Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

» » Kritikan Ilmiah Terhadap Buku DRMAZA: Bidaah Hasanah Istilah Yang Disalah Fahami Bab 2 (Bahagian III)

Kesimpulan yang premature (cacat) dari Dr Mohd Asri Zainal Abidin dalam memahami konsep bid’ah yang dipaparkan para ulama Syafi’iyyah bahkan salah paham terhadap konsep istilah bid’ah yang diutarakan asy-Syathibi. Pada bahagian ini, anda akan melihat bukti itu..



Dr Maza mengatakan :
Ketika mensyarahkan hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ.

Daripada Abi Hurairah radhiallahu 'anh, daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, baginda bersabda: “Jangan kamu mengkhususkan malam Jumaat dengan solat yang berbeza dengan malam-malam yang lain. Jangan kamu mengkhususkan hari Jumaat dengan puasa yang berbeza dengan hari-hari yang lain kecuali ia dalam (bilangan hari) puasa yang seseorang kamu berpuasa.”[24]

al-Imam al-Nawawi rahimahullah berkata: [25]

Pada hadith ini larangan yang nyata bagi mengkhususkan malam Jumaat dengan sesuatu solat yang tiada pada malam-malam yang lain dan puasa pada siangnya seperti yang telah dinyatakan. Sepakat para ulama akan kemakruhannya. Para ulama berhujah dengan hadith ini mengenai kesalahan solat bid‘ah yang dinamakan Solat al-Raghaib[26]. Semoga Allah memusnahkan pemalsu dan pereka solat ini. Ini kerana sesungguhnya ia adalah bid‘ah yang munkar daripada jenis bid‘ah yang sesat dan jahil. Padanya kemunkaran yang nyata. Sesungguhnya sejumlah para ulama telah mengarang karangan yang berharga sebegitu banyak dalam memburukkannya dan menghukum sesat orang menunaikan solat tersebut dan perekanya. Para ulama telah menyebut dalil-dalil keburukannya, kebatilannya dan kesesatan pembuatnya.

Perhatikan bahawa al-Imam al-Nawawi rahimahullah tidak menamakan solat sunat yang tidak wujud dalam hadith sebagai Bid‘ah Hasanah. Bahkan beliau menghukum sebagai sesat. Ketika ditanya mengenai solat ini (Solat al-Raghaib), al-Imam al-Nawawi pernah berkata:

Bid‘ah yang buruk lagi sangat munkar… jangan terpengaruh dengan ramai yang melakukannya di banyak negeri. Juga jangan terpengaruh disebabkan ia disebut dalam Qut al-Qulub dan Ihya ‘Ulum al-Din.[27]



Kami jawab :


Wahai doctor, anda mengklaim imam Nawawi tidak mengakui adanya bid’ah hasanah dengan nash beliau tentang sholat Raghaib, maka ini suatu argumentasi dan hujjah yang sempit dan dangkal dalam melihat konsep bid’ah yang dipahami oleh imam Nawawi sendiri serta ulama syafi’’iyyah lainnya.

Ketahuilah wahai doctor..


Pertama : Memang sholat Raghaib jumhur ulama menghukuminya bid’ah mungkarah walaupun ada sebagian ulama yang membolehkannya. Namun bukan berarti imam Nawawi, imam Izzuddin bin Abdus salam yang menghukumi bid’ah atas sholat tersebut, meniadakan pemahaman beliau terhadap adanya bid’ah yang baik atau bid’ah hasanah. Pandangan bid’ah dalam sholat Raghaib yang beliau hukumi, karena memang beliau memandang sudah layak divonis bid’ah mungkarah disebabkan menyelisihi asal dalam syare’at.

Namun sekali lagi, beliau dan ulama syafi’iyya lainnya tetap meyakini adanya bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik yang tidak menyelisihi kaidah dalam agama.


