Asrie
bin Shobrie mengatakan :
Ini menjelaskan prinsip yang sabit dan
terang pada ‘aqal bahawa menetapkan sifat mengikut kesesuaian mausuf (zat)
tidak membawa kepada ((tasybih)) seperti jika seseorang berkata: “tangan Zaid”
dan “tangan ‘Amru” maka tidak ada seorang pun yang beraqal dalam ‘alam ini akan
berkata si fulan ini telah mentasybihkan Zaid dengan ‘Amru dan sebaliknya.
Bahkan setiap penamaan ‘am apabila disandarkan kepada mausuf atau mudof ilaih
ia akan mempunyai khususiah sesuai dengan keadaan mausuf atau mudof ilaih tadi.
Saya jawab :
Nash-nash shifat semacam ini tidak bisa dinisbatkan dan dilogikan untuk
Allah dan Allah tidak boleh diqiyaskan dengan makhluk-Nya. Makna-makna seperti
YAD pada makna hakekatnya dalam bahasa Arab secara dharuri (pasti) menimbulkan
makna jisim. Makna Yad yang disepakati ulama ahli bahasa hakekatnya adalah
organ yang memiliki ukuran panjang, lebar dan dalam (‘ab’adh tsalats) dan
memiliki batasan. Tidak ada ta’rif / definisi tangan dalam bahasa Arab yang
tidak memiliki tiga sifat tersebut (‘ab’aadh tsalats). Semua maknanya sama
walaupun idhofahnya (sandarannya) berbeda, misal tangan semut, tangan gajah
atau tangan Zaid. Maka tangan pada semua yang disandarkan itu bermakna satu
hakekat yakni jisim dan organ yang memiliki panjang, lebar dan dalam.
Asrie dan kaum wahabi lainnya pun memahami hal ini, mereka memahami Yad
secara hakekatnya (bukan majaz) dalam bahasa Arab tersebut akan tetapi mereka
mentafwidh kaifiyyah (visualisasi) nya padahal ini jelas tajsim dan tasybih.
Jika asrie dan kaum wahabi menolak dan membantah kenyataan ini, dengan
mengatakan bahwa hakekat yang dimaksud adalah hakekat syar’iyyah atau hakekat
yang bermakna tsabit yang berlawanan dengan kebathilan. Missal : Allah memiliki
tangan secara hakekatnya mereka bermaksud Allah memiliki tangan secara benarnya
(sesungguhnya) yang berlawanan dengan kebathilan, maka seharusnya asrie dan
kaum wahabi tidak menolak takwil yang dilakukan sebagian kaum Asy’ariyyah
ketika mentakwil Yad dengan makna yang layak bagi keagungan Allah. Tapi justru
kaum wahabi tetap menolaknya, ini membuktikan makna hakekat yang mereka maksud
tidak ada lain adalah makna hakekat secara bahasa sesuai bahasa Arabnya yang
mengandung tajsim. Naudzu billahi min dzaalik…
Asrie mengatakan :
Misal ‘Aqli menjelaskan lagi masalah ini
adalah: “Penglihatan” adalah sifat dan satu penamaan ‘am yang berkongsi padanya
pelbagai zat yang melihat, namun apabila penglihatan ini disandarkan kepada zat
tertentu maka ia akan mengambil khususiah tersendiri seperti: “Penglihatan
Rusa”, “Penglihatan Zaid”, “Penglihatan Orang Tua” dan seterusnya, setiap
penglihatan ini mempunyai kadar perbezaan mengikut keadaan mausufnya maka
penglihatan Rusa tidak sama seperti penglihatan Zaid dan sebaliknya dan
penglihatan Zaid yang masih muda tidak sama dengan penglihatan orang tua yang
rabun.
Demikian hebatnya perbezaan antara sifat
“penglihatan” berdasarkan perbezaan mausufnya sedangkan ini antara sesama
makhluk, maka tentu sekali apabila ia disandarkan kepada ALLAH zat yang maha
sempurna, ia tidak akan menyerupai sifat penglihatan makhluk sama sekali
walaupun makna ‘am “lihat” ada pada setiap jenis penglihatan iaitu:
“mencapai setiap benda yang boleh dilihat dengan penglihatan”.
Misal lain juga adalah “Tangan”, penamaan
‘am tangan dimaklumi secara fitrah oleh setiap yang ber’aqal tidak berhajat
kepada Takrif bahkan mentakrifkan benda yang maklum secara daruri hanya membawa
kepada “ghumudh” (ketidak jelasan) namun apabila kalimah “Tangan” disandarkan
kepada mausuf yang tertentu seperti: “Tangan Zaid”, “Tangan Orang Utan”,
“Tangan ‘Amru”, …dan seterusnya, maka diketahui setiap tangan ini berbeza dan
mempunyai kaifiat dan khususiah yang sesuai dengan zat yang bersifat dengannya
walaupun semuanya berkongsi pada penamaan ‘am tangan.
