Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

» »Unlabelled » Isu Tabdil Taurat Ibnu Taimiyyah



AL-Katibiy sama sekali tidak mempermasalahkan pendapat adanya tahrif / perubahan pada makna taurat bukan pada lafaz. Karena itu pendapat sebagian kecil ulama. Beliau hanya ingin meluruskan bahwa apa yang dikatakan sebagian ulama bahwa Ibnu Taimiyyah juga berpendapat seperti itu, bukanlah isu ataupun fitnah tapi fakta.


Al-Katibiy dan sebagian ulama Asy’ariyyah ingin menunjukkan bahwa Ibnu Taimiyyah berpendapat seperti itu karena ingin menguatkan akidah tajsimnya. Sebagaimana al-Katibiy telah buktikan, dan saya akan membuktikan pula sebagai penguat.


Sebelum pembuktian dari maksud Ibnu Taimiyyah menetapkan tajsimnya, kita simak dulu pendapat Ibnu Taimiyyah tentang tabdil taurat ini :


Pertama : Dari pengakuan Ibnu Hajar dan Ibnul Qayyim bahwasanya Ibnu Taimiyyah berpendapat adanya sedikit tahrif pada lafaz dan sebagian besar lafaznya masih asli.


ثالثها- أي ثالث القوال - وقع - أي التغيير والتبديل - في اليسير منها ومعظمها باق على حاله ونصره الشيخ تقي الدين بن تيمية في كتابه " الرد الصحيح على من بدل دين المسيح

Kedua : Dari pengakuan Ibnu Taimiyyah sendiri; 


Ia mengakui adanya sedikit tahrif pada lafaz setelah diutusnya Nabi dan perubahan yang sedikit pada lafaz ini ada pada sebagian besar naskah :


ألفاظها فتبديل ألفاظ اليسير من النسخ بعد مبعث الرسول - صلى الله عليه وسلم - ممكن لا يمكن أحد أن يجزم بنفيه ولا يقدر أحد من اليهود والنصارى أن يشهد بأن كل نسخة في العالم بالكتابين متفقة الألفاظ إذ هذا لا سبيل لأحد إلى علمه ، والاختلاف اليسير في ألفاظ هذه الكتب موجود في الكثير من النسخ


Ketiga : Ibnu Taimiyyah meyakini adanya naskah asli Taurat di muka bumi ini sampai masa nabi, selain adanya juga naskah yang ditahrif.


وهو أن في الأرض نسخا صحيحة وبقيت إلى عهد النبي صلى الله عليه وسلم ونسخا كثيرة محرفة


Keempat : Dari pengkuan Ibnu Hajar, Ibnu Taimiyyah juga pernah ditanya masalah tahrif dalam lafaz, Ibnu Taimiyyah pun menjawab persoalan ini secara mujarradan (tersendiri) dalam fatwanya, Ibnu Hajar berkata :


إنما وقع التبديل والتغيير في المعاني لافي الألفاظ ، وهو المذكور هنا

“ Sesungguhnya terjadi tabdil dan taghyir hanyalah dalam makna-maknanya saja bukan pada lafaznya, dan inilah yang disebutkan di sini (maksudnya itu adalah pendapat imam Bukhari)..”, lalu Ibnu Hajar melanjutkan :

وقد سئل بن تيمية عن هذه المسألة

“ Dan sungguh Ibnu Taimiyyah telah ditanya tentang masalah ini (tabdil fil lafaz)...”
Lanjutannya :
مجرداً فأجاب في فتاويه

“ Secara tersendiri (maksudnya fii fatwa mustaqillah / fatwa tersendiri), maka ia menjawab dalam fatawanya...” lanjutan :


إن للعلماء في ذلك قولين ، واحتج للثاني من أوجه كثيرة ، منها قوله تعالى لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ

“ Bahwa ulama memiliki dua pendapat, dan (Ibnu Taimiyyah) berhujjah dengan pendapat kedua dari beberapa alasan di antaranya firman Allah : “ Tidak ada yang dapat mengganti kalimat-kalimatnya “.

