Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

» »Unlabelled » Pelurusan Kedua: Catitan Terhadap Buku Menjawab 17 Fitnah Terhadap Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah







Pelurusan Kedua :

الحوادث التي لا أول لها

Perkara baru yang tidak ada awalnya












Syaikh Murad Syukri mengatakan :


Fitnah kedua adalah berkenaan masalah benda-benda baru yang tidak memiliki permulaan baginya (الحوادث التي لا أول لها), juga masalah sifat sesuatu yang berterusan  (تسلسل الآثار).  Sudah diketahui di sisi ahli ilmu bahawa setiap istilah perlu dirujuk tafsirannya kepada orang yang ahli dalam jurusan tersebut. Merupakan satu kebatilan dan kesalahan yang menimbulkan suasana huru-hara apabila seseorang itu membahas sesuatu istilah dengan tafsiran sesuka hati.


Maka dengan itu, yang dimaksudkan dengan “benda-benda baru yang tidak memiliki permulaan baginya” ialah menjelaskan bahawa Allah adalah pembuat (pencipta) dan merupakan pembuat (pencipta) sejak azali lagi. (Ada pun maksud “sesuatu yang berterusan”) ialah bahawa adalah setiap benda baru yang sebelumnya, adalah dikira benda baru yang seterusnya hingga tiada kesudahannya. Setiap sesuatu yang baru didahului dengan sesuatu baru yang lain, setiap yang baru didahului dengan ketidakwujudannya. Keseluruhan benda-benda baru ini yang dikira tiada kesudahan (sehinggalah Hari Kiamat), semuanya didahului dengan Allah sebagai pencipta bagi segalanya.


Oleh itu apabila Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menyatakan pandangannya bahawa “benda-benda baru yang tidak memiliki permulaan baginya”, ia bererti bahawa Allah tetaplah Dia melakukan perbuatan-Nya atas kehendak-Nya. Sifat-Nya adalah sifat azali yang melazimi zat-Nya dengan sempurna. Ini adalah pandangan jumhur ahli hadis, sebahagian al-Mutakallimin dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah. Imam Ibn ‘Abd al-Barr dalam Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlihi, jld. 1, ms. 10 berkata:


Apa yang menjadi pegangan Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah adalah bahawa Allah Ta‘ala sentiasa dengan sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya, tiadalah diawali sifat dan nama itu oleh permulaan, dan tiadalah diakhiri dengan satu kesudahan. Dan Dia di atas Arasy istawa’.


Jawaban :


Masalah ini sebenarnya sangat terkait dengan masalah yang pertama. Dan telah saya jawab sebagiannya dalam pelurusan yang pertama di atas.


Telah saya sebutkan di awal nash-nash Ibnu Taimiyyah yang menyatakan bahwa alam ini bersifat qadim dari sisi jenisnya dan hadits (baru) dari sisi materinya / satuannya. Dan adanya tasalsul fil aatsaar (berterusan dalam hal efektifitas).


Dalam nash lainnya, Ibnu Taimiyyah mengatakan [1] :


الوجه الخامس عشر : أن الإقرار بأن الله لم يزل يفعل ما يشاء ويتكلم بما يشاء هو وصف الكمال الذي يليق به ; وما سوى ذلك نقص يجب نفيه عنه


“ Wajh yang kelima belas : Sesungguhnya pengakuan bahwa Allah senantiasa berbuat apa yang dilakukannya dan berbicara apa yang dikehendakinya merupakan sifat kemuliaan yang layak bagi Allah, dan selain demikian itu adalah kekurangan yang wajib ditiadakan dari-Nya “.  



Ucapan Ibnu Taimiyyah “ Senantiasa / selalu berbuat “ yang dimaksud olehnya adalah bahwa Allah sejak azali selalu berbuat dan bersama Allah selalu ada makhluk-Nya sejak azali, inilah sifat kesempurnaan bagi Ibnu Taimiyyah. Ini suatu kebathilan sebagaimana telah saya utarakan di awal.


Kemudian Ibnu Taimiyyah berkata [2]:


وإذا قيل : لم يزل يخلق كان معناه لم يزل يخلق مخلوقا بعد مخلوق كما لا يزال في الأبد يخلق مخلوقا بعد مخلوق ننفي ما ننفيه من الحوادث والحركات شيئا بعد شيء . وليس في ذلك إلا وصفه بدوام الفعل لا بأن معه مفعولا من المفعولات بعينه


“ Dan jika dikatakan : Allah senantiasa mencipta, maka maknanya Allah senantiasa mencipta makhluk setelah makhluk, sebagaimana Allah sejak azali senantiasa mencipta makhluk setelah makhluk, kita menafikan apa yang kami nafikan dari hawadits dan gerakan sedikit demi sedikit. Dan dalam hal ini tidak bukan adalah mensifatinya dengan selalunya berbuat, bukan berarti bersama Allah ada makhluk lainnya “. 