Penamaan ‘am atau Lafaz Mutlak tidak wujud
di dunia yang nyata, yang wujud di dunia yang nyata adalah Lafaz Muqayyad atau
Penamaan Khas yang di-qaid-kan dengan mausuf atau mudof ilaih tertentu, yakni:
Tidak ada dalam wujud yang nyata ini zat tanpa sifat atau sifat tanpa zat,
kewujudan zat tanpa sifat hanya gambaran yang tergambar oleh ‘aqal sahaja.
Tidak mungkin kita akan jumpa dalam ‘alam nyata ini “Tangan” yang tidak
disandarkan kepada sesiapa, tanpa sifat, tanpa khususiah bahkan tidak dapat
tidak mesti ada mausuf atau zatnya.
Demikian juga tidak mungkin dalam ‘alam
nyata ini kita akan dapati ada zat tanpa sifat bahkan zat tanpa sifat adalah
((ma’dum)) –tidak wujud- seperti seseorang mendakwa di rumahnya ada seekor
kucing; lalu ditanya kepadanya: adakah kucing kamu itu bulunya lebat? Dijawab:
ia tiada bulu sama sekali. “Adakah ekornya panjang atau pendek?” dijawab: ia
tiada ekor, demikianlah sehingga semua sifat-sifat kucing apabila ditanya dia
menjawab: tiada sama sekali. Lalu dikata kepadanya: “jika begitu kamu tiada
kucing, kucing kamu itu tidak wujud, hanya khayalan kamu sahaja”. Hanya orang
tiada ‘aqal sahaja yang akan menjawab: “saya ada kucing yang hanya ada zat
tanpa sifat!!”.
Maka, menetapkan wujudnya perkongsian pada
penamaan ‘am antara sifat ALLAH dan sifat Makhluk adalah perkara daruri pada
‘Aqal dan secara daruri pada ‘aqal juga ia tidak melazimkan Tasybih, namun
penamaan ‘am adalah sesuatu yang dicapai oleh ‘aqal secara umum untuk memahami
maknanya sahaja, adapun pada hakikat di dunia nyata, setiap sifat wujud dengan
mausufnya yang tersendiri, tidak mungkin ada sifat tanpa zat dan zat tanpa
sifat.
Saya jawab :
Penglihatan atau pendengaran adalah suatu sifat kesempurnaan dari semua
sudut maknanya (ma’nawi) . Jika disandarkan (diidhafahkan) kepada Allah maka
spontanitas tidak akan menimbulkan tasybih dan tajsim. Makna keseluruhan dari
pendengaran adalah mencapai segala apa yang didengar (idrak al-Masmu’aat).
Makna ini tidak menimbulkan tasybih.
Mendengar adalah sifat yang abstrak, maka tidak ada bentuk dan ukurannya, sedangkan tangan, wajh dan turun adalah sifat benda konkrit, atau malah memang benda / jisim konkrit. Mendengar dan
melihat bukan organ, akan tetapi ketika menyandarkan sifat-sifat itu kepada makhluk, melihat adalah sifat mata, dan
mendengar adalah sifat dari telinga. Ketika menyebut Allah Mendengar dan
Melihat, maka kita pahami tanpa keraguan bahwa Allah tidak membutuhkan mata
untuk melihat dan telinga untuk mendengar. Allah itu mendengar dan melihat
bukan dengan fisik, tidak tergantung pada sinar atau getaran, dan bukan melalui
instrumen, dan tidk berurutan atau perubahan.
Kita mengatakan, "Allah melihat
segala sesuatu tanpa awal, instrumen atau urutan," maka melihatnya tidak
membutuhkan spesifikasi dari apa yang dilihat, maupun bagaimana (modalitas)
melihatNya (seperti dengan mata,). Maka apa pun yg tidak memerlukan
spesifikasi, dan tidak memiliki awal dan akhir, maka tidak mengandung makna tasybih (penyerupaan) yang sama dgn ciptaan / mahluk. hal ini berbeda dgn anggota tubuh
seperti tangan, karena tangan
memiliki spesifikasi fisik, dan hal yg memiliki spesifikasi pasti membutuhkan
seseorang untuk menentukan bagaimana bentuknya [pencipta].
