tidaklah menjadi permasalahan apalagi sampai disesat-sesatkan ulama yang membaginya menjadi bid’ah sayyiah dan bid’ah hasanah padahal subtansinya tidak berbeda.


Hal ini telah diakui sendiri oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu’ Fatawanya, sayangnya Dr Maza tidak menoleh pada ucapan Ibnu Taimiyyah ini sedikit pun, bahkan Ibnu Taimiyyah membagi bid’ah pada bid’ah wajib dan mustahab, apakah Dr Maza akan konsisten mengatakan bahwa Ibnu Taimiyyah salah paham atau sesat karena telah membagi bid’ah menjadi bid’ah wajib dan bid’ah mustahab ? renungi ucapan Ibnu Taimiyyah berikut ini :


بل هذا وما يشبهه من البدع المحدثة التى لم يستحبها أحد من أئمة المسلمين ,فليست واجبة ولا مستحبة باتفاق المسلمين ,وكل بدعة ليست واجبة ولا مستحبة فهى بدعة سيئة , وهى ضلالة باتفاق المسلمين ,ومن قال فى بعض البدع انها بدعة حسنة فإنما ذلك اذا قام دليل شرعى أنها مستحبة ,فأما ما ليس بمستحب ولا واجب فلا يقول أحد من المسلمين أنها من الحسنات التى يتقرب بها الى الله


“ …Akan tetapi hal (benda) ini dan yang semisalnya adalah termasuk bid’ah yang baru yang tidak dianjurkan seorang pun dari para imam muslimin, bukan bid’ah wajib dan bukan bid’ah mustahab dengan kesepakatan muslimin. Dan setiap bid’ah yang bukan wajib atau mustahab, maka itu adalah bid’ah sayyiah, itu adalah sesat dengan kesepakatan kaum muslimin. Dan siapa yang mengatakan pada sebagian bid’ah bahwa itu bid’ah hasanah, maka hal itu jika ada dalil syar’inya bahwa itu mustahab, adapun jika perkara itu bukan mustahab dan bukan wajib, maka tidak boleh seorang pun dari kaum muslimin mengatakan itu termasuk kebaikan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah “. [1]


Komentar kami :


Ini artinya Ibnu Taimiyyah membagi bid’ah menjadi bid’ah wajibah dan bid’ah mustahabbah, mafhum dari ucapan Ibnu Taimiyyah tersebut adalah jika bid’ah tersebut ada anjuran dari para imam kaum muslimin, maka bid’ah tersebut tidak dikatakan bid’ah sayyiah atau dholalah (Sesat). Dan ini adalah sebagaimana pembagian bid’ah ulama fiqih di antaranya imam al-‘Izz bin Abdissalam yang membagi bid’ah menjadi lima; bid’ah wajibah, mustahabbah, muharramah, makruhah dan mubahah.


Meskipun penerapannya dalam hal ini (tawassul kepada Nabi setelah wafat) disalah asumsikan. Karena yang benar, bahwa hal itu bukanlah bid’ah sayyi’ah akan tetapi sunnah sebab telah dilakukan oleh sebagian sahabat Nabi.


Pada kesempatan lainnya Ibnu Taimiyyah mengatakan :

وأما ما سوى التأذين قبل الفجر من تسبيح، ونشيد، ورفع الصوت بدعاء، ونحو ذلك في المآذن؛ فهذا ليس بمسنون عند الأئمة، بل قد ذكر طائفة من أصحاب مالك والشافعي وأحمد أن هذا من جملة البدع المكروهة، ولم يقم دليل شرعي على استحبابه، ولا حدث سبب يقتضي إحداثه حتى يقال إنه من البدع
اللغوية التي دلت الشريعة على استحبابها

