Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

» »Unlabelled » Pelurusan Ke- 11 & 12: Catitan/Bantahan Terhadap Buku Menjawab 17 Fitnah Terhadap Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah


Pelurusan kesebelas

الاستقرار على ظهر بعوضة

Allah bersemayam di atas punggung nyamuk


Kaum fanatic Ibnu Taimiyyah membantah adanya ucapan Ibnu taimiyyah tentang Allah berkehendak duduk di atas punggung nyamuk. Mereka mengatakan bahwa Ibnu Taimiyyah hanya menukil saja.


Jawaban :


Berikut nukilan Ibnu Taimiyyah :

ولو قد شاء لاستقر على ظهر بعوضة فاستقلت به بقدرته ولطف ربوبيته فكيف على عرش عظيم أكبر من السموات والأرض ، فكيف تنكر أيها النفاج أن عرشه يقله

Seandainya sesungguhnya Dia (Allah) kehendaki, nescaya Dia boleh menetap di atas belakang nyamuk, maka bersendirianlah (nyamuk) dengan kekuasaan Allah dan kelembutan Rububiyyah-Nya. Maka bagaimana pula di atas Arasy yang besar, lebih besar dari langit dan bumi?”[1]


Walaupun Ibnu Taimiyyah sedang menukil, namun ia posisinya sedang berhujjah, siapapun yang membacanya dengan akal sehat maka ia akan memahami Konteks yang dilontarkan atau dinukilkan oleh Ibnu Taimiyyah ini dalam konteks iqrar (pengakuan/dukungan) bukan untuk membantah nukilan tersebut atau tidak mensetujuinya, bahkan Ibnu Taimiyyah melontarkan ucapannya ini dalam rangka berhujjah bukan menentang. Terlebih jika kita melihat pemahamannya tentang istiwa Allah.


Walaupun menyebutkan dengan lafadz law (seandainya) namun konteksnya dalam segi perbandingan, artinya Ibnu Taimiyyah meyakini Allah maha mampu bersemayam di atas Arsy yang begitu besar jika Allah pun maha mampu bersemayam di atas punggung nyamuk seandainya Allah berkehendak.



Pelurusan kedua belas

تبديل التوراة والإنجيل

Keaslian Taurat dan Injil

Pentaqlid Ibnu Taimiyyah mengatakan :

Sebahagian pihak mendakwa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah mengatakan: “Sesungguhnya Taurat dan Injil tidak ditukar lafaznya, yang ditukar hanyalah maknanya”.
Dakwaan ini dapat diluruskan seperti berikut, bahawa para ilmuan Islam termasuk Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah telah menerangkan bahawa tidak semua lafaz dalam Taurat dan Injil yang telah ditukar oleh tokoh-tokoh agama mereka. Lafaz yang ditukar hanya sedikit manakala yang banyak ditukar ialah makna lafaz-lafaz tersebut melalui penakwilan dan penafsiran yang berbeza.

Pendapat ini bukan sesuatu yang aneh atau salah. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani[2] juga telah mengemukakannya sebagai salah satu dari empat pendapat yang ada dalam bab ini:

Berlakunya padanya sedikit (sahaja) penukaran, manakala sebahagian besar darinya masih kekal dalam keadaannya yang asal. Turut menyokong pendapat ini ialah Syaikh Taqiuddin Ibn Taimiyyah di dalam kitabnya ar-Radd al-Shahih ‘ala Man Baddala Din al-Masih.[3]

Maka nyatalah kepada kita bahawa pihak yang membuat dakwaan ini sejak awal ingin mengadakan pendustaan ke atas Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah. Padahal mereka sendiri jahil sehingga tidak tahu kedudukan sebenar perkara ini.[4]


Jawaban :


Memang para ulama berbeda pendapat tentang hal ini, namun jumhur ulama mengatakan bahwa kitab taurat dan injil yang sekarang sudah muharrafah (dirubah) baik lafadz maupun maknanya dan mereka yang berpendapat hanya maknanya saja yang dirubah, tidak ada maksud apa-apa dalam ucapannya itu, berbeda dengan Ibnu taimiyyah yang lebih condong dengan pendapat hanya maknanya saja yang dirubah, dengan bertujuan menguatkan akidah tajsimnya, sebab dalam kitab Taurat dan Injil yang sekarang banyak menyebutkan akidah tajsim dan tasybih pada Allah Ta’aala.

Ibnu Taimiyyah berkata :


ثم من هؤلاء من زعم أن كثيرا مما فى التوراة أو الانجيل باطل ليس من كلام الله ومنهم من قال بل ذلك - أي التحريف - قليل وقيل لم يحرِّف أحد شيئا من حروف الكتب وانما حرفوا معانيها بالتأويل وهذان القولان قال كلاً منهما كثير من المسلمين والصحيح القول الثالث

“ Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa kebanyakan apa yang ada dalam kitab taurat dan injil adalah bathil bukan kalam Allah, ada lagi yang mengatakan bahwa tahrif (perubahan) itu sedikit, ada lagi yang mengatakan seorang pun tidak merubah sedikit pun dari huruf-huruf kitab tersebut, mereka hanya merubah makna-maknanya saja dengan takwil. Kedua pendapat ini diucapkan juga oleh kebanyakan kaum muslimin, namun yang sahih adalah pendapat yang ketiga “.[2]


Dari sini jelas Ibnu Taimiyyah lebih condong pada pendapat bahwa kitab Taurat dan Injil semua lafadznya tidak dirubah melainkan hanya makna-maknanya saja yang dirubah dengan cara takwil.


Di kitab yang lainnya Ibnju Taimiyyah berkata :


وهو أن يقال ما في القرآن والحديث عن النبي من وصف الله بهذه الصفات التي يسميها بعض الناس تجسيما هو مثل ما في التوراة وسائر كتب الأنبياء وهذا الذي في التوراة وكتب الأنبياء ليس مما أحدثه أهل الكتاب

“ Hendaknya dikatakan bahwa apa yang ada dalam al-Quran dan hadits Nabi berupa mensifati Allah dengan sifat-sifat itu yang dituduh oleh sebagian manusia dengan tajsim, adalah sama seperti yang ada dalam kitab Taurat dan semua kitab-kitab para Nabi. Semua yang ada di dalam Taurat dan kitab-kitab para Nabi bukanlah hal baru yang diada-adakan ahlu kitab “.


Lalu apakah benar al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan empat pendapat tentang hal ini tanpa adanya komentar dari beliau ? setelah panjang lebar beliau menampilkan empat pendapat tentang hal ini, di akhir beliau berkomentar sebagai berikut :

وقد وجد في الكتابين ما لا يجوز ان يكون بهذه الألفاظ من عند الله عز وجل أصلا

“ Sungguh telah ditemukan dalam dua kitab tersebut (Taurat dan Injil) yang sama sekali tidak sepatutnya ada lafadz-lafadz seperti itu dari Allah Ta’ala “[3]


Ibnu Hajar lebih berpendapat bahwa kitab Taurat dan Injil telah dirubah baik lafadz dan maknanya, inilah pendapat jumhur ulama Ahlus sunnah.






[1] Bayan Talbis al-Jahmiyyah, jld. 1, ms. 568.

[2] Majmu al-Fatawa : 58
[3] Fathul Bari bi syarh Sahihil Bukhari : 12/437

About Asyaari Maturidi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply

Kerajaan