Isytirak (persamaan) sifat mendengar Allah dan sifat mendengar makhluk,
hanya persamaan di dalam lafaznya saja (isytirak lafdzi) bukan persamaan di
dalam makna (isytirak fil ma’na). asrie dan kaum wahai ketika menetapkan sifat
mata bagi Allah secara hakikatnya (bukan majaz), maka seketika itu mereka telah
menyamakan Allah dengan makhluk-Nya dari segi maknanya bukan dari segi lafaznya
dan inilah tajsim dan tasybih yang sesungguhnya. Kerana makna mata secara
hakekatnya adalah organ yang digunakan untuk melihat. Ketika mata kita
sandarkan kepada gajah, kucing, manusia, maka memang memiliki kaifiyyah yang
berbeda-beda, yakni mata gajah besar, mata kucing kecil demikian mata manusia,
namun makna hakekatnya adalah sama yaitu organ yang digunakan untuk melihat.
Demikian juga ketika kaum wahabi menetapkan sifat mata secara hakekatnya
(bukan majaz) maka ketika itu juga mereka menyamakan (mentasybih) Allah dengan
makhluknya yakni Allah memiliki organ yang digunakan untuk melihat, walaupun
kaifiyyahnya (visualisasinya) berbeda dari mata makhluk-Nya. Ingat tasybih “
penyerupaan “ yang mereka lakukan adalah “ ORGAN UNTUK MELIHAT “. Artinya
Allah, gajah, kucing, manusia memiliki organ untuk melihat namun kesmuanya itu
kafiyyahnya (visusalisasinya) tidak sama. Dengan ini kaum wahabi menyamakan
Allah dengan makhluk-Nya di dalam isytirak maknanya. Maka tidak bermanfaat lagi
ucapan wahabi : “ Tanpa tasybih (tanpa penyerupaan) “, sebab ia hanya
meniadakan atau menafikan lafaz tasybih saja bukan maknanya.
Asrie dan kaum wahabi sebenarnya telah mengqiyaskan Allah dengan apa yang
wujud pada makhluk-Nya dengan menetapkan kaifiyyah yang berbeda dari kaifiyyah
lainnya. Inilah tasybih yang sesungguhnya.
Oleh sebab itu ketika imam Sufyan bin Uyainah berkata :
“ Semua yang Allah sifatkan dalam kitabnya, maka tafsirnya adalah
pembacaannya dan diam darinya “, maka imam Baihaqi mengomentarinya
:
قَالَ الشَّيْخُ :
وَإِنَّمَا أَرَادَ بِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ فِيمَا تَفْسِيرُهُ يُؤَدِّي إِلَى
تَكْيِيفٍ ، وَتَكْيِيفُهُ يَقْتَضِي تَشْبِيهَهُ لَهُ بِخَلْقِهِ فِي أَوْصَافِ
الْحُدُوثِ
“ Syaikh (Baihaqi) berkata, “ Sesungguhnya yang
dimaksud (imam Sufyan) –wa Allahu A’lam- adalah pada penafsiran yang
menimbulkan takyiif (kaifiyyah) sedangkan menetapkan takyiif bagi Allah
menyebabkan penyerupaan kepada Allah dengan makhluk-Nya di dalam sifat-sifat
baharu “. [1]
Artinya imam Baihaqi menafikan kaifiyyah muthlaq bagi Allah. Sebagaimana
ucapan imam Malik yang mengatakan :
ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع
“ Tidak
dikatakan bagiNya kaif, dan kaif bagi Allah itu diangkat “ artinya kaif bagi Allah itu mustahil.
Asrie mengatakan :
Jika sudah difahami akan perkara ini, maka
kita ketahui setiap ayat-ayat sifat dalam al-Quran datang dengan “qaid” dan
disandarkan kepada ALLAH ta’ala seperti firman ALLAH ta’ala:
قَالَ
يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ
أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ
Maksudnya: “Dia berkata: Wahai Iblis
apakah yang menghalang kamu daripada sujud kepada apa yang Aku telah ciptakan
dengan dua tangan-Ku? Adakah kamu sombong atau daripada golongan yang meninggi
diri?!!” [ ص: 75]
Kalimah ((Yad)) –tangan- dalam ayat ini
jelas disandarkan kepada ALLAH ta’ala, maka zahir ayat ini jelas menyatakan
tangan yang disandarkan kepada ALLAH ta’ala maka tentu sekali zahirnya sifat
yang layak dengan zat ALLAH ta’ala. Maka bagaimana ‘aqal yang sihat boleh
menyangka ayat ini ada “Tasybih”?? Tidak ada orang yang menyangka ayat ini ada
Tasybih melainkan dalam hatinya sudah ada penyakit Tasybih Zat ALLAH dengan zat
Makhluk. –na’uzubillah min zalik-.
Namun, dalam masa yang sama, ‘aqal kita juga
faham maksud ((al-Yad)) kerana di sana ada penamaan ‘am bagi kalimah ((al-Yad))
–tangan- namun apabila al-Yad disandarkan kepada mausuf; ALLAH ta’ala maka
‘aqal juga faham Tangan di sini tidak sama khususiah dan kaifiatnya dengan Yad
–tangan- yang disandarkan pada makhluk seperti mana ‘aqal faham perkataan:
Tangan Zaid dan Tangan Orang Utan.