Kedua : Perlu anda ketahui, hadits itu menunjukkan bahwa larangan mengkhususkan puasa di hari jum’at dan sholat di malam Jum’at. Menurut Ibnu Bas (ulama wahabi) yang dimaksudkan adalah tidak boleh melakukan puasa atau sholat dengan meyakini kekhususan di siang atau malam Jum’at. Yakni melakukan puasa atau sholat karena hari Jum’at dengan meyakini keutamaan hari jum’at. Maka seandainya seseorang melakukan puasa atau sholat bukan karena mengkhusukan hari Jum’at, maka itu diperbolehkan. Simak fatwa Ibnu Bas berikut ini :

إذا صادف يوم الجمعة يوم عرفة فصامه المسلم وحده فلا بأس بذلك ، لأن هذا الرجل صامه لأنه يوم عرفة لا لأنه يوم جمعة ، وكذلك لو كان عليه قضاء من رمضان ولا يتسنى له فراغ إلا يوم الجمعة فإنه لا حرج عليه أن يفرده ، وذلك لأنه يوم فراغه ، وكذلك لو صادف يوم الجمعة يوم عاشوراء فإنه لا حرج عليه أن يفرده لأنه صامه لأنه يوم عاشوراء ، لا لأنه يوم الجمعة ، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( لا تَخْتَصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ ، ولا لَيْلَتها بِقِيَامٍ ) . فنص على التخصيص ، أي على أن يفعل الإنسان ذلك لخصوص يوم الجمعة أو ليلتها .

“ Jika hari Jum’at bertepatan dengan hari ‘Arafah, lalu seorang muslim berpuasa di hari itu, maka hal itu tidaklah mengapa, karena orang ini berpuasa karena hari ‘Arafah bukan karena hari Jum’at. Demikian juga seandainya dia punya hutang puasa Ramadhan, dan ia tidak memiliki waktu yang sempat kecuali hari Jum’at, maka ini pun tidak ada masalah ia berpuasa di hari Jum’at saja. Karena itu hari di mana ia sempat. Demikian juga seandainya hari Jum’at bertepatan hari ‘Asyura, maka tidak mengapa ia berpuasa di hari Jum’at itu saja, karena ia berpuasa sebab hari Asyura-nya bukan hari Jum’atnya. Oleh sebab itu Nabi bersabda “Jangan kamu mengkhususkan hari Jum’at dengan puasa, dan jangan kamu mengkhususkan malam Jum’at dengan sholat “. Beliau menash dengan takhsish (pengkhususan) maksudnya seseorang melakukan hal itu karena kekhususan hari dan malam Jum’at “.[1]


Ketiga : Apa yang dilakukan sebagian kaum awam di malam Jum’at bulan Rajab, bukanlah meniatkan sholat Raghaib melainkan mereka berniat sholat tasbih atau sholat sunnah muthlaq. Dan ini tidak masuk dalam larangan hadits di atas dan juga tidak masuk dalam kebid’ahan sholat raghaib. Dan mayoritas kami mengetahui bahwa sholat raghaib memang dilarang oleh mayoritas ulama karena dianggap bid’ah yang buruk.


Keempat : Adanya vonis bid’ah pada sholat raghaib dari para ulama Syafi’iyyah atau ulama madzhab lainnya, bukan berarti bahwa pemahaman mereka terhadap bid’ah hasanah itu tidak ada. Ini suatu penyimpulan yang premature..


Di artikel sebelumnya telah saya buktikan bahwa imam Izzuddin bin Abdissalam dan imam Nawawi melegalkan bid’ah hasanah sesuai konsep yang mereka ta’rifkan. Dan dalam artikel ini saya akan membuktikan kembali jika anda masih belum puas..