Ibnu Hajar kemudian membantah dua wajh tersebut :


وهو معارض بقوله تعالى: (فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ ) ، ولا يتعين الجمع بما ذكر من الحمل على اللفظ في النفي وعلى المعنى في الإثبات لجواز الحمل في النفي على الحكم وفي الاثبات على ما هو أعم من اللفظ والمعنى


Kelima : Ibnu Taimiyyah meyakini tahrif lafaz hanya terjadi pada lafaz khobariyyah saja dan itupun sudah ada naskah lainnya yang menjelaskan kesalahan tersebut


وكذلك يقال إذا بدل قليل من ألفاظها الخبرية لم يمنع ذلك أن يكون أكثر ألفاظها لم يبدل لا سيما إذا كان في نفس الكتاب ما يدل على المبدل



Kesimpulan awal :


Ibnu Taimiyyah meyakini adanya sedikit tahrif pada lafaz taurat setelah diutusnya nabi, adapun sebelum diutusnya nabi, maka belum ada perubahan alias masih asli. Ibnu Taimiyya meyakini bahwa tahrif itu terjadi pada lafaz atau nash khobariyyah saja. Ibnu Taimiyyah juga meyakini adanya naskah taurat yang asli di muka bumi ini sampai masa Nabi. Ibnu Taimiyyah dalam fatwa tersndirinya juga meyakini adanya tahrif fil makna.


Musykilat :


Jika melihat teks Ibnu Taimiyyah berikut ini :


ثم من هؤلاء من زعم أن كثيرا مما فى التوراة أو الانجيل باطل ليس من كلام الله ومنهم من قال بل ذلك - أي التحريف - قليل وقيل لم يحرِّف أحد شيئا من حروف الكتب وانما حرفوا معانيها بالتأويل وهذان القولان قال كلاً منهما كثير من المسلمين والصحيح القول الثالث


“ Kemudian ada dari mereka yang berpendapat bahwa banyak dari naskah taurat dan injil itu bathil bukan kalam Allah, ada dari mereka yang berpendapat tahrif itu sedikit, ada yang berpendapat bahwa seorag pun tidak mentahrif sedikit pun dari kitab-kitab Allah, sesungguhnya yang mereka rubah adalah makna-maknanya saja dengan takwil, dan dua pendapat ini diucapkan banyaok oleh kaum muslimin, dan yang sahih adalah pendapat ketiga “.


Al-Katibiy menilai

 Pendapat pertama adalah : Banyak dari kitab taurat dan injil yang bukan kalam Allah.

 Pendapat kedua ; tahrif pada kitab-kitab itu hanya berlaku sedikit saja. 

Pendapat ketiga : tahrif hanya terjadi pada maknanya saja bukan lafaznya.


Jika kita melihat penilaian ini pun ada benarnya, sebab :


Pertama : Jika kita katakan bahwa Ibnu Taimiyyah berpendapat tahrif itu sedikit, seharusnya Ibnu Taimiyyah MENSAHIHKAN dan MEMBELA pendapat kedua itu yang mengatakan sedikit tahrif bukan setelahnya kalimat WASH SHAHIH AL-QOUL ATS-TSALITS.  Karena ini bertentangan dengan pengakuan Ibnu Hajar dan Ibnul Qayyim.


Kedua : jika kita katakan kalimat setelah WASH SHAHIH AL-QOUL ATS-TSALITS, maka ini jelas menyalahi fakta yang dipaparkan Ibnu Taimiyyah sendiri, kerana realitanya malah ada EMPAT PENDAPAT bukan TIGA PENDAPAT. Pertama : Kebanyakan isi Taurat itu bathil. Kedua : sedikit terjadinya tahrif. Ketiga : Tahrif hanya ada pada maknanya saja bukan lafaznya. Keempat : Ada naskah asli yang tidak ditahrif sampai masa Nabi dan banyak naskah yang ditahrif.