Saya jawab :
Lafaz Yad (tangan) yang disandarkan kepada Allah secara zahir sudah pasti
bermakna organ tertentu yang memiliki batasan seperti panjang, lebar dan dalam.
Kerana inilah makna zahir dalam bahasa Arabnya.
Ketika seorang ayah mengajarkan anaknya, ia mengisyaratkan kepada matanya,
lalu berkata “ ini mata “, kemudian ia mengisyaratkan kepada mata anaknya dan
berkata : “ ini mata “. Walaupun mata ayah dan anaknya berbeda dalam
visusalisasinya (kaifiyyahnya), maka anak akan memahami bahwa matanya dan mata
ayahnya sama-sama organ yang manfaatnya untuk melihat. Maka tatkala anak itu
melihat mata kucing dan gajah, kemudian ayahnya menanyakan hal itu, maka anak
itu akan menajwab : “ Itu mata “. Namun saat sang ayah berbicara “ Mata Air “,
sang anak akan bertanya : “ Apakah air punya mata ? “ maka pemahaman sang anak
saat itu menjadi samar, kerana yang ia tahu selama ini adalah makna mata secara
zahir dan hakekatnya yaitu organ yang digunakan untuk melihat. Itulah gambaran
zahir dan hakekat dari lafaz mata yang sesungguhnya.
Maka ketika Arsie dan wahabi menyandarkan lafaz mata kepada Allah secara
zahir dan hakekatnya, secara spontanitas akan dipahami Allah memiliki organ
yang digunakan untuk melihat walaupun menyebut kaifiyyahnya (visualisasi) mata
Allah berbeda. Justru ini merupakan tasybih besar (penyerupaaan yang besar)
terhadap Allah dengan makhluk-Nya ketimbang mengatakan Allah ada kaifiyyah yang
tidak diketahui. Sebab menetapkan kaifiyyah Allah yang berbeda dengan kaifiyyah
makhluk, ini taysbih ringan ketimbang menetapkan organ atau anggota bagi Allah
yang merupakan tasybih besar terhadap Allah dengan makhluk-Nya. Naudzu billahi min dzaalik..
Jika Asrie dan kaum wahabi mengatakan : “ Kami menafikan tangan Allah
seperti makhluk-Nya akan tetapi kami menetapkan tangan yang layak bagi
keagungan Allah “.
Maka kita jawab : “ Akal tidak mengenal makna tangan selain itu. Seandainya
tangan yang kalian katakan tangan Allah yang layak bagi Allah itu memiliki
susunan (tarkib), maka bagaimana pun kaifiyyahnya (visualisasinya) tetap tidak
akan layak bagi Allah, kerana tidak menafikan tangan yang sudah dikenal.
Jika Asrie mengatakan : “ Tangan yang layak bagi Allah yang tidak memiliki
susunan “.

“ Dan langit kami bangun dengan “ aydin “ dan kami
benar-benar meluaskannya “. (Ibnu Katisr menafsirkan) : “ Dan langit kami
bangun”, maksunya adalah kami jadikan atap yang terjaga dan tinggi , “ Dengan
ayidn “, maksudnya adalah dengan kekuasaan “, telah menafsirkan hal itu (dengan
kekuasaan) Abbas, Mujahid, Qatadah, ast-Tsauri dan selain satu (banyak) “. [2]
Jika Asrie dan kaum wahabi mau sedikit berpikir cerdas, maka mereka akan
menemukan fakta berikut dalam al-Quran :
Semua nash yang menyebutkan shifat yang bukan khobariyyah, maka susunan
kalimatnya (siyaqul kalamnya) disebutkan secara essential (menyebutkan mengenai
sifat), namun setiap nash yang khobariyyah, disebutkan dalam al-Quran secara
tidak essential, ini artinya setiap sifat yang secara akal menunjukkan wajib
adanya, maka disebutkan secara maksud pada dzat-Nya, contoh :
“ Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah “ (QS. Muhammad : 19) dan
ayat : “ Ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetaui atas segala sesuatu “. (QS.
Al-Baqarah : 231) dan ayat : “ Dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Melihat
apa yang kamu lakukan “ ( QS. Al-Baqarah : 233)
Ini berbeda dengan sifat khobariyyah yang disebutkan bukan dalam konteks
essential, contoh : Allah berfirman : “ Berjalan dengan a’yun (mata) sebagai
balasan Kami bagi yang orang yang kufuri “ (QS. Al-Qamar : 14), ayat ini
disebutkan dalam konteks menceritakan perjalanan prahu Nabi Nuh. Allah juga
berfirman : “ Bahkan Yadah (kedua tangan) Allah terbentang luas, yang
memberikan nafkah kepada siapa yang dikehendaki-Nya “ (QS. Al-Maidah : 64),
ayat ini disebutkan dalam konteks menjelaskan kedermawanan Allah.
