Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

» »Unlabelled » Pelurusan Keempat: Catitan Terhadap Buku Menjawab 17 Fitnah Terhadap Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah

     


        Pelurusan Keempat :       
                  
الجهة

Allah Berarah










Syaikh Murad Syukri tidak menolak adanya ucapan Ibnu Taimiyyah tentang arah bagi Allah bahkan hal ini menjadi bagian akidah wahabi. Akan tetapi ia menolak pemahaman Allah diliputi dengan makhluk-Nya yang diisukan kepada Ibnu Taimiyyah.

Jawaban :

Ucapan Ibnu Taimiyyah bahwa Allah berarah sangatlah masyhur, namun sedikit sekali yang paham apa sebenarnya yang dimaksud berarah dalam pandangan dan pemahaman Ibnu Taimiyyah sendiri. Di sini kita akan menjelaskan dan membuktikan faktanya..

Sebelumnya kita pahami dulu makna jihah. Dalam kamus bermakna Nahiyah (sisi/arah). Jihah dan wijhah bermakna satu yaitu setiap tempat yang kau mengarah padanya. Jika kita perhatikan makna jihah dalam bahasa, maka tidaklah digunakan kecuali untuk sesuatu yang memiliki tempat dan batasan yang menghadap pada sesuatu lainnya yang juga memiliki tempat dan batasan. Maka jihah dalam bahasa tidaklah dinisbatkan kecuali pada sesuatu yang berjisim.

Dan apakah yang dimaksud jihah (arah) oleh Ibnu Taimiyyah?

Ibnu Taimiyyah mengatakan : “ Tidak diragukan lagi bahwa jihah itu adalah di antara perkara-perkara yang memiliki nisbat dan sandaran. Dikatakan : Ini Jihah (arah)-nya ini dan batasnya. Makna jihah aslinya adalah arah dimana sesuatu menghadap kepadanya “. [1]

Kemudian Ibnu Taimiyyah mengatakan : “ Jika demikian, maka terkadang jihah (arah) itu disandarkan kepada tempat arah sebagaimana boleh dikatakan bagi manusia memiliki enam arah. Karena baginya mampu menghadap kepada enam arah khusus tadi yang menjadi arahnya. Orang yang sholat melakukan sholat ke satu arah dari beberapa arah karena pada waktu itu ia menghadap padanya. Dari sini jihah bermakna sesuatu yang menghadap pada apa yang disandarkan. Dan terkadang jihah bermakna sandaran yang mengarah darinya, sebagaimana seseorang berkata ketika menghadap ka’bah “ ini arah ka’bah “, ketika dia berda di Makkah, ia berkata “ ini arah Syam, ini arah Yaman, ini arah Timur, ini arah Barat. Sebagaimana dikatakan ini sisi Syam, Ini sisi Yaman, maka yang dimaksud adalah arah dan sisi di mana penduduk Syam dan Yaman menghadap padanya.  “,.

Kemudian ia berkata : “ Jika ini sudah ma’ruf dari lafadz jihah dan haiz pada makhluk yang wujud, maka kita katakan “ Jika ditanya ; “ Allah berada di suatu arah “, maka terkadang ia bermkasud di suatu arah bagi Allah dan suatu arah bagi makhluk-Nya “. Jika Allah berada di suatu arah bagi-Nya, maka adakalanya jihah darinya dan jihah yang mengarah pada-Nya. Dari dua kemungkinan ini, maka tidaklah ada sesuatu di atas alam ini kecuali Dzat Allah. Itu adalah jihah Allah yang tidak berarah pada sesuatu yang wujud di luar alam dan juga tidak dari arah sesuatu yang wujud di luar alam. Di sana tidak ada sesuatu yang wujud selain Allah sendiri yang berarah padanya dan darinya “.

Penjelasan :                                       

Dari keterangan Ibnu Taimiyyah di atas, dapat dipahami bahwa Allah itu berada di luar alam dari arah atas dari alam. Yang dinafikan (ditiadakan) oleh Ibnu Taimiyyah hanyalah Allah wujud dari sesuatu di luar alam. Itu sajalah yang ditolak Ibnu Taimiyyah, namun ia tetap berkeyakinan bahwa Allah berarah. Artinya jika Allah ingin mengarah, bergerak dan berpindah ke alam, maka jihah (arah) yang Allah bergerak darinya merupakan Dzat Allah sendiri. Dan yang berpindah darinya adalah dzat alam.

