Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

» »Unlabelled » Pelurusan Kesembilan: Catitan/Bantahan Terhadap Buku Menjawab 17 Fitnah Terhadap Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah


Pelurusan kesembilan

الحركة

Pergerakan Bagi Allah


Syaikh Murad Syukri mengatakan :


 " Sebahagian orang masa kini ada yang membuat fitnah ke atas Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah dengan mendakwa beliau menetapkan sifat bergerak atau pergerakan (al-Harakah) bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Untuk menjawab fitnah ini, marilah kita lihat apa perkataan sebenar Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah. Dalam kitabnya Dar‘u Ta‘arudh, beliau menulis:


Para imam al-Sunnah dan al-Hadis menetapkan dua jenis sifat bagi Allah (iaitu sifat Zatiyyah dan sifat al-Ikhtiyariyyah). Inilah yang dinukil daripada mereka berkenaan pandangan mereka, seperti Harb bin al-Kirmani[1], ‘Utsman bin Sa‘id al-Darimi[2] dan selain mereka. Mereka secara nyata menyebut lafaz Pergerakan. Ini menjadi pandangan para imam al-Sunnah dan al-Hadis dahulu dan kini.

Harb al-Kirmani menyebut bahawa ini adalah pendapat orang-orang yang beliau jumpai daripada kalangan para imam al-Sunnah seperti Ahmad bin Hanbal[3], Ishaq bin Ruhuyah[4], ‘Abd Allah bin al-Zubair al-Humaidi[5] dan Sa‘id bin Manshur[6]. Berkata ‘Utsman bin Sa‘id: Pergerakan adalah sebahagian perkara lazim dalam kehidupan dan setiap yang hidup pasti bergerak. Hanya golongan al-Jahmiyyah yang menafikan perkara ini, padahal golongan al-Salaf dan para imam bersepakat akan kesesatan dan kebid‘ahan mereka.

Sementara itu sekumpulan lain daripada kalangan al-Salaf seperti Nu‘aim bin Hammad al-Khuza‘e[7], al-Bukhari[8] – pengarang kitab al-Shahih, Abu Bakar bin Khuzaimah[9] dan selain mereka seperti ‘Amr bin ‘Abd al-Barr dan semisalnya, mereka menetapkan makna bagi apa yang ditetapkan oleh kumpulan (yang menetapkan al-Harakah secara lafaz) dan mereka menyebutnya sebagai perbuatan. Namun sebahagian daripada kalangan mereka menegah dari penggunaan lafaz al-Harakah kerana ia tidak bersumber dari riwayat (hadis)[10].[1]

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah juga menulis dalam sebuah kitab yang lain:   
   
Demikianlah lafaz al-Harakah telah ditetapkan oleh sekumpulan daripada kalangan Ahl al-Sunnah wa al-Hadits, dan inilah yang disebut oleh Harb bin Ismail al-Kirmani dalam kitab al-Sunnah berdasarkan apa yang diriwayatkannya daripada beberapa orang yang ditemuinya seperti al-Humaidi dan Ahmad bin Hanbal. ……Namun ada juga sekumpulan yang menafikan (lafaz al-Harakah) seperti Abu al-Hasan al-Tamimi[11] dan Abu Sulaiman al-Khaththabi[12].


Jawaban :


Masalah ini berhubungan dengan masalah hulul hawadits sebelumnya, di mana Ibnu Taimiyyah meyakini bahwa af’aal Allah bersifat hawadits (baru) namun ia meyakini bahwa hawadits itu berdiri pada Dzat Allah Ta’alaa. Berbeda dengan keyakinan mayoritas umat muslim yang meyakini bahwa af’aal Allah tidak berdiri pada Dzat Allah melainkan berdiri pada sifat Allah yang bersifat Qadim.


Makna bergerak menurut seluruh ulama dan manusia yang berakal adalah berpindah dari satu batasan (gerakan) kepada batasan lain. Para ulama ahli haq menafikan hal semacam ini dari sifat Allah Ta’ala.


Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata :


إِنَّ اللهَ تَعَالىَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ , مَنَزَّهٌ عَنِ التَّجْسِيْمِ وَاْلاِنْتِقَالِ وَالتَّحّيُّزِ فيِ جِهَةِ وَعَنْ سَائِرِ صِفَاتِ اْلمَخْلُوْقِ

“ Sesungguhnya Allah Ta’aala tidak ada sesuatupun yang menyerupainya, Maha Suci dari tajsim (bentuk dan sifat makhluk), berpindah dan dari terbatas dengan arah dan dari semua sifat makhluk-Nya “[2]


Al Imam Abu Ja'far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:


وَتَعَالَى- أَيْ اللهُ- عَنِ اْلحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأَرْكاَنِ وَاْلأَعْضَاءِ وَاْلأَدَوَاتِ، لاَ تَحْوِيْهِ اْلجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ اْلمُبْتَدَعَاتِ
"Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi,anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut". (al-Aqidah ath-Thahawiyyah)


Pandangan ulama salaf dari kalangan imam madzhab tentang istiwa Allah subhanahu wa Ta’alaa adalah mensucikan istiwa Allah dari pemikiran manusia berupa duduk, menetap atau bersemayam dan semisalnya.   Mereka semua mengimani istiwa Allah tanpa menyerupakaannya dengan makhluk dan tanpa mensifatinya dengan sifat-sifat makhluk-Nya seperti duduk, bersemayam, berdiam dan lainnya sebagaimana dikatakan oleh al-Hafidz al-Baihaqi :