Tidak pernah ada dalam al-Quran yang secara langsung mengatakan : “
Ketahuilah sesungguhnya Allah memiliki kedua tangan “, atau “ Beriman lah
kepada Allah yang memiliki wajah, tangan, kaki dan jari “. Renungilah ini wahai
Asrie dan kaum wahabi…
Asrie mengatakan :
Apabila ALLAH ta’ala berkata dalam al-Quran:
وَكَانَ
اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
Maksudnya: “dan adalah ALLAH itu sentiasa
mendengar dan melihat” [al-Nisaa': 134]
‘Aqal
memahami zahir ayat ini jelas sifat mendengar dan melihat di sini disandarkan
kepada ALLAH ta’ala maka ada “Qadar Fariq” –kadar pemisah- yang membezakan
kaifiat dan khususiah pendengaran dan penglihatan yang disandarkan kepada
ALLAH dengan pengdengaran dan penglihatan dalam ayat berikut:
إِنَّا
خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ
سَمِيعًا بَصِيرًا
Maksudnya: “Sesungguhnya Kami telah
menciptakan Insan daripada “nutfah” yang bercampur (mani lelaki dan mani
wanita) lalu Kami uji dia maka kami jadikan dia mendengar dan melihat”.
[al-Insan: 2]
Pendengaran dan Penglihatan dalam ayat ini
disandarkan kepada insan yang makhluk namun ‘aqal tahu dan faham “Qadar
Musytarak” –kadar yang dikongsi- antara dua penglihatan dan pendengaran ini
pada penamaan ‘am seperti mana ‘aqal faham pernyataan: “Zaid mendengar, Burung
mendengar”, dan “Zaid melihat, Burung melihat”. Tidak ada ‘aqal waras memahami
pernyataan ini men-tasybih-kan Zaid dengan Burung.
Saya jawab :
Justru ini
hujjah bagi kami atas kalian, kerana ini menunjukkan bahwa penafian segala
sesuatu terhadap Allah, tidaklah mencegah Allah bersifat dengan sifat-sifat
kesempurnaan makna yang makhluk-Nya juga bersifat dengannya. Adapun lafaz tangan, kaki, wajah dan jari
secara akal ini pasti mewahamkan pada organ yang ada pada makhluk, sehingga
akan menyebankan pemahaman Allah serupa pada makhluk dari sisi organ dan
anggotanya meskipun berbeda kaifiyyahnya.
Di atas telah saya jelaskn bahwa
isytirak (persamaan) sifat mendengar Allah dan sifat mendengar makhluk, hanya
persamaan di dalam lafaznya saja (isytirak lafdzi) bukan persamaan di dalam
makna (isytirak fil ma’na). asrie dan kaum wahai ketika menetapkan sifat mata
bagi Allah secara hakikatnya (bukan majaz), maka seketika itu mereka telah
menyamakan Allah dengan makhluk-Nya dari segi maknanya bukan dari segi lafaznya
dan inilah tajsim dan tasybih yang sesungguhnya. Kerana makna
mata secara hakekatnya adalah organ yang digunakan untuk melihat. Ketika mata
kita sandarkan kepada gajah, kucing, manusia, maka memang memiliki kaifiyyah
yang berbeda-beda, yakni mata gajah besar, mata kucing kecil demikian mata
manusia, namun makna hakekatnya adalah sama yaitu organ yang digunakan untuk
melihat.
Demikian juga ketika kaum wahabi menetapkan sifat mata secara hakekatnya
(bukan majaz) maka ketika itu juga mereka menyamakan (mentasybih) Allah dengan
makhluknya yakni Allah memiliki organ yang digunakan untuk melihat, walaupun
kaifiyyahnya (visualisasinya) berbeda dari mata makhluk-Nya. Ingat tasybih “
penyerupaan “ yang mereka lakukan adalah “ ORGAN UNTUK MELIHAT “. Artinya
Allah, gajah, kucing, manusia memiliki organ untuk melihat namun kesmuanya itu
kafiyyahnya (visusalisasinya) tidak sama. Dengan ini kaum wahabi menyamakan
Allah dengan makhluk-Nya di dalam isytirak maknanya. Maka tidak bermanfaat lagi
ucapan wahabi : “ Tanpa tasybih (tanpa penyerupaan) “, sebab ia hanya
meniadakan atau menafikan lafaz tasybih saja bukan maknanya.
Asrie mengatakan :
Lalu, di celah mana hendak dikatakan adanya
Tasybih pada zahir nas al-Quran dan al-Sunnah? Hanya mereka yang rosak
fitrahnya, kurang waras aqalnya sahaja yang akan menyangka ada Tasybih.