Imam Nawawi mengatakan :

قال العلماء : ويستحب نقط المصحف وشكله فانه صيانة من اللحن فيه وتصحيفه وأما كراهة الشعبي و النخعي النقط فانما كرهاه في ذلك الزمان خوفا من التغيير فيه وقد أمن ذلك اليوم فلا منع ولا يمتنع من ذلك لكونه محدثا فانه من المحدثات الحسنة فلم يمنع منه كنظائره مثل تصنيف العلم وبناء المدارس والرباطات وغير ذلك والله أعلم

“ Berkata Ulama, “ Dan dianjurkan menaruh titik dan harakat pada huruf Mushaf, karena itu menjaga dari kekeliruan makna dan maksudnya. Adapun penghukuman makruh dari asy-Sya’bi dan an-Nakhoi terhadap menaruh titik, maka sesungguhnya mereka berdua menghukumi makruh pada masa itu saja karena ditakutkan dari perubahan. Dan sungguh sekarang ini sudah aman dari hal itu, maka tidak ada halangan untuk menaruh titik pada mushaf karena statusnya adalah perkara baru dari perkara-perkara baru yang baik (bid’ah hasanah), maka hal itu tidak boleh dilarang seperti semisalnya dari mengarang bidang ilmu, membangun madrasah dan ribath, wa Allahu A’lam. “[2]


Dengan jelas imam Nawawi menakui adanya bid’ah hasanah dalam nash beliau tersebut. Bahkan beliau mengatakan bawha bid’ah atau muhdats (perkara baru) yang baik tidak boleh dilarang.


Dalam kitab yang lain disebutkan :

خاتمة : اجتماع الناس بعد العصر للدعاء كما يفعله أهل عرفة ، قال الإمام أحمد : لا بأس به ؛ وكرهه الإمام مالك ، وفعله الحسن وسبقه ابن عباس . قال النووي : وهو بدعة حسنة

“ Berkumpulnya manusia setelah asar untuk berdoa sebagaimana yang dilakukan oleh penduduk ‘Arafah menurut Imam Ahmad tidaklah mengapa. Namun Imam Malik memakruhkan hal itu. Dan Hasan Basri dan Ibn Abbas melakukan hal itu. Sementara Imam Nawawi mengatakan bahwa perbuatan itu adalah bid’ah hasanah “.[3]


Masihkah anda menutup mata dari realita kebenaran ini wahai doctor ??


Dr Maza mengatakan :
Dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (المجموع شرح المهذب), al-Imam al-Nawawi rahimahullah menyetujui tokoh-tokoh mazhab al-Syafi’i yang membantah jamuan atau kenduri sempena kematian. Katanya:

“Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai kepadanya adalah tidak diriwayatkan daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedikit pun. Ia adalah bid‘ah yang tidak disukai.”

al-Imam al-Nawawi tidak menamakan amalan penyediaan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai padanya sebagai satu Bid‘ah Hasanah. Bahkan kitab-kitab mazhab al-Syafi’i begitu kuat menentang hal ini.

Kami Jawab :


Anda kurang teliti memahami teks imam Nawawi tersebut. Cuba perhatikan :
وأما إصلاح أهل الميت طعاماً، وجمع الناس عليه، فلم ينقل فيه شيء، وهو بدعة غير مستحبة
“Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai kepadanya adalah tidak diriwayatkan daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedikit pun. Ia adalah bid‘ah yang tidak disukai.”[4]


Pertama : Ini juga merupakan bukti bahwa imam Nawawi mengakui adanya pembagian bid’ah. Karena dalam teks itu beliau menyebutnya bid’ah ghoir mustahabbah yang artinya bid’ah yang tidak dianjurkan, maka mafhumnya ada bid’ah yang mustahabbah atau mandubah (bid’ah yang dianjurkan), ini sudah sesuai dengan konsep pembagian bidah yang telah beliau jelaskan sebelumnya.


Kedua : Apa yang dikatakan oleh imam Nawawi tidak dilakukan oleh kaum muslimin yang mengadakan kenduri atau tahlilan, karena dalam fakta tradisi yang selama ini dilakukan adalah ketika ada orang meninggal, maka para tetangga baik dekat maupun jauh dating berbondong-bondong membawa aneka macam kebutuhan, seperti beras, gula, kopi, ikan, sayuran, dan semacamnya bahkan keluarga si mati menyiapkan (menyediakan) suatu tempat besar semisal baskom di halaman rumahnya untuk menampung bantuan para tetangganya yang datang berupa uang.