“ Adapun selain adzan sebelum fajar seperti tasbih, nasyid, mengangkat suara dengan doa dan semisalnya di tempat-tempat adzan, maka ini bukanlah sunnah menurut para imam, bahkan sungguh telah menyebutkan sekelompok ulama Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanbaliyyah bahwa ini termasuk bid’ah makruhah dan tidak ada dalil syar’inya yang menunjukkan keanjurannya, tidak pula ada sebab yang mewajibkan pengadaanya untuk dikatakan termasuk bid’ah lughowiyyah (segi bahasa) yang syare’at menunjukkan atas keanjurannya “.[2] 


Komentar kami :


Ibnu Taimiyyah jelas mengakui bahwa sekelompok ulama Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanbaliyyah mengakui adanya bid’ah makruhah. Dan Ibnu Taimiyyah mengakui bahwa jika ada dalil sya’re’atnya yang menunjukkan istihbabnya, dan ada sebab yang mewajibkan untuk melakukan perkara baru itu, maka perkara baru itu disebut bid’ah lughowiyyah.


Ibnu Taimiyyah mengakui hal ini meskipun beliau salah (silap) karena yang benar adalah mayoritas ulama dari semua kalangan madzhab yang empat sepakat atas pembagian bid’ah tersebut, bukan sekelompok (thaifah) sahaja.


Dengan realita ini, apakah Dr Maza menyalahkan Ibnu Taimiyyah atau akan mengatakan bahwa Ibnu Taimiyyah salah paham terhadap definsi (ta’rif) bid’ah ??


Perhatikan dan renungkan pula ucapan Ibnu Rajab al-Hanbali berikut ini :

وأمّا ما وقع في كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنّما ذلك في البدع اللغوية لا الشرعية، فمن ذلك قول عمر رضي الله عنه لمّا جمع النّاس في قيام رمضان على إمام واحد في المسجد، وخرج ورآهم
يصلون كذلك، فقال: نعمت البدعة هذه

“ Dan adapun apa yang terjadi pada ucapan ulama salaf dari menganggap baik (hasanah) pada sebagian bid’ah, maka sesungguhnya itu hanyalah dalam bid’ah segi bahasa saja bukan segi syar’iyyah. Di antara contoh hal itu adalah ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu ketika mengumpulkan manusia untuk mendirikan sholat malam di bulan Ramadhan pada satu imam di dalam masjid, beliau keluar dan melihat mereka sholat seperti itu, maka beliau berkata “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “. [3]


Pemahaman Ibnu Rajab menguatkan pemahaman kami (Aswaja) bahwa perkara baru atau bid’ah yang sering disebut oleh ulama salaf sebagai bid’ah hasanah adalah dalam konteks dan pandangan bid’ah segi bahasa saja bukan syar’iyyah. Ibnu Rajab lebih mengakui penyebutan bid’ah pada perkara baru dalam agama, meskipun beliau menyebutnya bukan bid’ah hasanah namun bid’ah lughawiyyah. Hal ini sekali lagi bukanlah masalah bagi kami, karena ini hanyalah perbedaan istilah saja, perbedaan lafaz saja, akan tetapi inti atau subtansi pemahamannya sama tidak berbeda.


Lebih jelas lagi Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan :

والمراد بالبدعة: ما أحدث ممّا لا أصل له في الشريعة يدل عليه، فأمّا ما كان له أصل من الشرع يدل عليه
فليس ببدعة شرعًا، وإن كان بدعة لغة

“ Yang dimaksud dengan bid’ah adalah :  Segala perkara baru yang tidak ada asalnya dalam syare’at yang menunjukkan atasnya. Adapun perkara baru yang ada asal dari syare’at yang menunjukkan atasnya, maka bukanlah bid’ah dalam segi syare’atnya, walaupun itu bid’ah dalam segi bahasanya “. [4]


Begitu jelas Ibnu Rajab mengatakan bahwa perkara baru yang ada landasan syare’atnya disebut bid’ah dalam segi bahasanya dan bukan bid’ah dalam segi syare’atnya artinya boleh dilakukan. Hal ini sesuai (selari) dengan pemahaman kami (syafi’iyyah) selama ini yang memahami bahwa setiap perkara yang memiliki landasan dalam syare’atnya adalah boleh dilakukan meskipun saling berbeda di dalam menamai perkara tersebut. Ibnu Rajab dan asy-Syathibi menyebutnya bukan bid’ah, ada yang menyebutnya bid’ah lughowiyyah, ada pula yang menyebutnya maslahah mursalah dan ulama syafi’iyyah menyebutnya bid’ah hasanah. Semua ini hanyalah perbedaan dalam lafaznya saja, adapun subtani pemahamannya sama, tidak berbeda.