Saya jawab :
Berarti menurut
Asrie beberapa ulama ahlus sunnah ; imam Qurthubi, imam Ibnu Jama’ah, imam
asy-Syathibi, imam Ibnu Hajar, imam al-Alusi, ia-Karmani, imam al-Utbi dan
ratusan ulama lainnya ini rosak fitrahnya dan kurang waras akalnya?? Dan hanya Asrie dan segelintir
kaum wahabi yang sehat fitrahnya dan waras akalnya ??
Imam
Al-Qurthubi mengatakan :
“ Sungguh telah diketahui sesungguhnya madzhab ulama
salaf adalah meninggalkan memperdalam (pembicaraan makna) disertai keyakinan
mereka dengan kemustahilan zahir-zahirnya, maka mereka mengatakan : “ Laluilah
sebagaimana datangnya “.[3]
Al-Imam Badruddin bin Jama’ah[4] menegaskan bahwa kaum yang memegang makna zahir adalah kaum yang berdusta atas nama
ulama salaf :
“ Barangsiapa yang menganut (mengaku) mengikuti ucapan
ulama salaf, dan berucap dengan ucapan tasybih (penyerupaan) atau takyiif
(visualisasi), atau membawa lafaz atas zahirnya dari apa yang Allah Maha Suci
darinya berupa sifat-sifat baharu, maka dia telah berdusta mengaku mengikuti
madzhab salaf, lepas dari ucapan dan keseimbangan salaf “. [5]
Imam asy-Syathibi mengatakan :
ومثاله في ملة الاسلام مذهب الظاهرية في
اثبات الجوارح للرب المنزه عن النقائص من العين واليد والرجل والوجه المحسوسات
والجهة وغير ذالك من الثابت للمحدثات
“ Dan misalnya (ahli bid’ah yang menyimpang dari ushul) di dalam
agama Islam adalah madzhab Dhzahiriyyah (kelompok literalisme) yang menetapkan
anggota tubuh (organ tubuh) bagi Allah yang Maha Suci dari segala kekurangan, berupa
dari mata, tangan, kaki, wajah yang bersifat indrawi, arah dan selainnya dari
penetapan hal-hal yang baru “.[6]
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani berkata :
“ Ucapan : “ Allah Ta’ala turun di setiap malam “,
Umat Islam berbeda pendapat dalam memehami makna turun, atas beberapa pendapat.
Di antara mereka ada yang membawa maknanya atas zahirnya, mereka adalah kaum
musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk), dan Allah Maha Suci dari
ucapan mereka ini. Di antara mereka ada yang mengingkari kesahihan
hadits-hadits yang warid itu secara jumlah, mereka adalah kaum khowarij dan
Mu’tazilah, ini adalah sebuah kesombongan nyata. Di antara mereka ada yang
mentakwilnya. Di antara mereka ada yang melaluinnya atas apa yang datang,
dengan mengimaninya dengan jalan pemahaman globalnya, dengan tetap mensucikan
Allah dari kaifiyyah dan tasybih, mereka adalah madzhab mayoritas ulama salaf “[7].
Imam Al Alusi
dalam tafsir Ruhul Ma’ani Berkata:
وأنت تعلم أن المشهور من مذهب السلف عدم تأويل
مثل ذلك بتقدير مضاف ونحوه بل تفويض المراد منه إلى اللطيف الخبير مع الجزم بعدم إرادة
الظاهر
“Engkau telah mengetahui, bahwa yang
masyhur dari madzhab salaf adalah meniadakan takwil seperti itu, dengan cara
menambahkan atau lainnya, tetapi (mereka)
tafwidh (menyerahkan) maksudnya kepada Al Lathiful Khabir (maksudnya
Allah Ta’ala) beserta meyakininyadengan tanpa mengkehendakinya secara literal.”
[8]
Imam Al-Hafiz
Al-Karmani (786 H) berkata:
قوله ( في السماء
( ظاهره غير مراد ، إذ الله منزه عن الحلول في المكان
Maksudnya: "Perkataan Allah
"fis sama'" maka makna dhahirnya bukanlah yang dimaksudkan oleh Allah
s.w.t. krna Allah s.w.t. tidak bertempat pada tempat manapun, [Fath Al-Bari:
13/412].