Kemudian bantuan-bantuan tersebut digunakan oleh keluarga si mati untuk makanan atau hidangan orang yang berkumpul untuk ta’ziyah atau tahlilan. Maka dengan demikian praktek ini tidaklah masuk dalam fatwa imam Nawawi dan jelas tidaklah terlarang karena tidak bertentangan dengan hadits-hadits masalah ini.


Dr Maza mengatakan :
al-Imam al-Sayuti (السيوطي) telah menulis kitab khas berhubung dengan bid‘ah yang berjudul al-Amr bi al-Ittiba’ wa al-Nahy ‘an al-Ibtida’ (الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع) Di dalamnya beliau menyebut maksud Bid‘ah Hasanah, katanya:

Bid‘ah Hasanah disepakati keharusan membuatnya. Juga disunatkan demi mengharapkan pahala bagi sesiapa yang baik niatnya. Iaitu setiap pembuatan bid‘ah yang bertepatan dengan kaidah-kaidah syarak tanpa menyanggahinya sedikit pun. Perbuatannya tidak menyebabkan larangan syarak. Ini seperti membina mimbar, benteng pertahanan, sekolah, rumah (singgahan) musafir dan sebagainya yang terdiri dari jenis-jenis kebaikan yang tidak ada pada zaman awal Islam. Ini kerana ia bertepatan dengan apa yang dibawa oleh syariat yang memerintahkan membuat yang ma’ruf, tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.[31]

Seperti yang telah dinyatakan sebelum ini, apa yang disebut di atas tidak sepatutnya dinamakan bid‘ah sama sekali. Bahkan ia termasuk dalam perkara-perkara yang disuruh dalam agama. Namun persoalan yang lebih penting adalah, apakah al-Imam al-Sayuti rahimahullah akan menganggap sesetengah perbuatan yang dianggap Bid‘ah Hasanah pada hari ini sebagai satu Bid‘ah Hasanah? Untuk memastikan hal ini marilah kita lihat beberapa contoh:

Kami jawab :


Ini hanya persepsi sempit anda saja yang begitu sulit memahami perbdaan lafaz dalam ta’rif bid’ah oleh para ulama mayoritas dan ta’rif bid’ah dari asy-Syathibi dan para pendukungnya.


Pada artikel bahagian pertama dan kedua telah saya jelaskan dengan detail, gambling dan komprehensip tentang ta’rif bid’ah di kalangan ulama. Perbedaan ta’rif asy-Syathibi dan mayoritas ulama adalah hanyalah terjadi pada lafaz atau I stilah saja, adapun makna dan subtansinya sama dan tidak berbeda. Yang perlu anda ingat dan pahami dengan benar adalah bahwa imam asy-Syathibi setuju dan mengakui adanya perkara baru yang berlandaskan syare’at yang boleh di amalkan, entah itu berhukum sunnah, wajib, atau mubah semua ini adalah baik (hasanah).


Cuba anda renungkan ucapan asy-Syathibi berikut ini :

وصار من القائلين بالمصالح المرسلة، وسماها بدعاً في اللفظ، كما سمى عمر رضي الله عنه الجمع في قيام رمضان في المسجد بدعة

“ Dan ia (Ibnu Abdissalam) termasuk orang yang mengatakan dengan masalah mursalah dan ia menamakannya bid’ah secara bahasa, sebagaimana Umar radhiallahu ‘anhu menamakan kumpulan dalam sholat tarawih di bulan Ramadhan dengan bid’ah “[5]


Perhatikan dengan baik, beliau mengatakan bahwa apa yang disebut sebagai bid’ah yang terpuji (baik) oleh imam Izzuddin bin Abdus Salam adalah Maslahah Mursalah atau Bid’ah dalam segi lafaz (bahasa) . Ini menunjukkan bahwa beliau menerima perkara baru yang berlandaskan syare’at. Sebagaimana pemahaman kami selama ini, bezanya kami menyebutnya bid’ah hasanah sedangkan asy-Syathibi menyebutnya sebagai Maslahah Mursalah atau Bid’ah lughatan.