Hal ini sesuai dengan pemahaman imam Syafi’i :

المحدثات من الأمور ضربانأحدهما ما أحدث مما يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه البدعة الضلالة
والثاني ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، وهذه محدثة غير مذمومة

“Hal baru terbagi menjadi dua, pertama apa yang bertentangan dengan Al Quran, Sunah, atsar, dan ijma, maka inilah bid`ah dholalah. Yang kedua adalah hal baru dari kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari yang telah disebut, maka tidak ada khilaf bagi seorangpun mengenainya bahwa hal baru ini tidak tercela..”[5]


Dengan jelas imam Syafii menyatakan bahwa tidak ada khilaf sedikitpun mengenai kebolehan hal baru yang baik, ini menunjukkan bahwa para ulama di zaman Imam Syafi’i hampir seluruhnya telah memilah bid`ah kepada yang baik dan yang buruk.

Seorang ulama pakar bahasa Arab ; al-Hafidz Ibnu al-Arabi mengatakan :

لَيْسَتْ البِدْعَةُ وَالْمُحْدَثُ مَذْمُوْمَيْنِ لِلَفْظِ بِدْعَةٍ وَمُحْدَثٍ وَلاَ مَعْنَيَيْهِمَا، وَإِنَّمَا يُذَمُّ مِنَ البِدْعَةِ مَا يُخَالِفُ السُّـنَّةَ، وَيُذَمُّ مِنَ الْمُحْدَثَاتِ مَا دَعَا إِلَى الضَّلاَلَةِ

“Perkara yang baru (Bid’ah atau Muhdats) tidak pasti tercela hanya karena secara bahasa disebut Bid’ah atau Muhdats, atau dalam pengertian keduanya. Melainkan Bid’ah yang tercela itu adalah perkara baru yang menyalahi sunnah, dan Muhdats yang tercela itu adalah perkara baru yang mengajak kepada kesesatan”.[6]

Artinya beliau mengaskan bahwa perkara baru meskipun secara bahasa disebut bid’ah atau muhdats, tidaklah tercela jika tidak mneyalahi sunnah dan tidak mengajak kepada kesesatan.


Pembagian bid’ah menjadi dua bagian ini sesungguhnya bersumber dari beberapa hadits sahih di antaranya hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa beliau berkata, “ Rasulullah bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari’at ini yang tidak bersumber darinya (syare’at), maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Dapat dipahami dari sabda Rasulullah: “Ma Laisa Minhu”, artinya “ Yang tidak bersumber dari Agama ”, bahwa perkara baru yang tertolak adalah yang bertentangan dan menyalahi syari’at. Adapun perkara baru yang tidak bertentangan dan tidak menyalahi syari’at maka ia tidak tertolak.



Bersambung ke bab 2...



Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 11-12-2013









[1] Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah : 1/162
[2] Al-Fatawa al-Kubra, Ibnu Taimiyyah : 5/321
[3] Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab : 2/128
[4] Fath al-Bari, Ibnu Rajab al-Hanbali : 13/254
[5] Diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi dengan sandanya dalam kitab Manaqib asy-Syafi’I : 1/469. Juga ada disebutkan dalam kitab al-Hawi lil Fatawa, as-Suyuthi : 1/276
[6] Al-Irsyad ila Sahih al-I’tiqad : 1/298. Disebutkan juga dalam kitab itqan ash-shun’ah, syaikh Abdullah al-Ghumari

Kerajaan