Penilaian itu sesuai dengan penjelasan dan penyimpulan dari Ibnu Hajar tentang adanya empat pendapat ulama :

اختلف في هذه المسألة على أقوال:
أحدها: أنها بدلت كلها وهو مقتضى القول الممكن بجواز الامتهان وهو إفراط، وينبغي حمل إطلاق من أطلقه على الأكثر، وإلا فهي مكابرة. والآيات والأخبار كثيرة في أنه بقي منها أشياء لم تبدل.. من ذلك قوله تعالى:الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيل [الأعراف:157].
ومن ذلك قصة رجم اليهوديين وفيه وجود آية الرجم، ويؤيده قوله تعالى:قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [آل عمران:93].
ثانيها: أن التبديل وقع ولكن في معظمهما وأدلته كثيرة وينبغي حمل الأول عليه.
ثالثها: وقع في اليسير منها ومعظمها باق على حاله، ونصره الشيخ تقي الدين بن تيمية في كتابه الرد الصحيح على من بدل دين المسيح.
رابعها: أنما وقع التبديل والتغيير في المعاني لا في الألفاظ، وهو المذكور هنا -أي في كلام البخاري- وقد سئل ابن تيمية عن هذه المسألة مجرداً فأجاب في فتاويه: أن للعلماء في ذلك قولين، واحتج للثاني من أوجه كثيرة منها: قوله تعالى:وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ [الأنعام:34]. وهو معارض بقوله:فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ [البقرة:181].
والقول بأن التوراة حرفت معانيها دون ألفاظها قد نسب إلى وهب بن منبه وهو من أعلم الناس بالتوراة. ونسب أيضاً لابن عباس ترجمان القرآن، وهو اختيار الإمام البخاري -رحمه الله-
والصحيح أنها حرفت في ألفاظها ومعانيها


Saya terjemahkan secara global dan jumlah :

Di atas Ibnu Hajar menyimpulkan empat pendapat :


1. Isi taurat telah dirubah semuanya. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud semuanya adalah sebagian besarnya bukan keseluruhannya.

2. Perubahan itu terjadi akan tetapi pada sebagian besarnya. Ibnu Hajar membawa pendapat pertama dengan pendapat kedua ini.

3. perubahan itu hanya terjadi sedikit saja, dan sebagian besarnya masih tetap asli. Ini pendapat yang dibela Ibnu Taimiyyah.

4. Perubahan hanya terjadi pada maknanya saja bukan lafaznya. Ini ikhtiyar imam Bukhari dan Ibnu Taimiyyah juga pernah ditanya masalah ini dan dijawab dalam fatwa tersendirinya.

Empat pendapat ini sesuai dengan teks Ibnu Taimiyyah di atas.


Mengkompromikan teks Ibnu Taimiyyah dengan teks Ibnu Hajar lebih selamat dan sesuai realitanya ketimbang membiarkan teks itu musykil, mubham dan sedikit ada kejanggalan.


Maka jika melihat fakta ini, sungguh sesuai dan benar apa yang dikatakan oleh sebagian ulama seperti al-Hafidz al-Alaai guru dari al-Hafidz al-Iraqi yang menyebutkan bahwa al-Muhaddits dan ahli sejarah Ibnu Thulun meriwayatkan nash dari Ibnu Taimiyyah secara MAKHTHUTH (tertulis) bahkan MUSHONNAF (terkarang) bahwa Ibnu Taimiyyah mengatakan :


ان التوراة لم تبدل الفاظها بل هي باقيه على ما انزلت و انما وقع التحريف في تاويلها

“ Sesungguhnya Taurat itu tidak diganti lafaz-lafaznya, bahkan ia tetap asli sebagaimana ketika diturunkan, dan yang terjadi perubahan hanyalah dalam takwilnya saja “. (Dakhairul Qashr : 96)


Imam Muhammad Zahid al-Kautsari penumpas ahli bid’ah mengatakan :

و لو قلنا لم يبل الاسلام في الأدوار الأخيره بمن هو أضر من أبن تيميه قي تفريق كلمة المسلمين لما كنا مبالغين في ذلك ، وهو سهل متسامح مع اليهود يقول عن كتبهم انها لم تحرف تحريفا لفظيا

“ Seandainya kami katakan, tidak ada yang lebih berbahaya dari Ibnu Taimiyyah di dalam merusak agama Islam belakangan ini di dalam memecah belah persatuan umat Muslim, maka kami tidak akan keras menolaknnya. Dia begitu welcom bersama Yahudi, dan mengtakan tentang kitab mereka bahwasanya kitab mereka tidak dirubah lafaznya “. (al-Isyqaaq ‘alaa Ahkaam ath-Thalaq : 72)


Penjelasan ini sungguh sesuai dengan yang dijelaskan al-Katibiy secara singkat dalam risalahnya yang meluruskan isu Ibnu Taimiyyah itu.