Dr Maza mengatakan :

Sebagaimana al-Imam al-Nawawi dan lain-lain tokoh, al-Imam al-Sayuti turut menolak solat sunat Raghaib. Beliau berkata:[32]

Ketahuilah olehmu, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya membesarkan hari tersebut dan malamnya (hari dan malam Jumaat pertama bulan Rejab) hanya perkara baru yang dibuat dalam Islam selepas 400 tahun. Diriwayatkan mengenainya hadith yang palsu dengan sepakat ulama yang mengandungi kelebihan berpuasa pada siangnya dan bersolat pada malamnya. Mereka menamakan solat Raghaib … Ketahuilah sesungguhnya solat yang bid‘ah ini menyanggahi kaedah-kaedah Islam dalam beberapa bentuk.

Perhatikan bahawa al-Imam al-Sayuti rahimahullah tidak menamakan solat ini sebagai Bid‘ah Hasanah sekalipun ia disebut dalam beberapa kitab seperti Ihya ‘Ulum al-Din. Jika setiap yang dianggap baik dilabelkan sebagai Bid‘ah Hasanah maka solat ini juga patut dianggap Bid‘ah Hasanah. Namun mengada-adakan perkara baru dalam cara ibadah bukanlah Bid‘ah Hasanah.

Kami jawab :


Jawaban kami atas ini sama dengan jawaban kami sebelumnya bahwa adanya vonis bid’ah pada sholat raghaib dari para ulama Syafi’iyyah atau ulama madzhab lainnya, bukan berarti bahwa pemahaman mereka terhadap bid’ah hasanah itu tidak ada. Ini suatu penyimpulan yang premature..


Dar Maza mengatakan :
Berkata al-Imam al-Sayuti rahimahullah ketika membantah amalan Nisfu Sya’ban :

Apa yang memuliakan bulan Sya’ban ialah amalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada kebanyakan harinya. Hadith-hadith Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan athar para sahabat yang diriwayatkan menunjukkan ia malam yang ada kelebihan, (namun) tiada padanya solat yang khusus.

Jelas bahawa solat sunat khusus bersempena Nisfu Sya’ban tidak dianggap oleh al-Imam al-Sayuti sebagai Bid‘ah Hasanah.


Kami jawab :


Jawaban kami atas ini sama dengan jawaban kami sebelumnya bahwa adanya vonis bid’ah pada sholat di malam Nishfu Sya’ban dari para ulama Syafi’iyyah atau ulama madzhab lainnya, bukan berarti bahwa pemahaman mereka terhadap bid’ah hasanah itu tidak ada. Ini suatu penyimpulan yang premature..


Wahai doctor, satu fakta dan realita yang saya akan ketengahkan ke wajah anda adalah bagaimana dengan fatwa Ibnu Taimiyyah yang mengatakan bahwa ada sebagian ulam salaf yang mengkhususkan sholat di malam Nishfu Sya’ban, bagaimana pendapat anda ?? perhatikan pengakuan Ibnu Taimiyyah berikut :


وليلة النصف من شعبان قد روي في فضلها من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي أنّها مفضلة، وإن من السلف من كان يخصها بالصلاة فيها ، وصوم شهر شعبان قد جاءت فيه أحاديث صحيحة

“ Dan malam Nisfhu Sya’ban maka sungguh telah diriwayatkan tentang keutamaannya dari hadits dan atsar marfu’ yang menjelaskan keutamaannya, dan sesungguhnya dari ulama salaf ada yang mengkhususkan malam itu dengan sholat, dan puasa bulan Sya’ban telah dating hadits-hadits sahihnya “.[6]


Dalam kitab Majmu’ beliau mengatakan :

إذا صلى الإنسان ليلة النصف وحده أو في جماعة خاصّة كما كان يفعل طوائف من السلف فهو حسن
“ Jika seseorang melakukan sholat di malam Nishfu Sya’ban sendirian atau berjama’ah khusus, sebagaimana dilakukan oleh sekelompok ulama salaf, maka itu adalah baik “. [7]