Imam Al-Utbi (ulama’ hadith) berkata:
ومذهب أهل الحق في جميع ذلك أن يصرف
اللفظ عن ظاهره المحال
“Mazhab Ahli Al-Haq pada setiap (nas-nas
mutasyabihat) ialah, memalingkan lafaz daripada makna dhahirnya yang mustahil
(bagi Allah)…” [Syarah Sahih Muslim 2/385]
Rosak fitrah
dan kurang waraskah akah para ulama besar ini kerana meyakini bahwa adanya
Tasybih pada zahir nas al-Quran dan al-Sunnah. Asrie dan kaum wahabi lainnya
mungkin akan lebih kaget lagi jika mengetahui fakta imam Ahmad pernah
mengingkari kaum Jahmiyyah yang selalu berpegang dengan makna zahir nash
al-Quran dan menolak takwil yang dilakukan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam.
Asrie
mengatakan :
Memahami kaedah ini sekaligus memadamkan
syubhat “Takwil” yakni: Tahrif di sisi Ahli Kalam sama ada Takwil Mufassal
mahupun Takwil Mujmal ((Tafwidh)) kerana Ahli Kalam bersepakat untuk
mengalihkan maksud nas-nas Sifat daripada makna zahir bahkan mengalihkannya
daripada makna ‘am yang musytarak pada Kulli (bukan pada “Kull”) kemudian
mereka mempunyai pilihan sama ada untuk menetapkan makna baharu bagi nas
ataupun tidak.
Misalnya kalimah “Tangan” dalam ayat
terdahulu, Ahli Kalam bersepakat bahawa kalimah “Tangan” dalam ayat ini bukan
bermaksud Tangan yang difahami ‘Aqal pada penamaan ‘am tetapi ia sesuatu yang
lain. Namun apakah sesuatu yang lain ini? Maka Ahli Takwil akan menjawab:
maknanya “Qudrah” atau “Nikmat” adapun Ahli Tafwidh akan menjawab: “ALLAH jua
yang mengetahui maksud sebenarnya, yang pasti ia bukan tangan seperti yang
difahamai ‘aqal pada penamaan ‘am”.
Oleh itu, Tafwidh di sisi Ahli Kalam
bukanlah “Isbat” seperti yang dikehendaki oleh as-Salaf, adapun as-Salaf mereka
menetapkan makna ‘am (penamaan ‘am) yang menjadi kadar perkongsian setiap
maujud untuk membolehkan ‘aqal memahami makna sesuatu dan dalam masa yang sama mereka
menetapkan adanya “Qadar Fariq” –yang menjadi pembeza dan pemisah antara
kaifiat sifat ALLAH dengan kaifiat sifat makhluk yang menghalang berlakunya
Tasybih.
Saya jawab :
Ini tuduhan yang berdasarkan pemahaman sempit Asrie yang taqlid dengan
ulama wahabi lainnya. Sebagaimana di awal telah saya katakan bahwa tafwidh
bukan berarti menafikan sifat dan tidak mengetahui maknanya. Tafwidh adalah
mengimani nash tersebut membenarkannya, menafikan makna zahir yang menimbulkan
taysbih kepada Allah dan tidak menentukan satu makna dari makna-makna majaznya.
Missal; Istiwa, maka mufawwidhah mengimani dan membenarkan Istiwa (dan ini
sudah disebut istbat), kemudian menafikan makna istiwa yang menimbulkan jarihah
yakni tidak memahami dengan istiwa secara zahir (duduk, bersemayam dan
lain-lain), kemudian juga tidak menentukan satu makna dari sekian banyak makna
majaz Istiwa dari segi bahasa Arabnya. Inilah makna istilah tafwidh yang
sebanrnya dipegang oleh ulama salaf.
Ibnu Khuzaimah yang kalamnya dinukil oleh Abul Jauza di atas,
menyatakan sebagai berikut :
“
Para imam kaum muslimin dan perintis madzhab serta para pemimpin agama seperti
Malik, Sufyan, al-Awza’i, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Yahya, Ibnul
Mubarak, Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf, tidak membicarakan
hal itu (ayat shifat) dan mencegah para pengikutnya mendalaminya serta
menunjukkan mereka atas al-Quran dan Sunnah “.[9]
Dari penjelasan beliau dapat kita pahami bahwasanya para ulama
salaf di atas, sama sekali tidak mau membicarakan makna dari ayat-ayat
mutaysabihat khsusunya ayat atau hadits shifat. Mereka menyerahkan maknanya
kepada Allah. Dan mereka hanya cukup pemahaman secara globalnya saja, Contoh :
بل
يداه مبسوطتان
“ Akan tetapi kedua tangan-Nya terbentang luas “.
Secara global, ulama salaf memahami bahwa Allah
sangat luas kedermawanan-Nya. Adapun secara terperinci baik makna hakikat atau
majaz, maka para ulama salaf tidak ada satu pun yang menentukan makna-maknanya
tersebut, mereka menyerahkan makna kepada Allah Ta’ala dengan terlebih dahulu
mensucikan Allah dari segala sifat kekurangan dan sifat makhluk-Nya. Maka apa
yang diklaim Abul Jauza dan menuduh Asy’ariyyah meneyelisihi sunnah dan ulama
salaf, sangatlah tidak benar, itu semata-mata hanya pemahaman rekaan (dhann)
Abul Jauza dan kaum wahabi saja, justru faktanya pemahaman Abul Jauza dan kaum
wahabi sangat menyelisihi pemahaman ulama salaf dan kholaf, menyimpang dari
pemahaman mayoritas umat Muslim, Naudzu billah min sus-il fahm wal i’tiqad.