Ibnu Taimiyyah berkata :

فيقال لمن نفى الجهة: أريد بالجهة أنها شيء موجود مخلوق؟ فالله ليس داخلا في المخلوقات، أم تريد بالجهة ما وراء العالم؟ فلا ريب أن الله فوق العالم مباين للمخلوقات

“ Maka dikatakan kepada orang yang menafikan jihah (arah) : yang dimaksud dengan jihah adalah sesuatu yang wujud dan makhluk? Maka Allah bukan di dalam makhluk-makhluk-Nya. Atau kamu bermaksud dengan jihah adalah sesuatu di luar alam? Maka tidak diragukan lagi bahwa Allah di atas alam terpisah dari makhluk-Nya “.[2]

Ia juga berkata dalam Minhaj Sunnahnya :

وإن أريد بالجهة أمر عدمي وهو ما فوق العالم فليس هناك إلا الله وحده

“ Jika dimaksud dengan jihah (arah) adalah perkara yang bersifat tidak ada yaitu apa yang ada di atas alam, maka tidaklah ada di sana kecuali Allah semata “.[3]

Menurut anggapan Ibnu Taimiyyah jihah ‘adamiyyah (arah yang abstrak) ada di atas alam, dan di sanalah Allah berada. Walaupun Allah dibatasi dengan arah itu, namun arah itu tidaklah wujud sebab arah ‘adamiyyah (yang bersifat tidak ada). Maka konsekuensinya atas dasar ini ada sesuatu yang kekal selain Allah yaitu arah ‘adamiyyah di mana Allah berada. Subhanallah ‘amaa yashifuun…

Ajaran Ahlus sunnah mengatakan bahwa Allah Maha Luhur dan Tinggi, namun keluhuran Allah dan Ketinggian-Nya adalah keagungan Dzat Allah bukan ketinggian dalam arah (jihah) dan jarak.

Ibnu Taimiyyah juga mengatakan :

وكذلك الكلام في لفظ الجهة فإن مسمى لفظ الجهة يراد به أمر وجودي كالفلك الأعلى، ويراد به أمر عدمي كما وراء العالم، فإذا أريد الثاني أن يقال كل جسم في جهة، وإذا أريد الأول امتنع أن يكون كل جسم في جسم آخر، فمن قال: الباري في جهة وأراد بالجهة أمرا موجودا فكل ما سواه مخلوق له في جهة بهذا التفسير فهو مخطئ، وإن أراد بالجهة أمرا عدميا وهو ما فوق العالم، وقال: إن الله فوق العالم فقد أصاب، وليس فوق العالم موجود غيره فلا يكون سبحانه في شيء من الموجودات

“ Demikian juga persoalan tentang lafadz jihah (arah), apa yang disebut dengan jihah maka ada dua pengertian terkadang yang dimaksud adalah perkara yang wujud seperti falak yang tinggi (ufuk) dan juga terkadang yang dimaksud adalah perkara yang adami (bersifat tidak wujud) seperti apa yang diluar alam. Jika yang dimaksud yang kedua ini, maka maka bisa dikatakan setiap jisim di dalam jihah. Dan Jika yang dimaksud yang pertama, maka setiap jisim tidak akan menyatu dalam jisim yang lain. Maka barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah ada di suatu arah, jika ia bermaksud dengan perkara yang wujud, maka semua selain Allah adalah makhluk-Nya yang di dalam arah dengan penafsiran ini, maka dia telah salah. Jika dia bermaksud dengan perkara yang tidak wujud (amrun ‘adamiyyun) yaitu apa yang di atas alam dan berkata bahwa Allah di atas alam, maka ia benar. Dan tidaklah ada sesuatu yang wujud di atas alam selain Allah Ta’alaa, maka tidaklah Allah berada di dalam sesuatu pun dari yang wujud “. [4]

Penjelasan :

Dari ucapan Ibnu Taimiyyah dapat dipahami bahwa dengan jelas ia mengatakan Allah berada di arah ‘adamiyyah (arah yang tidak wujud). Yang ia maksud dengan jihah adamiyyah tidak ada lain adalah Dzat Allah sendiri. Pembagian ini (jihah wujud dan jihah a’damiyyah) tidak membuahkan faedah sama sekali, sebab makna asal jihah adalah idhofi (bergantung) sedangkan makna bergantung pada Dzat Allah tidaklah ada. Missal jika kita berkata “ arah “, maka kita maksudkan adalah penisbatan tempat yang kita bergerak menuju ke arah tempat permulaan bergerak, dan tidak akan ditemukan makna selain ini. Maka tidak boleh kita katakan bahwa jihah (arah) adalah dzat jisim itu sendiri yang ada di tempat itu, karena jika kita berkata “ aku pergi ke arah Ka’bah “, maka tidak bisa dikatakan bahwa arah itu adalah ka’bah itu sendiri, justru Ka’bah adalah perkara yang didapati dari arah. Maka apa yang disitilahkan Ibnu Taimiyyah sangatlah tidak logis.




[1] Taksis : juz : 2/117
[2] Risalah at-Tadumuriyyah : 46
[3] Minhajus Sunnah : 1/217
[4] Minhajus Sunnah ; 1/250

About Asyaari Maturidi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply

Kerajaan