Lalu apa tujuan Ibnu Taimiyyah dalam membela Taurat yang sudah muharraf ini ??


Saya akan nukil apa yang dikatakan oleh al-Katibiy dan memberikan penjelasan serta penguatnya, al-Katibiy mengatakan :


“....dengan bertujuan menguatkan akidah tajsimnya, sebab dalam kitab Taurat dan Injil yang sekarang banyak menyebutkan akidah tajsim dan tasybih pada Allah Ta’aala.”
Maksudnya dalam bab ini, Ibnu Taimiyyah membenarkan teks atau redaksi Taurat yang menyebutkan ayat-ayat mutasyabihat yang lebih mengarah pada tajsim kepada Allah. Padahal jumhur ulama mengatakan bahwa Taurat yang sekarang sudah ditahrif sama ada lafaz atau maknanya.


Bahkan ini diakui dan dikuatkan oleh ulama wahabi yang bernama Hamud at-Tuwaijari dalam kitabnya “ 
Aqidah ahlil Iman fii Khalqi Adam ‘ala shurah ar-Rahman “ halaman 76 sebagai berikut :


و ايضا فهذا المعنى عند اهل الكتاب من الكتب المأثورة عن الأنبياء كالتوراة فإن في السفر الأول منها سنخلق بشر على صورتنا يشبهها

“ Dan juga makna ini menurut ahli kitab dari kitab-kitab yang datang dari ara Nabi seperti Taurat dalam Safar Awalnya di antaranyan : “ Kami akan menciptakan manusia sesuai bentuk kami yang serupa “.


Pada halaman 77 ia mengatakan :


فمن المعلوم ان هذه النسخ الموجودة اليوم بالتوراة و نحوها قد كانت موجودة على عهد النبي صلى الله عليه و سلم فلو كان ما فيها من الصفات كذبا و افتراء و وصفا لله بما يجب تنزيهه عنه كالشركاء و الأولاد لكان انكار ذلك عليهم موجودا في كلام النبي او الصحابة او التابعين كما انكروا عليهم ما دون ذلك و قد عابهم الله في القرآن بما هو دون ذلك فلو كان هذا عيبا لكان عيب الله لهم به اعظم و ذمهم عليه اشد


“ Sudah maklum bahwa naskah yang ada ini dari Taurat dan semisalnya, sungguh telah ada pada masa Nabi shalllahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya ayat-ayat sifat dalam Taurat dan semisalnya itu dusta dan suatu sifat yang wajib disucikan dari Allah sebagaimana sekutu-sekutu dan anak, maka niscaya keingkaran hal itu ada juga dalam ucapan Nabi, sahabat atau tabi’in sebagaimana mereka mengingkari hal selain itu dan Allah telah menyatakan aib pada mereka dalam al-Quran pada selain hal itu. Seandainya itu (ayat sifat dalam taurat dan injil) adalah aib, niscaya Allah sudah menyatakan hal itu aib pada mereka lebih besar dan sangat “. 


Sekarang kita simak pengakuan dari Ibnu Taimiyyah sendiri berikut ini :


قد علم ان التوراة مملؤة باثبات الصفات التي تسميها النفاة تجسيما ومع هذا فلم ينكر رسول الله صلي الله عليه وسلم واصحابه علي اليهود شيئا من ذلك ولا قالوا : انتم تجسمون بل كان أحبار اليهود اذا ذكروا عند النبي صلي الله عليه وسلم شيئا من الصفات أقرهم رسول الله صلي الله عليه وسلم (وذكر ما يصدقه) كما في حديث الحبر الذي ذكر له إمساك الرب للسموات والارض المذكور في تفسير قوله تعالي (وما قدروا الله حق قدره).