Ibnu Utsaimin juga mengatakan :

ومن هذا الباب ليلة النصف من شعبان روي في فضلها أحاديث ومن السلف من يخصها بالقيام ومن العلماء من السلف وغيرهم من أنكر فضلها وطعن في الأحاديث الواردة فيها، لكن الذي عليه كثير من أهل العلم أو أكثرهم على تفضيلها (مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين: 7| 156)

“ Dari bab ini, malam Nisfhu Sya’ban diriwayatkan tentang keutamaanya beberapa hadits dan di antara ulama salaf ada yang mengkhususkannya dengan sholat. Dan juga dari ulama salaf dan selain mereka ada yang mencurigai hadits-hadits yang dating di dalamnya, akan tetapi yang dipegang mayoritas ulama adalah adanya keutamaan Nisfhu Sya’ban “[8]


Wahai doctor, apakah Ibnu Tamiyyah dan Ibnu Utsaimin anda akan katakan bahwa mereka berdua mengakui atau menetapkan adanya bid’ah hasanah hanya karena anda melihat pandangannya dalam masalah ini ??


Salah satu bukti imam Suyuthi pecinta bid’ah hasanah adalah :

Dalam kitab Al-Hawi Lil Fatawi, Imam Suyuthi menukil kalam Ibn Hajar, bahwa maulid Nabi adalah bid’ah hasanah.

وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل أحمد بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه : أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها ، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة

“ Syekh Islam Ibn Hajar ditanya mengenai amalan maulid Nabi. Beliau menjawab : “ Pada dasarnya Maulid Nabi adalah bid’ah. Tidak ada riwayat mengenai mauled dari salaf sholih sejak kurun tiga hijriyah akan tetapi mauled memuat kebaikan dan keburukan. Barang siapa menjaga amalan baik saat mengamalkan mauled dan menjauhi hal sebaliknya, maka mauled adalah bid’ah hasanah “.[9]


Dr Maza mengatakan :
Berkata al-Imam al-Sayuti rahimahullah berkenaan melafazkan niat sebelum solat:[34]

… Daripada bid‘ah (yang saiyyah) itu adalah, was-was dalam niat solat. Itu bukan daripada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat baginda. Mereka tidak pernah melafaz sedikit pun niat solat melainkan hanya (terus) takbir. Allah telah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya bagi kamu pada Rasulullah itu contoh yang baik.” [al-Ahzab 33:21]

Walaupun sesetengah pihak ada yang berpendapat menyebut lafaz niat dalam solat sebagai Bid‘ah Hasanah, namun tokoh mazhab al-Syafi’i yang terkenal ini tidak menganggapnya sedemikian. Ini kerana ia adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mahupun para sahabat baginda.


Kami jawab :

 Pertama : Kitab al-Amr biil ittiba’ wa an-Nahyu ‘anil ibtida’, penisbatannya kepada imam Suyuthi masih diragukan sebagian ulama, karena banyak sekali pertentangan dengan kitab beliau yang masyhur dan ma’ruf yaitu al-Haawi lil Fataawi dan kitab-kitab beliau lainnya yang sudah masyhur. Contoh, dalam kitab al-Amr biil ittiba’ wa an-Nahyu ‘anil ibtida’, disebutkan bahwa mengangkat kedua tangan ketika berdoa itu bid’ah. Padahal di kitab-kitab beliau lainnya mengatakan itu sunnah bahkan beliau sendiri sampai mengarang sebuah kitab berjudul “ Fadhdhul Wi’aa fi Ahaditsi Raf’il Yadain Fiddua’. Dalam muqaddimah kitab ini beliau mengatakan :

وبعد : فقد بلغنى عن بعض انه قال ليس فى رفع اليدين فى الدعاء حديث صحيح فعجبت بذلك فان الاحاديث غير مشهورة بل متواترة كثيرة المسالك جمعتها في هذا الجزء لينتفع بعا من يقف عليها ولا يتكلم
في السنة النبوية بغير علم من لم تصل رتبته عليها