Ini nash yang jelas dari Ibnu Taimiyyah bahwa adanya makhluk yang bersifat qadim secara jenisnya. Adapun pengqiyasan Ibnu Taimiyyah bahwa jika tasalsul fil mustaqbal dibolehkan, maka demikian pula tasalsul fil aatsar pun juga boleh. Ini adalah pengqiyasan yang bathil. Kerana keduanya sangat berbeda. Tasalsul fil mustaqbal (berterusan di dalam masa hadapan) maknanya adalah tidak ada satu makhlupun yang wujud kecuali boleh adanya suatu perkara tertentu setelahnya, hal ini menyimpulkan bahwa suatu perkara yang kedua itu bukan hasil yang sekarang, maka perbuatan itu suatu bilangan yang terbatas dan bisa berakhir.
Adapun tasalsul fil aazal (berterusan dalam masa lalu yang azali) maknanya adalah tidak ada suatu perkara yang wujud kecuali telah didahului oleh suatu perkara sebelumnya dan demikian seterusnya hingga tanpa adanya permulaan dan ujungnya. Hal ini berkonsekuensi adanya bilangan penciptaan makhluk yang tidak ada ujung kesudahannya di masa azali.  Inilah yang selama ini dipahami oleh Ibnu Taimiyyah.

Kemudian Ibnu Taimiyyah melanjutkan ucapannya [3] :


وليس في ذلك إلا وصفه بدوام الفعل لا بأن معه مفعولا من المفعولات بعينه وإن قدر أن نوعها لم يزل معه فهذه المعية لم ينفها شرع ولا عقل بل هي من كماله قال تعالى : { أفمن يخلق كمن لا يخلق أفلا تذكرون } والخلق لا يزالون معه وليس في كونهم لا يزالون معه في المستقبل ما ينافي كماله وبين الأزل في المستقبل مع أنه في الماضي حدث بعد أن لم يكن إذ كان كل مخلوق فله ابتداء ولا نجزم أن يكون له انتهاء . وهذا فرق في أعيان المخلوقات وهو فرق صحيح لكن يشتبه على كثير من الناس النوع بالعين


“ Dan dalam hal ini hanya bisa mensifati-Nya dengan dawam (senantiasa) melakukan, bukan berarti ada makhluk bersama Allah. Jika diperkirakan bahwa jenis makhluk senantiasa bersama-Nya, maka kebersamaan ini tidak dinafikan oleh syare’at dan akal, bahkan ini termasuk kesempurnaan Allah sebagaimana firman Allah Ta’ala : “ Apakah yang menciptakan seperti orang yang tidak menciptakan. Apakah kalian tidak mau berpikir ? “. Makhluk senantiasa bersama Allah, dan di dalam kesenantiasaan makhluk bersama Allah di masa mendatang, tidak menafikan kesempurnaan Allah dan di antara maza azali dan masa depan padahal sebelumnya bersifat baru setelah ketidak adaanya, karena setiap makhluk memiliki permulaan namun kami tidak memastikan adanya ujung pengakhiran. Inilah perbedaan di dalam dzat-dzat makhluk dan ini perbedaan yang sahih, akan tetapi dibingungkan oleh kebanyakan manusia tentang jenisnya dzat “. 


Renungkan dan perhatikan ucapan Ibnu Taimiyyah ini, inilah yang menjadi khulasah (kesimpulan) dari pemikiran Ibnu Taimiyyah tentang masalah ini. Nau’ (jenis) menurut Ibnu Taimiyyah bersifat qadim, maksudnya na’ul makhluqat (jenisnya makhluk) bersifat qadim. Dan kebersemaan makhluk bersama Allah sejaz azali tidak dinafikan (tidak ditolak) oleh syare’at dan akal. Oleh sebab itulah Ibnu Taimiyyah tidak menerima hadits :



كان الله ولا شيء معه

“ Allah ada dan tanpa sesuatu apapun bersama-Nya “. 


Sebab hadits ini benar-benar mematahkan argumntasi Ibnu Taimiyyah tentang tasalsul fil azal.


[1] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah : 18/238 versi maktabah Islamweb.net
[2] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah : 18/239 versi maktabah Islamweb.net
[3] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah : 18/239 versi maktabah Islamweb.net

Ditulis Oleh: Ustaz Ibnu Abdillah Al-Katibiy

facebook: https://www.facebook.com/ibnu.alkatibiy


About Asyaari Maturidi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply

Kerajaan