“ Sungguh telah diketahui bahwa Taurat isinya penuh dengan penetapan sifat yang dinamakan oleh para penafinya (yang ia maksud adalah asy’ariyyah dan mu’aththilah) sebagai tajsim. Padahal Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam dan sahabat tidak mengungkiri kepada Yahudi sedikit pun dari hal itu dan tidak pula mengatakan : “ Kalian telah menjisimkan Allah, bahkan para pendeta Yahudi jika menyebutkan dari ayat sifat di hadapan Nabi, maka Nabi pun mengakuinya dan membenarkannya sebagaimana dalam hadits Habr yang menyebutkan penahanan Allah terhadap langit dan bumi yang telah disebutkan dalam tafsir firman Allah Ta’ala : “ Dan tidaklah mereka mampu mengukur Allah dengan sebenar-benarnya pengukuran “. (Minhaj as-Sunnah : 1/251)


Di lain kitab Ibnu Taimiyyah juga mengatakan :


 فلو كان ما في التوراة من الصفات التي تقول النفاة إنها تشبيه وتجسيم فإن فيها من ذلك ما تنكره النفاة وتسميه تشبيهاً وتجسيماً بل فيها إثبات الجهة ، وتكلم الله بالصوت ، وخلق آدم على صورته وأمثال هذه الأمور ، فإن كان هذا مما كذبته اليهود وبدلته ، كان إنكار النبي(صلى الله عليه وآله وسلم) لذلك وبيان ذلك أولى من ذكر ما هو دون ذلك ! فكيف والمنصوص عنه موافقٌ للمنصوص في التوراة ! فإنك تجد عامة ماجاء به الكتاب والأحاديث[في الصفات]موافقاً مطابقاً لما ذكر في التوراة


“ Seandainya apa yang ada dalam taurat dari ayat sifat yang dikatakan oleh para penafinya sebagai tasybih dan tajsim, maka di dalamnya sungguh ada apa yang dingkari oleh mereka dan mereka namakan sebagai tasybih dan tajsim, bahkan ada penetapan arah bagi Allah, berbicaranya Allah dengan suara, penciptaan Adam atas bentuk Allah dan semisalnya. Seandainya hal ini termasuk apa yang didustakan dan dirubah oleh Yahudi, maka pengingkaran dan penejlasan Nabi atas hal itu lebih utama dari penyebutan hal selain itu, bagaimana tidak sedangkan nash darinya sesuai dengan nash dalam taurat. Karena kamu menemukan pada umumnya apa yang datang dari al-Quran dan hadits dalam ayat sifat, telah sesuai dan cocok terhadap apa yang telah disebutkan dalam taurat “. (al-Aqlu fi Fahmil Quran : 88)


Dari nash-nash Ibnu Taimiyyah itu dapat dipahami bahwa ia benar-benar meyakini bahwasanya teks-teks sifat dalam Taurat sungguh sesuai dengan teks-teks sifat dalam al-Quran dan Hadits. Dalam kata lain, Ibnu Taimiyyah meyakini bahwasanya teks-teks mutaysabihat dalam Taurat Yahudi tidak ditahrif sama sekali. Dan dia telah mencela orang-orang yang menafikan hal itu.


Pada kalimat sebelumnya, Ibnu Taimiyyah mengatakan :


ومن المعلوم لمن له عناية بالقرآن أن جمهور اليهود لاتقول إن عزيركذا ابن الله ، وإنما قاله طائفة منهم ، كما قد نقل أنه قال فنحاص بن عازورا ، أو هو وغيره. وبالجملة ، إن قائلي ذلك من اليهود قليل


“ sudah maklum bagi orang yang memiliki inayah (kekuatan pemahaman) pada al-Quran, akan memahami bahwasanya mayoritas Yahudi tidak mengucapkan : “ Uzair adalah anak Allah “, yang mengatakan hal itu hanyalah sekelompok dari mereka saja sebagaimana telah dinukil bahwasanya ia berkata : Nuhas bin Azuura atau dia dan selainnya “. Kesimpulannya, sesungguhnya orang-orang Yahudi yang mengatakan hal itu hanyalah sebagian kecil saja..” (al-Aqlu fi Fahmil Quran : 88)


Ini artinya, satu perkara yang dicela (dikatakan aib) oleh Allah pada Yahudi dalam tauhid mereka hanyalah ucapan mereka “ Uzair adalah anak Allah “, dalam kata lain Ibnu Taimiyyah mengakui selain itu dari ayat sifat Taurat adalah benar dan sesuai al-Quran. Maka Apa yang dijelaskan al-Katibi bukan lah kekeliruan / kesilapan apalagi fitnah, ini benar-benar fakta dan realita.   






















About Asyaari Maturidi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply

Kerajaan