“ wa ba’du : sungguh telah sampai padaku dari sebagian orang yang mengatakan bahwa di dalam mengangkat kedua tangan dalam beroda itu tidak ada hadits sahihnya, aku heran padanya dengan pernyataannya itu, karena sesungguhnya hadits-hadits bukan masyhur bahkan hdits mutawatir yang sangat banyak pandangannya yang telah aku kumpulkan dalam bagian kitab ini agar menjadi manfaat bagi orang yang mempelajarinya dan tidak berkata tentang sunnah Nabi tanpa ilmu orang yang telah mencapai derajatnya untuk itu “.


Kedua : pemahman beliau tentang bid’ah hasanah tidaklah dilanggranya, hanya Dr Maza dan kaum wahabi saja yang tidak bisa menangkap konsep yang diutarakan imam Suyuthi tentang bid’ah hasanah. Di antara bukti beliau melegalisir bid’ah hasanah sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya yaitu melegalkan maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau sampai mengarang sebuah Risalah untuk membela Maulid Nabi shallahi ‘alaihi wa sallam yang beliau kasih judul “ Husnil Maqshid fii ‘Amalil Maulid “


Ketiga : Masalah melafazkan niat, ulama memang berbeda pendapat, ada yang menganjrukannya, ada yang memakruhkannya bahkan ada yang mewajibkannya. Imam Syafi’i termasuk yang melakukan lafaz dengan niat :

Ibnu al-Muqri berkata :

أخبرنا ابن خزيمة، حدثنا الربيع، قال: كان الشافعي إذا أراد أن يدخل في الصلاة، قال: "بسم الله، موجها لبيت الله، مؤديا لفرض الله، الله أكبر

“ Telah mengabarkan pada kami Ibnu Khuzaimah, telah menceritakan padak kami ar-Rabi’, ia berkata, “ Imam Syafi’i jika hendak memasuki sholat, maka beliau mengucapkan : “ Bsimillah, aku menghadap ke baitullah, melaksanakan kewajiban Allah, Allahu Akbar “.[10]


Apakah anda akan mengatakan imam Syaf’i telah melakukan bid’ah dholalah dan sesat wahai doctor ??


Dr Maza mengatakan :
Kesimpulan Perbincangan

Perbincangan kita di atas secara jelas menunjukkan telah berlaku salah faham di kalangan masyarakat, termasuk di kalangan para penceramah dan agamawan, terhadap istilah Bid‘ah Hasanah yang digunakan oleh para tokoh mazhab al-Syafi’i rahimahumullah. Apa yang dimaksudkan oleh para tokoh tersebut adalah jauh berbeza. Oleh itu adalah wajar untuk merujuk semula kepada apa yang ditulis oleh tokoh-tokoh ini.



Kami jawab :


Wahai doctor, andalah yang tanpa sadar telah salah memahami nash para ulama Syafi’iyyah tentang konsep bid’ah hasanah yang mereka jelaskan, bahkan anda telah salah memahami nash asy-Syathibi ketika menjelaskan bid’ah dalam segi bahasa sebagaiman telah kami buktikan secara detail, objkektif dan ilmiyyah. Maka tampaklah kecerobohan anda dalam memberikan kesimpulan yang premature ini..


Bersambung ke Bab 3 bahagian I …






[1] Majmu’ Fatawa Ibn Bas : 15/414
[2] At-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran : 107
[3] Hasyiah al-Bujairami ‘ala al-Khathib : 2/226
[4] al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, jld. 5, m.s. 320.
[5] al-I’tishom, m.s. 145-146
[6] Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim : 302
[7] Majmu’ al-Fatawa : 23/231
[8] Majmu Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin : 7/156
[9] Al-Hawi Lil Fatawi Juz 1 hlm 188
[10] Al-Mu’jam : 336

About Asyaari Maturidi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply

Kerajaan