فَإِنَّ اْلحَرَكَةَ وَالسُّكُوْنَ وَاْلِاسْتِقْرَارَ مِنْ صِفَاتِ اْلأَجْسَامِ وَاللهُ تَعَالىَ أَحَدٌ صَمَدٌ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَئْ

Sesungguhnya bergerak, diam dan bersemayam adalah termasuk sifat jisim sedagkan Allah Ta’aala Dzat yang Maha Esa lagi Maha Shamad dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya “.[3]


Bahkan telah dinukil oleh pemimpin Hanabilah Abul Fadhl at-Tamimi bahwasanya imam Ahmad bin Hanbal berkata :

وَأَنْكَرَ – يَعْنيِ أَحْمَدَ- عَلىَ مَنْ يَقُوْلُ بِاْلجِسْمِ وَقَالَ إِنَّ اْلأَسْمَاءَ مَأْخُوْذَةٌ مِنَ الشَّرِيْعَةِ وَاللُّغَةِ ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذاَ اْلاِسْمِ عَلىَ ذِي طُوْلٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيْبٍ وَصُوْرَةٍ وَتَأْلِيْفٍ وَاللهُ تَعَالىَ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ 
يُسَمِّىَ جِسْمًا لِخُرُوْجِهِ عَنْ مَعْنىَ اْلجِسْمِيَّةِ وَلَمْ يَجِئْ فيِ الشَّرِيْعَةِ ذَلِكَ فَبَطَلَ

Imam Ahmad mengingkari orang yang berpendapat Allah itu berjisim dan berkata : “ Sesungguhnya nama-nama itu diambil dari Syare’at dan bahasa. Ulama ahli bahasa meletakkan nama (jisim) ini kepada sesuatu yang memiliki ukuran panjang, lebar, tinggi, bagian, gambar dan susunan sedangkan Allah keluar dari itu semua, maka tidak boleh mengatakan Allah itu jisim karena mustahilnya Allah dari makna kejisiman dan juga tidak ada sandaran dalam Sayare’at “.[4]  


Syaikh al-‘Arif billah Sayyid Ahmad ar-Rifa’i asy-Syafi’i (w 578 H) berkata :


وَطَهِّرُوْا عَقَائِدَكُمْ مِنْ تَفْسِيْرِ مَعْنىَ اْلاِسْتِوَاءِ فيِ حَقِّهِ تَعَالىَ بِاْلاِسْتِقْرَارِ، كَاِسْتِوَاءِ اْلأَجْسَامِ عَلىَ اْلأَجْسَامِ اْلمُسْتَلْزَمِ لِلْحُلُوْلِ، تَعَالىَ اللهُ عَنْ ذَلِكَ. وَإِيَّاكُمْ وَاْلقَوْلَ بِاْلفَوْقِيَّةِ وَالسُّفْلِيَّةِ وَاْلمَكاَنِ وَاْليَدِ وَاْلعَيْنِ بِالْجَارِحَةِ، وَالنُّزُوْلِ بِاْلإِتْيَانِ وَاْلاِنْتِقَالِ، فَإِنَّ كُلَّ مَا جَاءَ فيِ اْلكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِمَّا يَدُلُّ ظَاِهُرُه عَلىَ مَا ذُكِرَ فَقَدْ جَاءَ فيِ اْلكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِثْلُهُ مِمَّا يُؤَيِّدُ 
اْلمَقْصُوْدَ"
Sucikanlah akidah kalian dari menafsirkan istiwa Allah dengan istiqrar (bersemayam / menetap), sebagaimana istiwanya jisim dengan jisim yang mengharuskan hulul (menempel), Maha Luhur Allah dari yang demikian itu. Berhati-hatilah kalian dari mengatakan arah atas, bawah, tempat, tangan dan mata yang bersifat jarihah (organ tubuh) dan dari sifat turun, datang dan pindah, karena setiap teks yang datang dalam kitab Allah dan hadits yang menunjukkan literalnya atas apa yang telah disebutkan tadi, maka demikian pula telah datang dalam kitab Allah dan sunnah teks yang menguatkan apa yang dimaksud “.[5]


Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :


فَمُعْتَمَدُ سَلَفِ اْلأَئِمَّةِ وَعُلَمَاءِ السُّنَّةِ مِنَ اْلخَلَفِ أَنَّ اللهَ مُنَزَّهٌ عَنِ اْلحَرَكَةِ وَالتَّحَوُّلِ وَاْلحُلُوْلِ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ
Keyakinan yang dipegang oleh para ulama salaf dan Ahlus sunnah dari kalangan akhir adalah sesungguhnya Allah Maha Suci dari sifat gerak, berubah dan bertempat, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya “.[6]


Ibnu Taimiyyah sebenarnya mengakui adanya ijma’ bahwa Allah tidak disifati dengan bergerak, bahkan ia merasa heran dengan kesepakatan ini dan menolak adanya ijma’ dalam masalah ini. Yang lebih jelas lagi ia menolak adanya ijma’ Allah tidak disifati dengan hulul hawadits lahu (bolehnya perkara baru menempat pada Allah), dan Ibnu Taimiyyah justru meyakini sebaliknya yakni adanya ijma’ hulul hawadits dan harokah bagi Allah. Naudzu billahi min dzaali...



[1] Dar‘u Ta‘arudh, jld. 2, ms. 7.
[2] Syarh Sahih Muslim, imam Nawawi :3 / 19
[3] Al-Asmaa wa ash-Shifat, imam Baihaqi : 449
[4] I'tiqad al-Imam Ahmad : 45
[5] Al-Burhan al-Muayyad : 17-18
[6] Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-Atsqalani : 7 / 124

About Asyaari Maturidi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply

Kerajaan