Asrie
mengatakan :
Imam Mufassirin ‘Ikrimah –rahimahullah- [w.
104 H, Maula Ibn 'Abbas radiallahu 'anhuma] ketika mentafsirkan ayat:
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
Maksudnya: “Bahkan kedua-dua tangan-Nya
terbuka luas” [al-Maidah: 64]
Kata beliau-rahimahullah-:
يعني:
اليدين
Maksudnya: “Yakni: dua tangan”
Nafi’ bin ‘Umar al-Jumahi –rahimahullah-
bertanya kepada Imam Ibn Abi Mulaikah –rahimahullah- [w. 117 H, Tabi'in]
berkenaan “Tangan ALLAH”; satu atau dua? Jawab beliau: “bahkan dua”.
‘Asim al-Jahdari –rahimahullah- [w.128 H,
ulama' tafsir yang masyhur] ketika mentafsirkan ayat 75 surah ص yang terdahulu
berkata:
قال:
((بيديه))
Kata beliau: “dengan dua tangan-Nya”
[Rujuk: Radd al-Darimi 'ala Bisyr al-Marisi, m.s 38, tahqiq:
Muhammad Hamid al-Faqi].
Saya jawab :
Nukilan di atas sama sekali tidak memahamkan tangan
Allah secara zahir dan hakekatnya, akan tetapi hanya menetapkan lafaz yadain
tanpa memaknai makna zahirnya. Imam Ibnu
Hajar menukil / menaqal ucapan imam Ibnu Baththal berikut
ini :
“
Ibnu Baththal berkata : “ Dalam ayat ini ada penetapan kedua tangan bagi Allah,
keduanya adalah dua sifat dari sifat-sifat Dzat Allah, dan bukan berbentuk
jarihah (anggota tubuh), berbeda halnya dengan pendapat kaum musyabbihah (yang
menyerupakan Allah dengan makhluk) dari kalangan mutsbitah (kaum yang
menetapkan sifat Allah) dan kaum Jahmiyyah dari kalangan mu’aththilah (kaum
yang menafikan sifat Allah) “.[10]
Dari ucapan Ibnu Baththal diketahui bahwasanya dari kaum
Mutsbitah ada yang menetapkan sifat Allah dan memahaminya secara dhahir dengan
jarihah (anggota tubuh), sindirian ini sangat sesuai dengan pemikiran Asrie di
atas dan kaum wahabi lainnya yang sadar atau tidak telah berkeyakinan Allah
memiliki jarihah, bahkan ada sebagian kaum wahabi yang mengakui secara
terang-terangan akan hal ini sebagaimana telah saya sebutkan di atas. Naudzu
billah min su-il fahm..
p/s: Ada beberapa matan arab dalam bentuk image yang tidak dilampirkan kerana terlalu banyak kerja perlu dilakukan kerana kerja-kerja edit akan mengambil masa yang lama, maka kami putuskan tidak letakkan bagi menjimatkan masa, namun bagi sesiapa yang mahu, kami akan emailkan file wordnya yang lengkap dengan matan arab.
[2] Tafsir Ibnu Katisr : 4/303
[3] Al-Jami’ li Ahkaam al-Quran : 4/12
[4] Ibnu Katsir berkata : “ Beliau adalah Ibnu Jama’ah seorang Qadhi dari
semua Qadhi, seorang alim, syaikh Islam, mendengar hadits dan sibuk dengan
ilmu, sehingga mendapatka ilmu yang bermacam-macam dan menjadi unggul dari
sahabat-sahabatnya. Semua itu disertai sifat kepemimpinan, kewibawaan,
kehormatan, wira’i, sabar dari gangguan orang lain, dan ia memiliki karya-karya
tinggi yang bermanfaat “. Al-Bidayah wa an-Nihayah : 14/163
[5] Iydhah ad- Dalil fi Qat’i Hujaji Ahli ath-Ta’thil : 93
[6] Al-I’tisham
: juz 1 halaman : 240, cetakan Dar al-Fikr-Maktabah lir Riyadh al-Haditsah-
Bathah-Riyadh
[7] Fath al-Bari : 3/30
[8] Ruhul Ma’ani, Juz. 6, Hal. 80. Al Maktabah Asy Syamilah
[9] Aqaawil ats-Tsiqaat : 62
[10] Ibid
No comments: